Minggu, 17 Januari 2016

Malam-Malam Pasang


Malam-malam pasang. 
Dengan bapak tua yang duduk termangu di balkon rumah sakit,
bekas selang infus begitu mencolok dari sini. 
Jam penantian dengan riuh orkestra kodok-kodok kota. 
Saat-saat seperti ini, selalu muncul pertanyaan-pertanyaan aneh di kepalaku.
Tentang angin misalnya,
apakah yang tersambar di kulitku pernah menyambar orang lain beberapa menit sebelumnya?
Siapa-siapa saja dia? 
Atau rintik2 hujan yang turun,
telah berapa lama terombang-ambing oleh angin sejak pertama kali diteteskan awan?,
lalu ke mana awan-awan yang sedari siang mengikutiku?
Ke mana perginya matahari tadi siang?
Lalu akan ke mana bintang-bintang yg kutatap malam ini?
 Bulan ke mana saat siang?
Apakah ritmenya akan terus seperti itu?
Aduh, mengapa orang2 selalu mengumpamai perasaan mereka dengan benda2 langit?
Lalu jika akupun harus turut memilih, benda langit apa yang mewakili perasaanku?

(RS. Unhas- 17 Januari 2016)

Rabu, 13 Januari 2016

T A K D I R


Sehebat itu takdir Allah.
Tak ada yang serba kebetulan. Saya selalu percaya.
Jika Allah telah jauh hari menuliskan dengan lautan penanya takdir pertemuan.
Maka tak pernah ada yang bergeser, seperti daun yang jatuh berguguran di satu titik tepat lalu dihempaskan angin. Semuanya sempurna di tanganNya.
Seperti saat Allah menakdirkan seorang Muin bertatap muka denganmu, wahai lelaki yang penuh ghiroh. 
Tak ada yang meleset, termasuk perpisahan kita hari ini. Allah telah menyelipkan banyak hikmah dan pelajaran dari rentang waktu yang singkat ini. Tak pernah kudapat pelajaran tentang semangat perjuangan dari buku2 pelajaranku, semuanya kulihat langsung darimu kawan. Tak pernah kudapat pelajaran ttg pengorbanan, lalu kulihat perihmu dan kukatakan seperti itulah pengorbanan. Tak pernah kudapat pelajaran ttg kesabaran dari buku2 tebal, lalu kusaksikan kau menahan amarahmu dalam sabar lalu dengan itu aku belajar. Tak pernah kudapati pelajaran ttg kecintaan pada dakwah, kecintaan utk jadi lebih baik sebelum engkau menunjukkan cinta itu. Singkat betul pertemuan ini ya Allah.
Seperti pertemuan lebah dan putik bunga mungkin. Atau seperti pertemuan api dan lilin. Singkat namun berkesan. Semoga Allah mengekalkan ikatan kita dalam ukhuwah meski jarak berbilang ratusan bahkan ribuan kilometer.
Muin 2016, selamat jalan kawanku, Muhammad Tri Aditya. Allah membersamai langkahmu,😭😭😭 yang mencintaimu lillahi ta'ala.

