Selasa, 31 Desember 2013

Sajak Satu Januari



Heyy, bangun !!!!
Semalam kau menunggu kehadiranku
Detik pertamaku
Begitu antusias menemuiku . .
Lalu kini ??

Bangunn kataku !!!
Baru semalam kau sangat mendambaku
Menaruh cintamu
Menaruh segala harapan untukku
Sekarang ??

Buka matamuu !!!
Baru semalam kau menyambutku
Merah biru kuning hijau hiasi hitamnya langit malam
Memecah keheningan, merusak ketenangan mereka
Yang bermunajat dan bermuhasabah
Dan kamu ???

Banguunnn !!!
Sampai kapan engkau akan seperti ini ?
Begitu semangat di detik pertamaku
Dan kini ?? Kau kembali sama . .
Seperti satu januari silam
Seluruh satu januari lampau
Hanya  mencintai detik-detik awalku
Lalu mencampakanku . .
Tak ingin melihatku . .






Sabtu, 21 Desember 2013

Sepucuk Surat untuk MR



   

Aku tak tahu harus memulai dari mana yang pasti engkaulah kontraktor yang membangun kehangatan ini. Sejak pertama kali kami melihatmu, dengan senyuman khasmu engkau memenuhi mata-mata kami, raut wajahmu yang tulus, keikhlasan kakimu dalam melangkah, engkau kemudian masuk ke dalam kehidupan kami, memulai mengisi hari-hari kami dengan pribadimu yang sungguh menawan.
            Sungguh, sejak pada pandangan pertama kami denganmu, sejak pertama kali kita melingkar cinta itu sudah ada akh. Sejak pertemuan pertama kita dalam tarbiyah ini, sejak kita duduk bersama untuk pertama kalinya, aku merasakan getaran cinta itu, aku merasa sesuatu yang hebat dan menakjubkan menghampiri kehidupan kami.
            Akhi, sungguh sepanjang perjalanan dakwah ini, sepanjang kebersamaan kita, bagiku hanya satu hal yang engkau ajarkan pada kami, satu hal yang begitu kuat dan mewakili segalanya. Adalah tentang cinta, yaa . . hakikat tentang cinta yang kau tuturkan setiap saat, tentang kedahsyatan cinta yang mengisi hati-hati labil kami, tentang kekuatan cinta yang melebihi ganasnya ombak, kekuatan cinta yang melebihi guncangan gempa, kekuatan cinta yang melumpuhkan panasnya api, dinginnya air. Kau yang mengenalkan lingkaran cinta kepada kami.

            Bahunya gemetaran cukup hebat, sesekali iya menyeka air matanya, namun lebih banyak bulir-bulir yang berjatuhan, ia melanjutkan tulisannya . .
            Akhi engkau mengajarkan seluruhnya tentang sucinya cinta. Tentang bagaimana mencintai Allah dengan sepenuh hati. Tentang mencintai Rasulullah dengan menghidupkan sunnah-sunnahnya. Tentang bagaimana mencintai orang tua kami dengan semangat birrulwalidain. Akh, aku sungguh tersentuh saat engkau mengajarkan kami untuk mencintai amal-amal yaumiah. Untuk mencintai shalat berjamaah, mencintai Al- Qur'an, mencintai puasa senin-kamis, mencintai dengan sebenar-benarnya cinta terhadap dakwah. Engkau pula yang menyadarkan kami untuk cinta kepada tarbiyah dan mengabdikan diri di dalamnya.
            Akh, memang di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi yang kurasa engkau begitu cepat pergi walau tak begitu jauh, namun kesibukanlah yang membuat kita sulit bersua. Mungkin surat ini mewakili peasaan cinta dan bangganya kami kepadamu. Terima kasih banyak atas tarbiyah cinta yang kau ajarkan, teruslah menjadi penghubung lingkaran-lingkaran, teruslah menjadi penerang di dalamnya.
Untukmu murobbi nomor satu, dari mutarabbimu yang labil.

