Minggu, 12 April 2015

Malam Pertama di Surga


          Pernah baca bukunya Kak Afifah Afra Amatullah?? Judulnya Bulan Mati di Javasche Orange. Mengisahkan tentang pergulatan idealisme pra kemerdekaan. Islamisme, komunisme, dan imprealisme digambarkan sangat kental. Namun bukan sisi itu yang ingin saya tarik hikmah. Melainkan kisah Cinta dua umat manusia yang Cintanya tak biasa. Sejak kecil mereka sudah selalu bersama, bahkan digambarkan seakan mereka bersaudara(adik-kakak). Hamzah dan Rahmah. Mereka hidup dalam lingkungan pesantren Al Ikhwah, fikrah betul-betul ditanam kuat oleh penulis dalam novel ini. Namun lagi-lagi bukan itu yang saya ingin tonjolkan. Melainkan kisah Cinta yang membuat siklus air berantakan, evaporasi  air yang ada di sumber-sumbernya naik ke atmosfer menjadi awan namun justeru tumpah-ruah di pipi saya, tepat pada halaman-halaman terakhir buku ini. Tak berhenti hingga penghujung buku ini kutamatkan. 
           Tak ada aral yang begitu besar menghalangi dua hati itu bertaut. Sebab mertua yakni ayah dari Rahmah merupakan Paman sekaligus guru dari Hamzah. Restu sudah lama dia kantongi. Namun banyak hal yang tak berjalan mulus, disinilah Allah menggambarkan ujian kesabaranNya. Boleh saja kita berencana, lagi-lagi Allah-lah arsitektur perencana terbaik. Sang mertua ditangkap oleh KNIL dan dijatuhkan hukuman gantung. Namun itu tak menghalangi menyatunya dua hati, pernikahan tetap dilangsungkan. Jadilah mereka sepasang kekasih yang separuh berbahagia, separuh bahkan sepenuhnya cemas akan Sang Ayah.
           Maka sudah diputuskan, hanya beberapa jam mereka memadu kasih, belum turun matahari di ufuk barat, Hamzah dan Mahmud Ali Syah(Turki-Inggris, mutarabbi dari Hamzah, sempat terlena oleh duniawi namun kita teguh pada jihad fi sabilillah) memutuskan pergi untuk menyelamatkan sang guru. .Rahmah mencium tangan suaminya takzim. Kalimatnya menyadarkan sesiapa tentang hakikat Cinta sesungguhnya.
"Berangkatlah dengan kesungguhan hingga kau berhasil atau harus syahid karenanya, Kak Hamzah! Jangan pedulikan saya. Bidadari surga jauh lebih cantik dibanding sekadar mahluk hina bernama Rahmah ini . . "
            Jika dihadapkan situasi seperti ini, mungkin saja kita urung, baru saja menyempurnakan separuh agama lantas maju berjihad. Namun puncaknya bukan pada perpisahan ini. Mereka kembali bersitatap saat yang lebih dulu tersungkur justeru Rahmah, roboh dengan darah yang membasahi jilbabnya. Dengan sisa nyawa, mereka menikmati waktunya.
"Maaf, Kak  . . saya belum sempat membahagiakan kakak"
"Kak Hamzah . . keindahan sejati adalah tatkala kita menemukan  kesyahidan. Itu berarti, kita telah mempersembahkan jiwa kita, cinta kita tertinggi untuk Allah. Jangan kira para syuhada itu mati, Kak. .  Mereka hidup dan mendapat Rezeki. . ."
Ya, Allah . Indah betul pribadi mereka. Hamzah mengiringi napas terakhir istrinya dengan melantunkan surat At-taubah dan syahadat. Mereka berpisah dunia saat malam belum juga datang pada pernikahan hari pertama mereka. Tak lama kemudian, Hamzah pun menemui ajalnya. Syahid harga mati. Al mautu fii sabilillah asma amaninah. Mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi.
 