Rabu, 09 Desember 2015

Lomba Cipta Cerpen dan Puisi- Bumi Palestina







Komite Nasional untuk Rakyat Palestina Provinsi Sulawesi Selatan menyelenggarakan Lomba Cipta Cerpen dan Puisi sebagai salah satu rangkaian kegiatan Al-Quds Parenting 2015. Daftarkan diri Anda dan jadilah bagian dari para pejuang pena Al-Quds.
Syarat:
1.   Peserta adalah warga negara Indonesia dan memiliki kartu identitas (KTP/KTM/SIM/Kartu Pelajar atau Pasport Indonesia).
2.   Bersedia bergabung dalam Forum Pejuang Pena Al-Quds
3.   Peserta hanya boleh mengirimkan satu karya cerpen dan/atau puisi dengan ketentuan:
a. Tema: Bumi Palestina
b. Peserta mengirim naskah melalui email dengan subyek LOMBA CERPEN/ PUISI AL-QP dengan dilampiri dua file. Satu file berisi cerpen dan/atau puisi yang dilombakan  dan satu file lagi berisi Formulir Peserta yang dapat didownload di (https://goo.gl/eClNnr)  yang telah dilengkapi sesuai identitas penulis. Dikirim melalui email knrpsulsel@gmail.com. Serta hasil scan kartu identitas yang jelas.
c. Cerpen dan/atau puisi yang dilombakan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun,
baik sebagian maupun seluruhnya, baik di media cetak maupun portal dan blog pribadi.
d. Cerpen atau puisi tidak sedang diikutkan dalam perlombaan yang sama.
e. Cerpen atau puisi adalah karya asli penulis.
f. Cerpen atau puisi diketik dengan menggunakan huruf Times New Roman, font 12, pada kertas A4 dengan spasi 1,5 margin 4-3-3-3. Dengan jumlah minimal 5 halaman dan maksimal 10 halaman untuk cerpen, maksimal 2 halaman (puisi) .
3. Batas akhir pengiriman naskah adalah tanggal 25 Desember 2015 pukul 23.59 WITA.
4. 10 Cerpen dan 10 Puisi Terbaik akan dibukukan dan seluruh hasil penjualan akan didonasikan untuk Palestina.

Hadiah:
Jutaan rupiah + Sertifikat tiap peserta lomba.
Pengumuman:
Pemenang lomba penulisan cerpen akan diumumkan pada 27 Desember 2015 atau pada saat Acara Al-Quds Parenting

Narahubung:
SMS/WA/Line: 0821 9316 2592 (Fadhlur)

Sabtu, 09 Mei 2015

Doa yang Menembus Langit

           

       Sumber Foto
       Dulu, Aku tak pernah bosan memandang punggungnya. Di depannya kutahu tangannya sibuk menyiapkan makanan. Sambil sesekali punggungnya berguncang karena efek tawa, tentulah aku selalu bisa bercerita tentang hal-hal lucu, walau sebenarnya sederhana. Tetap saja dia tertawa. Katanya aku bisa saja mengarang cerita aneh. Walau dari belakang, aku tahu persis raut wajahnya saat tertawa, berapa gigi yang kelihatan, selebar apa senyumnya merekah, sampai detail keriput di bawah matanya aku pun tahu. Bahkan hari ini pun, saat menulis catatan ini wajahnya masih tergambar jelas di benakku. Oh iya, aku ingat, saat ia memasak sesuatu yan membuatku bersin, aku tahu betul kalau itu tumis kangkung atau cobek-cobek kesukaanku. Aku tidak tahu pasti membedakannya, dua masakan itu serta-merta membuatku bersin. Dialah yang menuntunku mengucapkan hamdalah, sambil terus memainkan sendok penggorengan. 
            Namun aku tak hendak berkeluh tentang kehilangannya, berarti kehilangan masakan lezatnya. Itu sudah pasti, tapi bukan itu titik tekannya. Atau kehilangannya berarti kehilangan pemandangan punggungnya dari belakang yang amat kusuka. Aku menyayangkan itu, tapi ada lagi yang lebih membuatku sakit. Kehilangannya juga turut menghilangkan Doa mustajabnya, yang dahsyatnya menembus langit. Tak ada hijab antara doanya dan Rabbnya. Aku kehilangan itu. Maka tak ada lagi doa yang kudapat disetiap makanan yang masuk ke perutku sejak hari itu. Kubayangkan kalimatnya sembari menyuapku, “Makan yang banyak, biar cepat besar”. Atau kalimatnya sewaktu kusalami hendak ke sekolah “Belajar yang rajin, jangan kebanyakan main”. Ataukah waktu ingin tidur “ Kencing dulu, baru ambil wudhu, jangan lupa doa sebelum tidur”. Aku tahu bahwa semua perkataannya bagiku adalah doa. Sungguh doa yang menembus langit hingga ke arsy-Nya. Tak ada hijab yang membatasinya dengan Rabbnya. Aku kehilangan itu.  