Rabu, 23 Oktober 2013

Negeri Hijau

Potret Perjalanan- Sarapan di Alam

Merenungi NikmatNya
            Tak ada yang bisa ditaklukkan atas kuasaNya. Bahkan jika gunung berhasil kita taklukkan, Allah sendiri yang menaklukkan kita karena selalu ada yang lebih tinggi. Dari sini kita menyadari banyak hal terkait penciptaan. Betul saja jika beban Rasul sangat berat, jika ditimpakan kepada gunung maka hancur lebur gunung karena tak sanggup menerima amanah dakwah Islam ini.
           Dari perjalanan yang saya anggap "spritual" ini saya takjub atas beberapa hal, terutama atas negeri di atas awan ini. Allah telah menciptakannya sedemikian rupa sehingga tampak luar biasa megah. Masya Allah. Sungguh tak ada yang Maha kecuali Engkau.

Rabu, 02 Oktober 2013

Mimpi yang terlupa




Negeri ini tak seperti mimpi-mimpi mereka yang bergerak saat yg lain terdiam, yang diam berpikir saat yg lain terlelap, yg baru terlelap disisa-sisa kantuk yg menguap dan yang sudah terbiasa menyelinap diantara nederlaner2 serakah. Dzikirnya tak terputus, ikhtiarnya seikhlas langkah senyapnya, ibadahnya tak ujub, tak terhitung, doanya menggema di relung-relung jiwanya, lalu setiap kata yang terucap menyeru kepada jihad atas kemerdekaan bangsa ini.
Maafkanlah kami yang tak mampu menjaga mimpi kalian. 
Maafkan pemimpin kami yang mungkin lupa akan mimpi kalian.

Maafkan kekhilafan dan kealpaan kami.

Selasa, 01 Oktober 2013

Senja Esok


Senja, selalu begitu kah?
kamu pun begitu kah?
menyakiti hati sesiapa yang mencintaimu
Terlalu pedih, perih . .
Saat semburat orange-kuningmu merekah
Spekterum warna yang megah
Saat garis laut memotong suryamu
Paduan warna samudera, unik
Kamu melenakan setiap jiwa
Melemahkan setiap hati yang sudah telanjur sakit
Pun Aku, pengagum yang mengharapmu !!

Lamat-lamat kutelan ludah pahit
sudah biasa katamu . .
Ini tak seperti duniamu
Berselang beberapa menit lalu menghilang
datang besok pun begitu
datang lusa pun begitu
datang membilang hari, minggu, bulan
Bahkan tahun-tahun berganti
tetap seperti itu,
Lalu Aku yang setia menatapmu
Menunggu seuntai kata.
walau berbisik
Mohon temani Aku
dalam kegamangan yang tak berkesudah
Walau hanya isyarat hangat ronamu

Senja, engkau tetap sama kan?
Di posisi tatapanku dan tatapannya?
Kami memandangmu berjauhan, kan?
Mohon pantulkan pilu ini padanya
lewat bola mata yang telanjur basah
Sampaikan bersama hangatnya cintamu
Sampaikan kepadanya
bahwa tak ada sakit yang tak biasa
Sebiasa senja-malammu .

Senja, sepertimu yang hanya sekejap
memamerkan persona lalu tenggelam
pun Dia. Angkuhnya menebar cinta
Lalu pergi menghilang
Sampaikan kekecewaan hati ini
dalam hangat-menyengatnya pancaranmu.
Sengat dia pelan
Bisiki rindu ini sendu
Dari tempat berpijak ini Aku menunggunya
Entah sampai senja keberapa
Mungkin senja esok
Tak berbilang waktu. 

Sabtu, 21 September 2013

Palestinaku



Tidak harus menjadi seorang muslim untuk ikut merasakan duka palestina. Cukup menjadi seorang manusia. Karena yang terjadi di sana merupakan tragedi kemanusiaan yg terkeji yg pernah ada. Kini, yg tersisa dr perang ada banyak. Duka tak terbendung lagi, merelakan ribuan bahkan ratusan ribu mayat bukan hal yg mudah. Tapi lebih dr itu mereka harus bertahan dlm keterpurukan. Kebutuhan akan pakaian layak, air bersih, makanan, kesehatan dan sekolah untuk generasi harapan palestina. Bantu mereka dengan donasi terbaik kita smile emotikon

Rindu-rindu


Dan diantara rindu-rindu yang menyayat hati,
ada rindu yang tulus selalu membisiki
berharap dapat bersua
menyelami keberkahannya
menyusuri keindahannya
lalu mendapatkan manisnya
buah pertemuan
menepis rindu-rindu

Dialah bulan yang kucinta
Ramadhan . .
Saat riuh orang berkata
"Bulan yang hangat telah datang"
Aku pun kegirangan
hati ini berdebar-debar
bukankah ini yang kurindukan
sebelas bulan lamanya

Dialah Ramadhan Mubarak
Diantara bulan-bulan
yang Allah rekomendasi
agar hambanya mencurahkan segenap cinta
waktu, diri, komitmen dan harta
Gugup di antara gempita
mampukah diri ini
menjamu Ramadhan dengan maksimal

Dialah Ramadhan yang kunanti
walau masih menghitung hari
untuk memeluknya dengan erat
agar nanti Dia tak kecewa
jauh hari bersiap diri
jauhi silap dekat pada Al-Quran
jauhi ghibah dekat pada Dhuha
jauhi maksiat dekat pada Shalat

Semoga Allah mempertemukan kita.

Lirik Lagu Maher Zain - So Soon

Every time I close my eyes I see you in front of me
I still can hear your voice calling out my name 
And I remember all the stories you told me 
I miss the time you were around (x2)
But I'm so grateful for every moment 
I spent with you'Cause 
I know life won't last forever

Chorus: 
You went so soon, so soon 
You left so soon, so soon
I have to move on 'cause 
I know it's been too long
I've got to stop the tears, keep my faith and be strong 
I'll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when 
I wake up you are goneGone so soon

Night and day, I still feel you are close to me 
And I remember you in every prayer that I make  
Every single day may you be shaded by His mercy
But life is not the same, and it will never be the same 
But I'm so thankful for every memory I shared with you
'Cause I know this life is not forever

CHORUS
There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn't help asking: “Why?” 
But I got through all the pain when I truly accepted 
That to God we all belong, and to Him we'll return, ooh

CHORUS
Lyrics: Bara Kherigi, Maher Zain & Mohamed El-KazazMelody & Arrangement: Maher ZainMixing: Ronny Lahti

Berapa Lama?



Berapa lama engkau akan berada di jalan ini,
jika yg kau ikuti adalah tokoh,
jika yg kau cari adalah wanita,
jika yg membuatmu betah adalah sosok,
jika kau bergantung pada makhluk yg fana.
Berapa lama? Lalu kamu akan lari dari jalan para pejuang ini.
Ketika sang tokoh mulai khilaf,
Ketika wanitamu menjauh,
Ketika sosok-sosok itu mulai ingkar
Ketika mereka yang kau ikuti mulai bubar.
Hari ini juga, perbaharui niat.
Hari ini juga, hilangkan semua ketergantungan.
Hari ini juga, gantungkan semuanya hanya pada Allah.
Sebab Dialah yg kekal, yg akan membalas semua jerihmu, juga payahmu.
Dan semoga hanya maut yg memisahkan kita dari jalan ini.
Dan semoga hanya maut yang membatasi kita dari dakwah ini.
Dan semoga hanya maut yg membuat kita berhenti, beristirahat.
Dari semua lelah ini, letih ini, hingga Allah membalas semuanya dengan JannahNya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jumat, 20 September 2013

Surat Muhammad Beltaji pada Asmaa, Putrinya yang Syahid di Rabaa Al Adawiya

Putriku tercinta dan guruku yang mulia.. Asma al-Beltaji, aku tidak mengucapkan selamat tinggal padamu, tapi kukatakan bahwa besok kita akan bertemu lagi.
Kau telah hidup dengan kepala terangkat tinggi, berjuang melawan tirani dan belenggu serta mencintai kemerdekaan. Kau telah hidup sebagai seseorang yang diam-diam mencari cakrawala baru untuk membangun kembali bangsa ini, memastikan tempatnya di tengah-tengah peradaban.
Kau tidak pernah dijajah oleh perkara sia-sia yang menyibukkan para remaja se usiamu. Meskipun pendidikan tidak mampu memenuhi aspirasi dan ketertarikan mu, kau selalu yang terbaik di kelas
Aku tidak punya cukup waktu untuk membersamaimu dalam hidup singkat ini, terutama karena waktuku tidak memungkinkan untuk menikmati kebersamaan denganmu. Terakhir kali kita duduk bersama di Rabaa Al Adawiya kau berkata padaku, “Bahkan ketika Ayah bersama kami, Ayah tetap sibuk” dan kukatakan “Tampaknya bahwa kehidupan ini tidak akan cukup untuk menikmati setiap kebersamaan kita, jadi aku berdoa kepada Tuhan agar kita menikmatinya kelak di surga.”
Dua malam sebelum kau dibunuh, aku melihatmu dalam mimpiku dengan gaun pengantin putih dan kau terlihat begitu cantik.  Ketika kau berbaring di sampingku aku bertanya, “Apakah ini malam pernikahanmu?” kau menjawab, “Waktunya adalah di sore hari Ayah, bukan malam”. Ketika mereka bilang kau dibunuh pada Rabu sore aku mengerti apa yang kau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai martir. Kau memperkuat keyakinan ku bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada pada kebatilan.
Aku merasa sangat terluka karena tidak berada di perpisahan terakhirmu dan tidak melihatmu untuk terakhir kalinya, tidak mencium kening mu, dan memiliki kehormatan untuk memimpin shalat jenazah mu. Aku bersumpah demi Allah sayang, aku tidak takut kehilangan nyawaku atau penjara yang tidak adil, tapi aku ingin membawa pesan yang kau telah berkorban nyawa untuk-Nya, untuk menyelesaikan revolusi, untuk menang dan mencapai tujuannya.
Jiwamu telah dimuliakan dengan kepala terangkat tinggi melawan tiran. Peluru tajam telah membelah dadamu. Yang menurutku luar biasa dan penuh dengan kebersihan jiwa. Aku yakin bahwa kau jujur kepada Allah dan Dia telah memilihmu di antara kami, memberimu kehormatan dengan pengorbanan.

Akhirnya, putriku tercinta dan guru ku yang mulia… aku tidak mengucapkan selamat tinggal, tapi aku mengucapkan sampai jumpa kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan sahabat-sahabatnya di surga, dimana keinginan kita untuk menikmati kebersamaan kita akan  menjadi kenyataan. (piyungan)
__
NB: Asmaa Mohamed El Beltaji berusia 17 tahun dan adalah antara yang dibunuh pada tragedi berdarah di Medan Rab’ah (14/8/2013). Beliau adalah putri satu-satunya Mohammed El Beltaji, seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin

Pintu Bisu

Pintu Bisu
Sumber: Baltyra.com


“Brakkkk . .” Aku kembali disentak, begitu keras. Pasti dia kembali bersedih. 
Tuh kan benar apa kataku. Dia bersedih lagi karena mereka.

