Nilai Perjuangan
Arti sebuah perjuangan tidak bisa didapatkan dari buku-buku ataupun
perkataan para ulama. Namun dari pahit getirnya pengorbanan. -Sayyid
Qutb
Hey kawan, apa menurutmu arti sebuah perjuangan?
Saat kau misalnya, di tengah kesibukanmu sebagai seorang akademisi, harus meluangkan waktu-waktu istirahatmu untuk turut andil dalam perjuangan membebaskan bangsa ini.
Saat kau misalnya harus merasakan getir dan gundah saat orang-orang yang kau ajak beramal ma'ruf tak kunjung tergerak.
Saat kau misalnya harus diguyur hujan atau dibakar matahari saat menunaikan amanah perjuanganmu.
Saat kau misalnya harus tidur larut malam dan bangun di pagi buta untuk memastikan acara perjuanganmu berjalan dengan maksimal.
Saat kau bahkan harus berpanas-panasan di jalanan hanya untuk sekedar menggertak rezim yang semena-mena.
Saat kau harus membuang malumu berjualan apa saja untuk menutupi dana kegiatanmu yang kurang
Saat kau harus ke sana- ke mari mengisi lingkaran-lingkaran kecil, bercuap-cuap, atau berkhutbah tanpa gaji sepeserpun.
Apa arti semuanya bagimu kawan?
Hey kawan, mengapa kita harus berjuang?
Saat orang-orang sebaya kita memilih berleha-leha dengan dunianya. Saat kita bisa saja memilih ikut dalam arus hedonisme. Lalu mengapa kita turut berbaris dalam perjuangan ini. Padahal, boleh jadi semua yang kita senangi direnggut olehnya. Dari waktu tidur kita, waktu belajar kita, waktu-waktu bermain kita bersama teman-teman, ataukah waktu berkumpul kita bersama keluarga. Mengapa kawan?
Saat yang kau dapat dari perjuangan itu tak ada yang berwujud atau bermateri. Bahkan kau harus merelakan kulitmu yang cerah itu dipanggang matahari, dompetmu yang dulu tebal berisi pecahan uang berkopiah kini raib oleh acara-acara perjuanganmu, pun segala kesenangan dunia dewasamu habis ditelan perjuangan. Jalan yang kau pilih.
Mengapa kawan?
Hey kawan, pernahkah kau bersedih dalam perjuangan ini?
Saat engkau bahkan harus mendorong motormu pulang ke rumah karena uang bensin yang kau punya telah kau wakafkan untuk dakwah perjuanganmu.
Saat engkau bahkan harus mengikhlaskan hanya makan sehari untuk memastikan peserta acara perjuanganmu tetap bisa makan dengan lahap.
Saat engkau tertunduk sedih, kulihat jalur air mata di kedua pipimu, saat daurah yang kau harap bisa berjalan maksimal hanya dihadiri oleh dua-tiga pasang mata.
Saat teman yang kau harap dapat membantumu tak kunjung hadir di depan mata.
Saat kelelahan dan kesedihanmu hanya dibayar dengan ejekan dan cemohan.
Lalu mengapa engkau tetap berjuang?
Hey kawan, seberapa besar kadar perjuangan harus kita tanam di jiwa?
Saat orang-orang bahkan muak melihat tingkah kita.
Menganggap turun ke jalan sebagai aksi sia-sia.
Mengkerdilkan langkah-langkah kita yang murni.
Atau menghardik kita dengan kata-kata kasar.
Atau bahkan menciutkan nyali kita dengan mengancam DO atau tak dapat lagi melanjutkan perkuliahan di manapun.
Maka sebesar apa kadar perjuangan yang kau punya?
Yang tak membuatmu bergeming sedetikpun, tak ciut barang setitikpun, tak gentar walau sesenci pun.
Kawan, ajari aku cara berjuang.
Sebab jiwaku rapuh,
kadang kumemilih untuk mundur
kadang kubahkan tak tidur untuk perjuangan ini
Kawan, temani aku dalam langkah perjuangan ini
Sebab tanpamu,
kadang kumati kutu
kadang kumeradang dalam kefuturan.
Semoga Allah menguatkan langkah-langkah kaki kita dalam perjuangan.