Sungguh indah kisah Cinta yang sumbernya dari Allah. Tak akan pernah putus bahkan hingga ajal memisahkan jasad. Malam pertama yang indah di surgaNya.
           

Catatan Perenungan 3


Menjadi Mujaddid (Pembaharu)

"Di antara manusia hanya sedikit yang beriman,
Dan di antara yang beriman hanya sedikit yg beramal,
Dan di antara yg beramal hanya sedikit yang berdakwah,
Dan di antara yang berdakwah itu hanya sedikit yang sabar,
Dan di antara yang sabar itu hanya sedikit yang benar-benar sampai ke akhir perjalanan"
(Syaikh Hasan Al Banna rahimahullah)

          Kalimat-kalimat Sang Mujaddid di atas menjadi rambu-rambu sekaligus motivasi besar bagi kita, para Syabab (Pemuda) untuk bisa melanjutkan Dakwah ini, sebagaimana awal mula pendirian Ikhwanul Muslimin oleh beliau setelah Khilafah terakhir runtuh di Turki adalah untuk mengembalikan mahkota Ummat Islam. Maka dakwah ini harus terus berlanjut hingga akhir perjalanan. Maka dari segenggam Iman kita, terbesit kemauan untuk beramal, dari amalan-amalan itu kita menjadi kuat dan sanggup untuk berdakwah. Menebar kebaikan, mengajak pada yang Haq, menghimbau untuk menjauhi yang bathil. Lalu dari perjalanan dakwah itu, Allah menguji kita dengan masalah-masalah untuk mendewasakan kita sekaligus menguji kesabaran hati kita. Dan puncak dari ujian kesabaran itu adalah berhasilkah kita sampai ke akhir perjalanan ini? Yakni saat ajal di ujung tenggorokan. Wallahu a'lam. Semoga Allah memberi kita kekuatan untuk tetap berada pada jalan ini, jalan para Mujaddid !!

Jumat, 10 April 2015

Al- Qur'an Memuat Segalanya




أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ
Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.
(QS. Fathir: 27)

Ya Allah kembali kami takjub atas kuasaMu. Tak sedikitpun lagi kami ragu atas apa-apa yang Engkau firmankan dalam kitab yang dibawa Rasul kami. Sungguh, Al-Qur'an menjadi dustur kami yang utama. Tak pernah lekang oleh waktu, berlaku sepanjang masa. Bahkan telah memberitakan apa-apa yang baru kami ketahui kemarin sore. Sungguh, segala ilmu pengetahuan ada padanya. Dan Rainbow Mountains di China ini menjadi bukti dari sekian banyak bukti. Kami tahu Rasul bahkan tak pernah ke China dan melihat gunung ini, namun segalanya termuat dalam Kitab yang dibawanya. Semua tidak lain karena Engkaulah sang penulis, yang Maha mengetahui segalanya.

Rabu, 08 April 2015

Tiga Telaga




Bukan telaga Al Kautsar yg luasnya sejauh mata memandang, di tepinya tampak wajah sumringah menyambut sesiapa yg hendak meneguk murninya air telaga, melepas dahaga. Muhammad. Dialah pemilik wajah sumringah, senyum mempesona.
Bukan pula telaga di hutan yunani. Seorang lelaki yg kita tahu namanya, Narsius asyik memandang genangan air di telaga, bukan takjub atasnya. Namun justeru asyik narsis atas ketampanan dan kesempurnaan dirinya yg nampak dari pantulan air telaga. Telaga pun narsis atas keindahannya dr bola mata narsius.
Ini hanya telaga di lembah Ramma, sulawesi selatan. Telaga Cinta. Tak seluas dua telaga di atas. Pemuda yg tiba mencoba menjamah air di telaga, sejuknya meyakinkan bahwa tak ada telaga seindah Al Kautsar, berkunjung ke sana haruslah melewati maut. Berjumpa Rasul yg dicinta. 
Dan telaga kedua dan narsius menjadi pelajaran bahwa mencinta dgn berlebihan bisa menjadi candu. Cukup mencinta sekadarnya setelah Cinta yg dalam pd sang Maha Cinta.

Alam inilah kami

Edisi menggugat di atas awan


Alam inilah kami. Kita sama-sama diciptakan oleh Dia. Namun engkau menjadi pelajaran berharga bagi kami. Darimu kami sadar akan kekerdilan kami, kehinaan kami, kelemahan kami. Sungguh, tak ada yang lebih elok dari parasmu. Awanmu yang putih teguh, gunungmu yang megah dan kokoh, bahkan saat kami melaklukkannya, ia berbalik menaklukkan kami atas rendahnya kami di hadapan TuhanMu. Lalu pepohonanmu yang rindang, hijau meneduhkan. Telaga dan sungaimu yang menampung airmu yang takkan habis. Engkau dan perangaimu yang bersahabat, seakan selalu bertunduk takzim memuji AsmaNya. Ya Allah indahnya.



   Maka inilah kami, yang selalu luput dari menjagamu, merawatmu, dan hanya bisa mencemarimu.
   Inilah kami yang tak tahu membalas budi baikmu.
   Inilah kami yang selalu mengagumi keindahanmu, namun alpa dari mewujudkan cinta atasmu.
   Alam inilah kami, yang diam-diam bermimpi menjadi sosokmu.
   Alam inilah kami, yang nanti akan menyatu denganmu.
   Dengan tanahmu yang subur.
   Tunggulah kami.

Edisi Jelajah Lembah Ramma
Tafakur Alam

Jumat, 03 April 2015

Cinta di atas Cinta

  
#KeepTarbiyah
          

Sepotong Episode
Mencintai adalah keyakinan dakwah ini. Lalu tak ada kurasa yang lebih mantap ikatannya dari ikatan Tarbiyah. Seluruh jiwa berkumpul dalam rumah kecil yang hangat. Siapapun yang sudah telanjur melebur dalam cinta akan sulit saat menjauh, gundah saat berpisah, sedih saat semua berubah. Namun tak ada kekal dalam cinta di dunia. Juga dakwah ini memberi ujian atas segala Cinta. Bahwa semua akan rapuh tanpa Cinta yang tertaut padaNya. Maka perpisahan atas cinta adalah ujian keimanan dan kesabaran sekaligus pelajaran.
      Ujian yang menguji kadar keimanan kita, tetap bertahan atau lari dari dakwah ini. Berpegang teguh atau bercerai dari ikatan yang kuat ini. Lalu bersabar atas derai atau luput dan futur hingga menjauh perlahan dari rumah ini. Sebab Tarbiyah ini semua hidup, hingga ajal menjadi pemutus tali duniawi, untuk kelak berkumpul kembali dalam JannahNya, disediakan olehNya untuk para pejuang dakwah Tarbiyah. 
      Lalu bersama ujian ada pelajaran berharga atas perpisahan. Untuk kembali memuhasabah diri atas orientasi pribadi. Allah ghoyatuna. Allah tujuan kita. Gantungkan semua padaNya. Hingga apapun yang terjadi pada sekeliling kita tak ada masalah. Sebab Allah ada di hati kita. Semoga Allah membersamai langkah-langkah teguh kita Akhi. Ana uhibbukum fillah. Cinta di atas Cinta.
      

Rabu, 01 April 2015

Membangun Indonesia

   