“mama maunya apa sih ?” ungkap pria setengah abad berkata cukup keras.
“ha ? justru papa yang maunya apa ?” timpal seorang wanita seperempat abad. 
            Dia hanya terus menangis, setelah melabrakku begitu keras. Sambil terus mendengar kecamuk di telinganya. Kasihan dia. Begitu malang hidupnya. Orang tuanya tak lagi peduli terhadapnya. Mereka lebih memilih mempertahankan egonya masing-masing, malamnya diisi dengan perang mulut, bersisa Ali bersandar padaku, menangis sejadi-jadinya. Masih terlalu dini untuknya bersedih, mestinya saat ini dia menikmati masa-masa dimanja orang tuanya, tawa ringan bersamanya, pelukan hangat di sepanjang masa kecilnya atau sekedar perhatian kecil tentang tahun pertamanya sekolah. Namun takdir berkata lain untuknya.  
“Sampai kapan mama mau kerja di sana ? Pergi pagi buta, pulang di sepertiga malam. Aku jadi curiga” dengan nada sinis pria tadi kembali melawan. Terasa aroma amarahnya, meledak-ledak ia mengurung lawan bicaranya yang baru saja datang.
 Sejak maret tahun lalu setahuku. Tepat di depanku Ibu Ali membulatkan tekad bekerja di perusahan swasta. Sebelumnya Dia tumpahkan semua kebimbangannya di belakangku, tangisannya membuatku tercengang, Ia sempat ragu menjemput pekerjaan ini. Jam kerjanya normal seperti perusahan lain, namun lokasi perusahaan yang begitu jauh membuatnya hanya sekejap mata di rumah. Bus dan kereta api, dua hal yang merebut waktu manisnya bersama keluarga, ini harus diterimanya demi keluarganya pula. Untuk sampai di tempat kerjanya, Ia harus duduk manis di halte sejak pagi buta menunggu bis, agar sampai di terminal kereta tepat waktu. Apalagi perusahaan tempatnya bekerja menerapkan aturan jam kerja begitu ketat, telat sedetik saja bisa membuat gajinya terancam. Sempat dia berpikir untuk berhenti karena terlampau sakit meninggalkan keluarga, namun apa daya, gaji yang menggiurkan dan sulitnya mencari pekerjaan bagus di kota, membuatnya urung untuk tunduk pada pemikirannya. Aku hanya iba pada Ali. Jika Ali tak begadang semalaman suntuk menunggunya, ia hanya dapat melihatnya selepas subuh, begitu cepat. Sesaat. Bahkan terkadang hanya melihat punggung Ibunya yang terburu-buru menuruni tangga depan kamar Ali . Ibu Ali adalah sosok yang kuat, Aku menyaksikannya saat dia tidur di samping Ali, normalnya ia tidur kurang dari empat jam, sesekali ia menyeka air matanya saat memeluk Ali sembari mencoba tidur, entah apa yang ia simpan di dalam hatinya. Sejak suaminya berubah menjadi penggonggong pekerjaannya, ia jadi lebih sering tidur bersama Ali.
Sebenarnya baru belakangan ini mereka saling melempar kata-kata sinis di depanku, di depan kamar Ali. Karena sebelumnya ayah Ali menyetujui pekerjaan istrinya, bahkan sangat senang ia dapat diterima kerja. Karena dia sendiri telah mengaku tak bisa lagi bekerja. Ia frustasi. Puluhan asetnya hilang diambil alih, perusahaan-perusahaannya mandek, segala investasinya raib . Segalanya bermula saat ia berada di puncak, ia terlampau bangga, lalu jatuh hanya dengan sekali tepukan. Sahabatnya yang membersamai kerjanya menepuknya dengan tusukan dari belakang. Segala yang dimilikinya lenyap. Habis bersisa rumah warisan orang tuanya, kegilaan dan trauma mendalam di jiwanya. Aku tahu hal ini karena kesombongannya yang meledak-ledak di depanku, juga amukannya menghamburkan seisi ruang tamu, dan sekali meninjuku hingga membuat kepalannya meneteskan darah. Dan Ali pada saat itu berada di belakangku, hanya menangis sejadi-jadinya. Jangan kira Aku ini hanya pintu mati yang tak berperasaan. Bahkan Aku lebih mengerti Ali dibanding mereka ! .
“Sampai papa bekerja kembali ! “ di tatapnya dengan sangar pria itu.
“Aku juga capek kerja ini! terserah kamu mau curiga apa padaku. Tapi mau bagaimana lagi ? kita mau makan apa tanpa kerjaan ini ?” lanjutnya mulai meneteskan air mata.