Kamis, 07 Mei 2015

Menyelaraskan Empat Hal : Wujud Persiapan Generasi Pemimpin



Menyelaraskan Empat Hal : Wujud Persiapan Generasi Pemimpin
 Oleh: M. Muinul Haq

http://blog.umy.ac.id/fatiamahdi/files/2012/10/Nasionalisme-230x300.png


Indonesia adalah Negara berkembang dengan intensitas produksi sumber daya manusianya yang tinggi. Pola berkelanjutan diadopsi agar tercetak SDM yang wawasannya mengakar. Namun dalam praktiknya masih terdapat beberapa celah besar dalam pola pendidikan ini, sebagai salah satu aspek yang mendukung kesiapan generasi masa depan dalam memimpin bangsa ini. Sistem saat ini terpola sedemikian rupa seakan nampak mendikte anak didik untuk bersikap manja dan tak berorientasi ke masa depan. Ini dapat dibuktikan hanya dengan melihat dua hal, yakni  kurangnya kemauan anak didik untuk memenuhi hak intelektualnya sendiri sehingga berdampak ke hal yang kedua yakni rendahnya tingkat kreatifitas generasi hari ini. Sikap menjauhi buku, intraksi sosial yang menurun, larut dalam gadget, tak terbesit kemauan menulis, minat belajar minim, dan sikap lainnya yang serupa dengan hal-hal tersebut menjadi indentitas mayoritas generasi bangsa saat ini. Akibatnya kita dapatkan tingkat kreatifitas yang sama rendahnya, kurangnya inovasi dan terobosan-terobosan lalu minimnya prestasi dari sekian juta anak didik yang mengenyam bangku pendidikan.
Maka dalam hal ini perlu ada penekanan sekaligus pembimbingan dari tenaga pendidik, orang tua, pemerhati, dan cedekia akan solusi konkret sekaligus sebagai agenda persiapan generasi pemimpin yang cemerlang. Setidaknya ada empat hal yang perlu diselaraskan dan menjadi acuan bagi persiapan generasi pemimpin untuk tampil menjadi seorang ideolog atau pemikir di masanya. Empat hal ini saling terkait dan saling bersinggungan. Ketika satu melemah, maka yang lain akan ikut melemah. Maka perlu penyelarasan dalam penggemblengannya kepada calon generasi pemimpin.

1.    Menjadi kutu buku
United Nations Eduacational, Scientific and Cultural Organisation (UNESCO) merilis hasil penelitiannya terhadap minat baca orang Indonesia tahun 2011 lalu, hasilnya didapatkan bahwa indeks baca masyarakat hanya 0,001 yang berarti bahwa dari seribu penduduk, hanya ada satu orang yang masih memiliki minat baca tinggi. Dari hasil penelitian ini kita menyadari bahwa seiring teknologi merambah masuk ke Negara ini, disertai kemudahan-kemudahan mengakses sumber ilmu dan informasi yang luas, sangat berkebalikan dengan minat baca masyarakat yang sangat rendah. Ketersediaan buku-buku bacaan yang memadai, dibangunnya perpustakaan-perpustakaan, sampai ide perpustakaan keliling terealisasi tidak membangkitkan minat baca generasi muda. Maka hal ini menjadi sesuatu yang urgen dan perlu dibangun sejak dini dalam diri setiap anak didik. Menjadi seorang kutu buku tidak seseram kutu gadge, dari bukulah masyarakat akan mulai menyadari bahwa dari lembaran-lembaran yang dibukanya ternyata memang seakan-akan mereka sedang membuka jendela dunia ini. Maka dari hal pertama inilah kita memulai menyiapkan generasi kutu buku yang kelak jadi pemimpin masa depan yang berpikir dan bertindak tidak dengan seenak hatinya. Namun dari telaah mendalam terhadap pengetahuannya dari intensitas baca yang tinggi dan dari pengalamannya dalam masyarakat.
2.    Pendengar yang baik
Selaras dengan minat baca yang tinggi, aspek kedua yang perlu ditanamkan adalah menjadi pendengar yang baik. Diam dan mendengarkan menjadikan kita banyak menelusuri ragam pembicaraan. Kebiasaan mendengarkan biasanya diidentikkan dengan rasa kepedulian yang tinggi. Bahwa dengan mendengarkan perkataan orang lain rasa simpati menjadi sangat kental sehingga lawan interaksi menjadi nyaman dan merasa dipedulikan. Maka setelah kebiasaan membaca sudah menjadi kebudayaan dan hal yang urgen di dalam pribadi generasi-generasi pemimpin, hal yang selanjutnya menjadi asupan adalah gemar mendengarkan. Menjadi pendengar yang baik adalah salah satu sumber informasi dan pengetahuan yang efektif, dari manapun sumber suaranya asal dapat diolah dengan baik akan menjadi bekal yang penting selain dari segi penumbuhan kepedulian juga sebagai pemenuhan hak intelektual di luar dari sumber buku.
3.    Menulis sesuatu
Berangkat dari dua sumber pemenuhan hal intelektual yakni membaca dan mendengarkan tadi kita melangkah ke aspek ketiga atau hal ketiga yang harus ditanamkan pada generasi muda sebagai tahap persiapan kepemimpinan di masa mendatang yakni gemar menulis. Dengan menulis, kreatifitas generasi muda secara perlahan diasah dan ditumbuhkan. Lewat hal inilah akan lahir pemikiran-pemikiran cemerlang dari buah tangan pemikiran generasi yang tentu lahir dari dua aspek pertama tadi yakni membaca dan mendengarkan. Menulis dikatakan sebagai pengikat ilmu dan sebuah karya yang tinggal dari sejarah. Maka penumbuhan minat menulis menjadi sangat urgen setelah dua hal di atas.
4.    Berbicara di depan publik
          Tampil berbicara di depan umum menjadi hal terakhir dari empat hal yang perlu diselaraskan guna menunjang kesiapan generasi mendatang sebagai pemimpin yang ulung. Menjadi aspek terakhir setelah membaca, mendengarkan dan menulis disebabkan karena bekal atau bahan pembicaraan. Untuk bias berbicara dengan baik haruslah dengan terlebih dahulu membaca bacaan yang baik, mendengarkan perkataan yang baik lalu menyusunnya dalam tulisan yang baik. Sehingga lahirlah topic pembicaraan yang baik. Hal terakhir ini menjadi output penyaluran kebaikan kepada khalayak ramai. Buah dari perjalanan tiga hal sebelumnya. Hal inilah menjadi pelengkap empat hal yang perlu diselaraskan sebagai bahan pembekalan generasi pemimpin masa depan.

            Empat hal ini menjadi wujud konkret dalam menyiapkan generasi muda yang handal dalam memimpin di masa mendatang. Semuanya berkaitan dan saling menyokong. Untuk dapat menulis yang baik engkau harus membaca banyak buku yang baik. Untuk dapat menasehati atau berkata dengan baik engkau butuh untuk mendengarkan keluhan-keluhan dari permasalahan orang-orang dan perkataan-perkataan baik. Untuk itu mari sama-sama memperhatikan empat hal ini, menjadikannya sebagai bekal untuk mempersiapkan generasi pemimpin masa depan.


Senin, 20 April 2015

Berlapis-lapis

Di lapis-lapis keberkahan, jalan lurus dari ayat yang sekurang-kurangnya 17 kali kita lafadzkan sehari "ihdinash shiraathal mustaqiim" adalah jalan yang berkelok dan menikung, menanjak juga melongsor, membentang pun menghimpit. Di lapis-lapis keberkahan, sungguh jalan lurus itu curam dan terjal, deras lagi gemuruh, keras juga runcing.
Di lapis-lapis keberkahan, kita hidup dengan tugas mengemudi hati ini menuju Allah di jalan yg lurus. Maka pangkal kelurusan itu adalah hati yg tak pernah berbelok dr Allah sbg sesembahan yg haq. Lurus, sebab hanya pada Allah tunduknya, taatnya, dan tenteramnya. Lurus, sebab hanya untuk Allah yakinnya, pasrahnya, dan kebajikannya. Lurus, sebab hanya bersama Allah gigil takutnya, gerisik harapnya, dan getar cintanya.
Dari sini, kita berharap Allah membersamai langkah kita pada jalanNya yang lurus.