Lembah Ramma

      Kita selalu menunggu sembari menyalahkan tentang siapa aktor-aktor dan apa faktor yang membuat negara ini terpuruk. Dari satu kalimat hingga menjadi beberapa paragraf kita begitu lancar menyebutkannya. Gara-gara Si dia, mereka, karena factor sistemlah, perekonomianlah, dan lain sebagainya kita sudah sangat fasih menyebutkannya. Lantas apa yang berubah dari itu semua?. Negara ini akan maju dengan saling menyalahkan?. Kita akan sepakat mengatakan tidak!.
Rasulullah sudah jauh hari mengatakan bahwa kelak ada seseorang yang tangguh yang akan mendobrak konstantinopel, dia adalah seorang  pemimpin terbaik, prajuritnya adalah yang terbaik pula. Tersirat dari hal ini adalah bahwasanya pemimpin, negara, sistem dan rakyat adalah hal yang saling terkait, semua elemen harus sama baiknya.  Ini bukan tentang saling tuding-menuding siapa dalang masalah. Sepihak mengatakan pemerintah tidak becus bertugas, sistem yang sudah tidak layak, dan pernyataan-pernyataan lain yang menyulut pertengkaran. Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah maukah kita keluar dari masalah kenegaraan ini? Maukah kita ikut berperan membangun kembali Indonesia kita?
Kita semua harus sepakat akan satu hal. Bahwa kita semua bertanggung jawab memajukan negara ini, menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman kita dalam bertindak,  dan menyadari bahwa perubahan itu, kemajuan itu, dimulai dari diri masing-masing. Seperti kata Anis Matta kita harus menjadi otaknya Indonesia, tulang punggung dan juga hatinya. Maka kita harus bertekad menjadi bagian dari perubahan besar ini, kemajuan pesat ini, dengan memulai mengambil peran.
1.   Berperan sebagai panutan keluarga
Bahwa kita menjadi seorang kakak yang baik bagi adik-adik kita merupakan satu peran penting. Mengajarinya sahalat, mengaji, menghafal Al-Quran, berbakti pada orangtua, Mengabdi pada agama, masyarakat, dan Negara. Kelak adik-adik kita tahu berperan sebagai kakak yang baik adalah demikian. Ini akan terus tertular, maka sepuluh, dua puluh tahun yang akan datang seluruh anak lahir sebagai kakak yang baik. Menikah, lalu membentuk keluarga dan jadilah keluarga yang baik. Kebaikan adalah bagian dari keislaman.
 
2.   Berperan sebagai “solusi” di masyarakat
Kita terlalu sering menunggu. Sedikit-sedikit menunggu, selalu demikian. Ada masalah menuggu seorang pahlawan datang lalu membereskannya. Terkadang dalam masa penantian pahlawan itu, kita terhanyut dan tidak sadar akan masalah yang kian menumpuk. Masyarakat sudah bosan. Mereka butuh solusi. Maka jadilah pahlawan itu. Jadilah “solusi” itu. Solusi atas masalah-masalah yang dililit rakyat. Bahkan menyingkirkan duri di jalan adalah tingkatan iman ‘kan? Pahala bukan?. Maka berperanlah di masyarakt dengan baik. Jadilah sebuah solusi yang nyata bagi mereka. Kelak semua orang akan meniru kebaikan itu, berekembang dan menjadilah masyarakat yang peka, peduli terhadap masalah. Setiap orang akan menjadi pahlawan bagi sesamanya. Lahirlah masyarakat yang baik. Kebaikan adalah bagian dari keislaman.
3.   Mengabdi pada bangsa
Sekelumit permasalahan negeri ini teratasi dengan hal sederhana. Mengabdi sesuai dengan keahlian dan kesanggupan kita masing-masing. Seorang Mahasiswa mengisi tarbiyah, liqo, ta’lim atau menagajar ngaji, itu sebuah peran penting. Kelak akan hadir sosok-sosok muslim yang semangat membangun negeri ini, agama ini. Seorang yang mendedikasikan waktu kuliahnya untuk membina satu desa, mengajar di sana, membantu warga di sana, itu sebuah peran penting bagi bangsa. Membantu mengatasi masalah klasik masyarakat “mengisi perut”. Atau membantu membangun jalan, membangun fasilitas umum, membersihkan lingkungan, membuat inovasi, mengajar, dan semua hal yang akan mengisis perlahan permasalahan bangsa ini. Hingga akhirnya kita semua merasakan kesejahteraan dan ketentraman hidup di negara ini dengan keluar dari masalah-masalah tersebut. Intinya adalah mengambil peran. Lahirlah bangsa yang baik. Dan kebaikan adalah bagian dari keislaman.