Pernah baca bukunya Kak Afifah Afra Amatullah?? Judulnya Bulan Mati di Javasche Orange. Mengisahkan tentang pergulatan idealisme pra kemerdekaan. Islamisme, komunisme, dan imprealisme digambarkan sangat kental. Namun bukan sisi itu yang ingin saya tarik hikmah. Melainkan kisah Cinta dua umat manusia yang Cintanya tak biasa. Sejak kecil mereka sudah selalu bersama, bahkan digambarkan seakan mereka bersaudara(adik-kakak). Hamzah dan Rahmah. Mereka hidup dalam lingkungan pesantren Al Ikhwah, fikrah betul-betul ditanam kuat oleh penulis dalam novel ini. Namun lagi-lagi bukan itu yang saya ingin tonjolkan. Melainkan kisah Cinta yang membuat siklus air berantakan, evaporasi air yang ada di sumber-sumbernya naik ke atmosfer menjadi awan namun justeru tumpah-ruah di pipi saya, tepat pada halaman-halaman terakhir buku ini. Tak berhenti hingga penghujung buku ini kutamatkan.
Tak ada aral yang begitu besar menghalangi dua hati itu bertaut. Sebab mertua yakni ayah dari Rahmah merupakan Paman sekaligus guru dari Hamzah. Restu sudah lama dia kantongi. Namun banyak hal yang tak berjalan mulus, disinilah Allah menggambarkan ujian kesabaranNya. Boleh saja kita berencana, lagi-lagi Allah-lah arsitektur perencana terbaik. Sang mertua ditangkap oleh KNIL dan dijatuhkan hukuman gantung. Namun itu tak menghalangi menyatunya dua hati, pernikahan tetap dilangsungkan. Jadilah mereka sepasang kekasih yang separuh berbahagia, separuh bahkan sepenuhnya cemas akan Sang Ayah.
Maka sudah diputuskan, hanya beberapa jam mereka memadu kasih, belum turun matahari di ufuk barat, Hamzah dan Mahmud Ali Syah(Turki-Inggris, mutarabbi dari Hamzah, sempat terlena oleh duniawi namun kita teguh pada jihad fi sabilillah) memutuskan pergi untuk menyelamatkan sang guru. .Rahmah mencium tangan suaminya takzim. Kalimatnya menyadarkan sesiapa tentang hakikat Cinta sesungguhnya.
"Berangkatlah dengan kesungguhan hingga kau berhasil atau harus syahid karenanya, Kak Hamzah! Jangan pedulikan saya. Bidadari surga jauh lebih cantik dibanding sekadar mahluk hina bernama Rahmah ini . . "
Jika dihadapkan situasi seperti ini, mungkin saja kita urung, baru saja menyempurnakan separuh agama lantas maju berjihad. Namun puncaknya bukan pada perpisahan ini. Mereka kembali bersitatap saat yang lebih dulu tersungkur justeru Rahmah, roboh dengan darah yang membasahi jilbabnya. Dengan sisa nyawa, mereka menikmati waktunya.
"Maaf, Kak . . saya belum sempat membahagiakan kakak"
"Kak Hamzah . . keindahan sejati adalah tatkala kita menemukan kesyahidan. Itu berarti, kita telah mempersembahkan jiwa kita, cinta kita tertinggi untuk Allah. Jangan kira para syuhada itu mati, Kak. . Mereka hidup dan mendapat Rezeki. . ."
"Maaf, Kak . . saya belum sempat membahagiakan kakak"
"Kak Hamzah . . keindahan sejati adalah tatkala kita menemukan kesyahidan. Itu berarti, kita telah mempersembahkan jiwa kita, cinta kita tertinggi untuk Allah. Jangan kira para syuhada itu mati, Kak. . Mereka hidup dan mendapat Rezeki. . ."
Ya, Allah . Indah betul pribadi mereka. Hamzah mengiringi napas terakhir istrinya dengan melantunkan surat At-taubah dan syahadat. Mereka berpisah dunia saat malam belum juga datang pada pernikahan hari pertama mereka. Tak lama kemudian, Hamzah pun menemui ajalnya. Syahid harga mati. Al mautu fii sabilillah asma amaninah. Mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi.
Sungguh indah kisah Cinta yang sumbernya dari Allah. Tak akan pernah putus bahkan hingga ajal memisahkan jasad. Malam pertama yang indah di surgaNya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar