Rabu, 09 Desember 2015

Lomba Cipta Cerpen dan Puisi- Bumi Palestina







Komite Nasional untuk Rakyat Palestina Provinsi Sulawesi Selatan menyelenggarakan Lomba Cipta Cerpen dan Puisi sebagai salah satu rangkaian kegiatan Al-Quds Parenting 2015. Daftarkan diri Anda dan jadilah bagian dari para pejuang pena Al-Quds.
Syarat:
1.   Peserta adalah warga negara Indonesia dan memiliki kartu identitas (KTP/KTM/SIM/Kartu Pelajar atau Pasport Indonesia).
2.   Bersedia bergabung dalam Forum Pejuang Pena Al-Quds
3.   Peserta hanya boleh mengirimkan satu karya cerpen dan/atau puisi dengan ketentuan:
a. Tema: Bumi Palestina
b. Peserta mengirim naskah melalui email dengan subyek LOMBA CERPEN/ PUISI AL-QP dengan dilampiri dua file. Satu file berisi cerpen dan/atau puisi yang dilombakan  dan satu file lagi berisi Formulir Peserta yang dapat didownload di (https://goo.gl/eClNnr)  yang telah dilengkapi sesuai identitas penulis. Dikirim melalui email knrpsulsel@gmail.com. Serta hasil scan kartu identitas yang jelas.
c. Cerpen dan/atau puisi yang dilombakan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun,
baik sebagian maupun seluruhnya, baik di media cetak maupun portal dan blog pribadi.
d. Cerpen atau puisi tidak sedang diikutkan dalam perlombaan yang sama.
e. Cerpen atau puisi adalah karya asli penulis.
f. Cerpen atau puisi diketik dengan menggunakan huruf Times New Roman, font 12, pada kertas A4 dengan spasi 1,5 margin 4-3-3-3. Dengan jumlah minimal 5 halaman dan maksimal 10 halaman untuk cerpen, maksimal 2 halaman (puisi) .
3. Batas akhir pengiriman naskah adalah tanggal 25 Desember 2015 pukul 23.59 WITA.
4. 10 Cerpen dan 10 Puisi Terbaik akan dibukukan dan seluruh hasil penjualan akan didonasikan untuk Palestina.

Hadiah:
Jutaan rupiah + Sertifikat tiap peserta lomba.
Pengumuman:
Pemenang lomba penulisan cerpen akan diumumkan pada 27 Desember 2015 atau pada saat Acara Al-Quds Parenting

Narahubung:
SMS/WA/Line: 0821 9316 2592 (Fadhlur)

Sabtu, 09 Mei 2015

Doa yang Menembus Langit

           

       Sumber Foto
       Dulu, Aku tak pernah bosan memandang punggungnya. Di depannya kutahu tangannya sibuk menyiapkan makanan. Sambil sesekali punggungnya berguncang karena efek tawa, tentulah aku selalu bisa bercerita tentang hal-hal lucu, walau sebenarnya sederhana. Tetap saja dia tertawa. Katanya aku bisa saja mengarang cerita aneh. Walau dari belakang, aku tahu persis raut wajahnya saat tertawa, berapa gigi yang kelihatan, selebar apa senyumnya merekah, sampai detail keriput di bawah matanya aku pun tahu. Bahkan hari ini pun, saat menulis catatan ini wajahnya masih tergambar jelas di benakku. Oh iya, aku ingat, saat ia memasak sesuatu yan membuatku bersin, aku tahu betul kalau itu tumis kangkung atau cobek-cobek kesukaanku. Aku tidak tahu pasti membedakannya, dua masakan itu serta-merta membuatku bersin. Dialah yang menuntunku mengucapkan hamdalah, sambil terus memainkan sendok penggorengan. 
            Namun aku tak hendak berkeluh tentang kehilangannya, berarti kehilangan masakan lezatnya. Itu sudah pasti, tapi bukan itu titik tekannya. Atau kehilangannya berarti kehilangan pemandangan punggungnya dari belakang yang amat kusuka. Aku menyayangkan itu, tapi ada lagi yang lebih membuatku sakit. Kehilangannya juga turut menghilangkan Doa mustajabnya, yang dahsyatnya menembus langit. Tak ada hijab antara doanya dan Rabbnya. Aku kehilangan itu. Maka tak ada lagi doa yang kudapat disetiap makanan yang masuk ke perutku sejak hari itu. Kubayangkan kalimatnya sembari menyuapku, “Makan yang banyak, biar cepat besar”. Atau kalimatnya sewaktu kusalami hendak ke sekolah “Belajar yang rajin, jangan kebanyakan main”. Ataukah waktu ingin tidur “ Kencing dulu, baru ambil wudhu, jangan lupa doa sebelum tidur”. Aku tahu bahwa semua perkataannya bagiku adalah doa. Sungguh doa yang menembus langit hingga ke arsy-Nya. Tak ada hijab yang membatasinya dengan Rabbnya. Aku kehilangan itu.  

Kamis, 07 Mei 2015

Menyelaraskan Empat Hal : Wujud Persiapan Generasi Pemimpin



Menyelaraskan Empat Hal : Wujud Persiapan Generasi Pemimpin
 Oleh: M. Muinul Haq

http://blog.umy.ac.id/fatiamahdi/files/2012/10/Nasionalisme-230x300.png


Indonesia adalah Negara berkembang dengan intensitas produksi sumber daya manusianya yang tinggi. Pola berkelanjutan diadopsi agar tercetak SDM yang wawasannya mengakar. Namun dalam praktiknya masih terdapat beberapa celah besar dalam pola pendidikan ini, sebagai salah satu aspek yang mendukung kesiapan generasi masa depan dalam memimpin bangsa ini. Sistem saat ini terpola sedemikian rupa seakan nampak mendikte anak didik untuk bersikap manja dan tak berorientasi ke masa depan. Ini dapat dibuktikan hanya dengan melihat dua hal, yakni  kurangnya kemauan anak didik untuk memenuhi hak intelektualnya sendiri sehingga berdampak ke hal yang kedua yakni rendahnya tingkat kreatifitas generasi hari ini. Sikap menjauhi buku, intraksi sosial yang menurun, larut dalam gadget, tak terbesit kemauan menulis, minat belajar minim, dan sikap lainnya yang serupa dengan hal-hal tersebut menjadi indentitas mayoritas generasi bangsa saat ini. Akibatnya kita dapatkan tingkat kreatifitas yang sama rendahnya, kurangnya inovasi dan terobosan-terobosan lalu minimnya prestasi dari sekian juta anak didik yang mengenyam bangku pendidikan.
Maka dalam hal ini perlu ada penekanan sekaligus pembimbingan dari tenaga pendidik, orang tua, pemerhati, dan cedekia akan solusi konkret sekaligus sebagai agenda persiapan generasi pemimpin yang cemerlang. Setidaknya ada empat hal yang perlu diselaraskan dan menjadi acuan bagi persiapan generasi pemimpin untuk tampil menjadi seorang ideolog atau pemikir di masanya. Empat hal ini saling terkait dan saling bersinggungan. Ketika satu melemah, maka yang lain akan ikut melemah. Maka perlu penyelarasan dalam penggemblengannya kepada calon generasi pemimpin.

1.    Menjadi kutu buku
United Nations Eduacational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) merilis hasil penelitiannya terhadap minat baca orang Indonesia tahun 2011 lalu, hasilnya didapatkan bahwa indeks baca masyarakat hanya 0,001 yang berarti bahwa dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi. Dari hasil penelitian ini kita menyadari bahwa seiring teknologi merambah masuk ke Negara ini, disertai kemudahan-kemudahan mengakses sumber ilmu dan informasi yang luas, sangat berkebalikan dengan minat baca masyarakat yang sangat rendah. Ketersediaan buku-buku bacaan yang memadai, dibangunnya perpustakaan-perpustakaan, sampai ide perpustakaan keliling terealisasi tidak membangkitkan minat baca generasi muda. Maka hal ini menjadi sesuatu yang urgen dan perlu dibangun sejak dini dalam diri setiap anak didik. Menjadi seorang kutu buku tidak seseram kutu gadge, dari bukulah masyarakat akan mulai menyadari bahwa dari lembaran-lembaran yang dibukanya ternyata memang seakan-akan mereka sedang membuka jendela dunia ini. Maka dari hal pertama inilah kita memulai menyiapkan generasi kutu buku yang kelak jadi pemimpin masa depan yang berpikir dan bertindak tidak dengan seenak hatinya. Namun dari telaah mendalam terhadap pengetahuannya dari intensitas baca yang tinggi dan dari pengalamannya dalam masyarakat.
2.    Pendengar yang baik
Selaras dengan minat baca yang tinggi, aspek kedua yang perlu ditanamkan adalah menjadi pendengar yang baik. Diam dan mendengarkan menjadikan kita banyak menelusuri ragam pembicaraan. Kebiasaan mendengarkan biasanya diidentikkan dengan rasa kepedulian yang tinggi. Bahwa dengan mendengarkan perkataan orang lain rasa simpati menjadi sangat kental sehingga lawan interaksi menjadi nyaman dan merasa dipedulikan. Maka setelah kebiasaan membaca sudah menjadi kebudayaan dan hal yang urgen di dalam pribadi generasi-generasi pemimpin, hal yang selanjutnya menjadi asupan adalah gemar mendengarkan. Menjadi pendengar yang baik adalah salah satu sumber informasi dan pengetahuan yang efektif, dari manapun sumber suaranya asal dapat diolah dengan baik akan menjadi bekal yang penting selain dari segi penumbuhan kepedulian juga sebagai pemenuhan hak intelektual di luar dari sumber buku.
3.    Menulis sesuatu
Berangkat dari dua sumber pemenuhan hal intelektual yakni membaca dan mendengarkan tadi kita melangkah ke aspek ketiga atau hal ketiga yang harus ditanamkan pada generasi muda sebagai tahap persiapan kepemimpinan di masa mendatang yakni gemar menulis. Dengan menulis, kreatifitas generasi muda secara perlahan diasah dan ditumbuhkan. Lewat hal inilah akan lahir pemikiran-pemikiran cemerlang dari buah tangan pemikiran generasi yang tentu lahir dari dua aspek pertama tadi yakni membaca dan mendengarkan. Menulis dikatakan sebagai pengikat ilmu dan sebuah karya yang tinggal dari sejarah. Maka penumbuhan minat menulis menjadi sangat urgen setelah dua hal di atas.
4.    Berbicara di depan publik
          Tampil berbicara di depan umum menjadi hal terakhir dari empat hal yang perlu diselaraskan guna menunjang kesiapan generasi mendatang sebagai pemimpin yang ulung. Menjadi aspek terakhir setelah membaca, mendengarkan dan menulis disebabkan karena bekal atau bahan pembicaraan. Untuk bias berbicara dengan baik haruslah dengan terlebih dahulu membaca bacaan yang baik, mendengarkan perkataan yang baik lalu menyusunnya dalam tulisan yang baik. Sehingga lahirlah topic pembicaraan yang baik. Hal terakhir ini menjadi output penyaluran kebaikan kepada khalayak ramai. Buah dari perjalanan tiga hal sebelumnya. Hal inilah menjadi pelengkap empat hal yang perlu diselaraskan sebagai bahan pembekalan generasi pemimpin masa depan.

            Empat hal ini menjadi wujud konkret dalam menyiapkan generasi muda yang handal dalam memimpin di masa mendatang. Semuanya berkaitan dan saling menyokong. Untuk dapat menulis yang baik engkau harus membaca banyak buku yang baik. Untuk dapat menasehati atau berkata dengan baik engkau butuh untuk mendengarkan keluhan-keluhan dari permasalahan orang-orang dan perkataan-perkataan baik. Untuk itu mari sama-sama memperhatikan empat hal ini, menjadikannya sebagai bekal untuk mempersiapkan generasi pemimpin masa depan.


Senin, 20 April 2015

Berlapis-lapis

Di lapis-lapis keberkahan, jalan lurus dari ayat yang sekurang-kurangnya 17 kali kita lafadzkan sehari "ihdinash shiraathal mustaqiim" adalah jalan yang berkelok dan menikung, menanjak juga melongsor, membentang pun menghimpit. Di lapis-lapis keberkahan, sungguh jalan lurus itu curam dan terjal, deras lagi gemuruh, keras juga runcing.
Di lapis-lapis keberkahan, kita hidup dengan tugas mengemudi hati ini menuju Allah di jalan yg lurus. Maka pangkal kelurusan itu adalah hati yg tak pernah berbelok dr Allah sbg sesembahan yg haq. Lurus, sebab hanya pada Allah tunduknya, taatnya, dan tenteramnya. Lurus, sebab hanya untuk Allah yakinnya, pasrahnya, dan kebajikannya. Lurus, sebab hanya bersama Allah gigil takutnya, gerisik harapnya, dan getar cintanya.
Dari sini, kita berharap Allah membersamai langkah kita pada jalanNya yang lurus.


Minggu, 12 April 2015

Malam Pertama di Surga


          Pernah baca bukunya Kak Afifah Afra Amatullah?? Judulnya Bulan Mati di Javasche Orange. Mengisahkan tentang pergulatan idealisme pra kemerdekaan. Islamisme, komunisme, dan imprealisme digambarkan sangat kental. Namun bukan sisi itu yang ingin saya tarik hikmah. Melainkan kisah Cinta dua umat manusia yang Cintanya tak biasa. Sejak kecil mereka sudah selalu bersama, bahkan digambarkan seakan mereka bersaudara(adik-kakak). Hamzah dan Rahmah. Mereka hidup dalam lingkungan pesantren Al Ikhwah, fikrah betul-betul ditanam kuat oleh penulis dalam novel ini. Namun lagi-lagi bukan itu yang saya ingin tonjolkan. Melainkan kisah Cinta yang membuat siklus air berantakan, evaporasi  air yang ada di sumber-sumbernya naik ke atmosfer menjadi awan namun justeru tumpah-ruah di pipi saya, tepat pada halaman-halaman terakhir buku ini. Tak berhenti hingga penghujung buku ini kutamatkan. 
           Tak ada aral yang begitu besar menghalangi dua hati itu bertaut. Sebab mertua yakni ayah dari Rahmah merupakan Paman sekaligus guru dari Hamzah. Restu sudah lama dia kantongi. Namun banyak hal yang tak berjalan mulus, disinilah Allah menggambarkan ujian kesabaranNya. Boleh saja kita berencana, lagi-lagi Allah-lah arsitektur perencana terbaik. Sang mertua ditangkap oleh KNIL dan dijatuhkan hukuman gantung. Namun itu tak menghalangi menyatunya dua hati, pernikahan tetap dilangsungkan. Jadilah mereka sepasang kekasih yang separuh berbahagia, separuh bahkan sepenuhnya cemas akan Sang Ayah.
           Maka sudah diputuskan, hanya beberapa jam mereka memadu kasih, belum turun matahari di ufuk barat, Hamzah dan Mahmud Ali Syah(Turki-Inggris, mutarabbi dari Hamzah, sempat terlena oleh duniawi namun kita teguh pada jihad fi sabilillah) memutuskan pergi untuk menyelamatkan sang guru. .Rahmah mencium tangan suaminya takzim. Kalimatnya menyadarkan sesiapa tentang hakikat Cinta sesungguhnya.
"Berangkatlah dengan kesungguhan hingga kau berhasil atau harus syahid karenanya, Kak Hamzah! Jangan pedulikan saya. Bidadari surga jauh lebih cantik dibanding sekadar mahluk hina bernama Rahmah ini . . "
            Jika dihadapkan situasi seperti ini, mungkin saja kita urung, baru saja menyempurnakan separuh agama lantas maju berjihad. Namun puncaknya bukan pada perpisahan ini. Mereka kembali bersitatap saat yang lebih dulu tersungkur justeru Rahmah, roboh dengan darah yang membasahi jilbabnya. Dengan sisa nyawa, mereka menikmati waktunya.
"Maaf, Kak  . . saya belum sempat membahagiakan kakak"
"Kak Hamzah . . keindahan sejati adalah tatkala kita menemukan  kesyahidan. Itu berarti, kita telah mempersembahkan jiwa kita, cinta kita tertinggi untuk Allah. Jangan kira para syuhada itu mati, Kak. .  Mereka hidup dan mendapat Rezeki. . ."
Ya, Allah . Indah betul pribadi mereka. Hamzah mengiringi napas terakhir istrinya dengan melantunkan surat At-taubah dan syahadat. Mereka berpisah dunia saat malam belum juga datang pada pernikahan hari pertama mereka. Tak lama kemudian, Hamzah pun menemui ajalnya. Syahid harga mati. Al mautu fii sabilillah asma amaninah. Mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi.
 
Sungguh indah kisah Cinta yang sumbernya dari Allah. Tak akan pernah putus bahkan hingga ajal memisahkan jasad. Malam pertama yang indah di surgaNya.
           

Catatan Perenungan 3


Menjadi Mujaddid (Pembaharu)

"Di antara manusia hanya sedikit yang beriman,
Dan di antara yang beriman hanya sedikit yg beramal,
Dan di antara yg beramal hanya sedikit yang berdakwah,
Dan di antara yang berdakwah itu hanya sedikit yang sabar,
Dan di antara yang sabar itu hanya sedikit yang benar-benar sampai ke akhir perjalanan"
(Syaikh Hasan Al Banna rahimahullah)

          Kalimat-kalimat Sang Mujaddid di atas menjadi rambu-rambu sekaligus motivasi besar bagi kita, para Syabab (Pemuda) untuk bisa melanjutkan Dakwah ini, sebagaimana awal mula pendirian Ikhwanul Muslimin oleh beliau setelah Khilafah terakhir runtuh di Turki adalah untuk mengembalikan mahkota Ummat Islam. Maka dakwah ini harus terus berlanjut hingga akhir perjalanan. Maka dari segenggam Iman kita, terbesit kemauan untuk beramal, dari amalan-amalan itu kita menjadi kuat dan sanggup untuk berdakwah. Menebar kebaikan, mengajak pada yang Haq, menghimbau untuk menjauhi yang bathil. Lalu dari perjalanan dakwah itu, Allah menguji kita dengan masalah-masalah untuk mendewasakan kita sekaligus menguji kesabaran hati kita. Dan puncak dari ujian kesabaran itu adalah berhasilkah kita sampai ke akhir perjalanan ini? Yakni saat ajal di ujung tenggorokan. Wallahu a'lam. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk tetap berada pada jalan ini, jalan para Mujaddid !!