Mimpi, asa, rasa, dan dunia yang serba imaji. Serta cinta yang tak kunjung tersampaikan.
Minggu, 17 Januari 2016
Malam-Malam Pasang
Malam-malam pasang.
Dengan bapak tua yang duduk termangu di balkon rumah sakit,
bekas selang infus begitu mencolok dari sini.
Jam penantian dengan riuh orkestra kodok-kodok kota.
Saat-saat seperti ini, selalu muncul pertanyaan-pertanyaan aneh di kepalaku.
Tentang angin misalnya,
apakah yang tersambar di kulitku pernah menyambar orang lain beberapa menit sebelumnya?
Siapa-siapa saja dia?
Atau rintik2 hujan yang turun,
telah berapa lama terombang-ambing oleh angin sejak pertama kali diteteskan awan?,
lalu ke mana awan-awan yang sedari siang mengikutiku?
Ke mana perginya matahari tadi siang?
Lalu akan ke mana bintang-bintang yg kutatap malam ini?
Bulan ke mana saat siang?
Apakah ritmenya akan terus seperti itu?
Aduh, mengapa orang2 selalu mengumpamai perasaan mereka dengan benda2 langit?
Lalu jika akupun harus turut memilih, benda langit apa yang mewakili perasaanku?
(RS. Unhas- 17 Januari 2016)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar