Rabu, 23 Oktober 2013

Negeri Hijau

Potret Perjalanan- Sarapan di Alam

Merenungi NikmatNya
            Tak ada yang bisa ditaklukkan atas kuasaNya. Bahkan jika gunung berhasil kita taklukkan, Allah sendiri yang menaklukkan kita karena selalu ada yang lebih tinggi. Dari sini kita menyadari banyak hal terkait penciptaan. Betul saja jika beban Rasul sangat berat, jika ditimpakan kepada gunung maka hancur lebur gunung karena tak sanggup menerima amanah dakwah Islam ini.
           Dari perjalanan yang saya anggap "spritual" ini saya takjub atas beberapa hal, terutama atas negeri di atas awan ini. Allah telah menciptakannya sedemikian rupa sehingga tampak luar biasa megah. Masya Allah. Sungguh tak ada yang Maha kecuali Engkau.

Rabu, 02 Oktober 2013

Mimpi yang terlupa




Negeri ini tak seperti mimpi-mimpi mereka yang bergerak saat yg lain terdiam, yang diam berpikir saat yg lain terlelap, yg baru terlelap disisa-sisa kantuk yg menguap dan yang sudah terbiasa menyelinap diantara nederlaner2 serakah. Dzikirnya tak terputus, ikhtiarnya seikhlas langkah senyapnya, ibadahnya tak ujub, tak terhitung, doanya menggema di relung-relung jiwanya, lalu setiap kata yang terucap menyeru kepada jihad atas kemerdekaan bangsa ini.
Maafkanlah kami yang tak mampu menjaga mimpi kalian. 
Maafkan pemimpin kami yang mungkin lupa akan mimpi kalian.

Maafkan kekhilafan dan kealpaan kami.

Selasa, 01 Oktober 2013

Senja Esok


Senja, selalu begitu kah?
kamu pun begitu kah?
menyakiti hati sesiapa yang mencintaimu
Terlalu pedih, perih . .
Saat semburat orange-kuningmu merekah
Spekterum warna yang megah
Saat garis laut memotong suryamu
Paduan warna samudera, unik
Kamu melenakan setiap jiwa
Melemahkan setiap hati yang sudah telanjur sakit
Pun Aku, pengagum yang mengharapmu !!

Lamat-lamat kutelan ludah pahit
sudah biasa katamu . .
Ini tak seperti duniamu
Berselang beberapa menit lalu menghilang
datang besok pun begitu
datang lusa pun begitu
datang membilang hari, minggu, bulan
Bahkan tahun-tahun berganti
tetap seperti itu,
Lalu Aku yang setia menatapmu
Menunggu seuntai kata.
walau berbisik
Mohon temani Aku
dalam kegamangan yang tak berkesudah
Walau hanya isyarat hangat ronamu

Senja, engkau tetap sama kan?
Di posisi tatapanku dan tatapannya?
Kami memandangmu berjauhan, kan?
Mohon pantulkan pilu ini padanya
lewat bola mata yang telanjur basah
Sampaikan bersama hangatnya cintamu
Sampaikan kepadanya
bahwa tak ada sakit yang tak biasa
Sebiasa senja-malammu .

Senja, sepertimu yang hanya sekejap
memamerkan persona lalu tenggelam
pun Dia. Angkuhnya menebar cinta
Lalu pergi menghilang
Sampaikan kekecewaan hati ini
dalam hangat-menyengatnya pancaranmu.
Sengat dia pelan
Bisiki rindu ini sendu
Dari tempat berpijak ini Aku menunggunya
Entah sampai senja keberapa
Mungkin senja esok
Tak berbilang waktu.