“brakk . .” Ali menutupku sekeras-kerasnya, kekuatan ini tak lazim untuk anak seusianya, mungkin karena emosinya memuncak. Hendak kemana kau Ali ? tetaplah di sini, jangan hiraukan mereka. Ali jangaaann . .
Aku lupa bahwa sekuat apapun aku menahannya, tetap saja ia akan pergi. Aku hanya pintu, diam di tempat, mematung, aku tak dapat menjangkaunya, meneriakkan kata-kata untuknya, meski begitu jeli membaca hatinya. Aku bisu. Aku tak dapat menahannya.
“Papa dan mama jahat! Aku benci kalian” Kudengar dengan jelas kata-kata Ali membisukan kedua orang tuanya. Sunyi, begitu hening, tersisa isak tangis Ali yang sebenarnya dari tadi ia coba tahan. Tangan mungilnya terus berusaha menghapus air matanya. Tak lama berselang kusaksikan Ali lari sekencang-kencangnya menuju tangga . Ditinggal keduanya mematung di sana, kaku, membisu . tak ada tanggapan sedikitpun dari mereka. Hanya disaksikan anaknya berlari menuju tangga.
Aliiii jaaangaaaannn  . . . Aku melihat selang AC yang bocor mengeluarkan air tepat di ubin pertama sebelum tangga. Heyy kaliaann lihat genangan itu, Ali akan jatuh karenanya. Cepat bertindak. Kumohon . .
“blaaakkk . .”
“Aaaaaaa . . . .”  Ali menjerit sangat keras sebelum membisu, tak berdaya, entah tak bernyawa lagi mungkin. Tangis Ibunya mengisyaratkan itu, di ujung tangga, jauh dari diriku yang sendiri berlinang kesedihan. Aku memang hanya pintu, benda mati, tapi Aku lebih mengerti perasaannya. Aku selalu ada untuk dia banting, lalu bersandar di belakangku. Tempat dia menangis. Karena kalian yang tak memberinya kesempatan untuk bahagia. Sekarang dia tak lagi bernyawa, sama sepertiku. Tak ada lagi dia yang menemaniku di sini.
**
            Kini, di penghujung maret hanya ada kamu yang sesekali menangis, bersandar di belakangku. Sembari menikmati kenangan Ali dalam sebuah frame foto. Sama sepertimu Aku pun terkena pilu itu. Ali sejak dulu bersandar padaku dari semua kesedihan yang kalian buat. Andai kalian sesaat melepas ego masing-masing, demi Ali. Untuk membuatnya sedikit berbahagia sebelum dia pergi . 
Ah, bodoh ! semua sudah terlambat . Aku pun terlambat memberitahumu. Aku lupa lagi. Aku hanya benda mati. Walau berbicara tetap saja bisu olehmu. Sungguh, bisu ini begitu membelenggu

Kamis, 14 Maret 2013

Belajar Membenci



Aku membencimu !!!
Dan Dia. Juga Mereka .
Kalian semua . .
Aku muak dengan Kalian semua !!!
Kamu pertama, ,
Seperti burung yang berkicau sekenanya
Lalu lupa akan dirinya. Itu kamu !! Munafik !!
Dia,,
Kalian saudara kembar . Persis. Serupa.
Lain di mulut. Lain di hati. Lain di sikap.
PENGECUUTTT . .!!!!
Apalagi Mereka,,
Berkumpul bak gerombolan kuda nil.
Saling berbisik. Menghujat. Main belakang.
Ahh, , benci dengan semua itu !!
Dan Aku, ,
Lebih hina dari kalian semua.
Aku masih belia. Masih belajar membenci.
Bukan, ,
Bukan membenci Kalian. Tapi, ,

 Keburukan itu . .