Senin, 01 Februari 2016

Teruntuk Saudaraku, Hasbi.


Selamat berjuang akhi.
Allah memilih antum bukan tanpa sebab
Yakini itu dalam-dalam
Hayati.
Bahwa Allah menaruh dakwah kammi poltek di pundak antum
Maka sandarkan semua hanya padaNya
Dari peluhmu nanti, lelahmu, sakitmu, perihmu, hanya mengadu padaNya
Dakwah ini tak pernah merujuk pada jumlah
Maka jangan menakar kekuatan kalian dari jumlah kalian yang berbilang jari
Jangan pernah akhi . . .
Katakan pada diri kalian.
Jika ada 1000 mujahid, engkaulah satu diantaranya
Jika ada 100 mujahid, engkau adalah satu diantaranya
Kalaupun hanya ada 10 mujahid, engkau tetap satu di dalamnya
Jikapun hanya ada 1 mujahid, engkaulah orangnya
Memang dakwah ini akan merenggut semuanya darimu.
Jangan bersedih.
Serahkan semuanya
Dari waktu tidurmu, dari waktu bermainmu atau bersantaimu
Saya selalu percaya bahwa antum lebih kuat dari yang orang lain lihat
Saya selalu percaya antum dapat memimpin teman-teman seperjuangan antum
Jangan pernah melihat dari jumlah pasukanmu
Ali bin abi thalib dgn kaki pincang dpt merobohkan benteng yg lazim dirobohkan oleh 20 org lebih
Umar pernah mengirim 3 org pejuang yang setara 3000 orang
Nabi Ibrahim sebanding dgn seluruh ummat
Dalam perang, dgn jumlah yg sdikit pasukan kaum muslimin dapat menang 
Allah lah yg menakar kadar kekuatan kaum muslimin dari kualitas mereka
Maka upgrade diri antum dan pasukan antum
Sebagaimana Sang Penakluk Konstantinopel menjaga dan meningkatkan kualitas ruhiyahnya
Saya percaya pada antum. 
Selamat berlayar Kapten.
Bawalah bahtera antum kpd kemenangan Islam dan dakwah di PNUP.

Dua Mata Bawa Pilu

Dua Mata Bawa Pilu

Dua mata bawa pilu
Satu sesak, 
Satu terpaku, terpasung, sedu
Lemah, nanar, rapuh

Dua tangan rada rengsa, lesu
Kasar, kerimut, gosong disiksa matahari
Tulang gemalai, ditempel daging sisa
Ruai, lumpuh ataukah sudah mati

Dua kaki renta, merangkak ke sana-sini
Getir, bukan mudah memaku bumi
Membuat langkah satu-dua
Sedang sendi sudah habis termakan hari

Badan lidi, persis sisa tulang
Larut dalam bungkuk, rukuk, tunduk
Menatap kosong di balik jendela
Lesu, ataukah lelah menunggu

Oh Ibu, dua matamu selalu sendu
Lalu dunia tanya padamu
Apa sakit-tersakit dari yang paling sakit?
Tapi kau hanya buang muka tanpa senyum sedetikpun
Oh Ibu, apa gerangan yang membuatmu gundah
Sekali lagi dunia tanya padamu
Apa sakit-tersakit dari yang paling sakit?
Kali ini kau malah terseok-seok bangkit tanpa satu katapun

Oh Ibu, teramat sakitkah bagimu sebuah perpisahan?
Selelah itukah menunggu sebuah pertemuan?

Itukah sakitmu Ibu?
Sakit yang paling kronis kau rasakan?
Sampai-sampai melumat habis dagingmu,
Menghabiskan sampai rintik terakhir air matamu,
Sampai-sampai kering betul tulang-belulangmu,

Oh Ibu, maka durhaka betul perantauan anakmu ini
Oh Ibu, durhaka betul perpisahan tempo hari
Sampai tega memilukanmu hingga hampir mati
Sampai lupa berkabar surat padamu
Sampai-sampai melenyapkan senyummu
Sampai kedua matamu penuh oleh pilu.

*Maafkan kami Ibu, anak-anakmu yang tak tahu diri.
*Tuhan, jangan jauhkan surga dari langkah kami.

Makassar,  hujan deras kemarin, 19 Desember 2015


Kamis, 28 Januari 2016

Hati yang Bersih


Hati yang Bersih
Siramlah hati Anda dengan air cinta dan kasih sayang sebanyak tujuh kali dan siraman ke delapan. 

Anda campur dengan debu memaafkan orang yang telah menganiaya dan mencaci Anda,
agar Anda bisa hidup dengan tenang dan bahagia. 

Anda harus membunuh kalajengking-kalajengking yang bersemayam di hati Anda dengan pisau kesabaran, kelembutan dan kemurahan hati.

Anda harus menyembelih serigala nafsu Anda yang selalu mengajak kepada kejelekan dengan pedang keimanan.

Anda harus membersihkan halaman ruh Anda dari sampah-sampah pikiran yang jelek dan hina. 

Anda juga harus menanami kebun Anda dengan pohon-pohon hikmah, bunga-bunga pengetahuan, dan mawar-mawar ilmu.

-Dikutip dari buku Cahaya Zaman- Dr. Aidh Al-Qarni

Minggu, 17 Januari 2016

Malam-Malam Pasang


Malam-malam pasang. 
Dengan bapak tua yang duduk termangu di balkon rumah sakit,
bekas selang infus begitu mencolok dari sini. 
Jam penantian dengan riuh orkestra kodok-kodok kota. 
Saat-saat seperti ini, selalu muncul pertanyaan-pertanyaan aneh di kepalaku.
Tentang angin misalnya,
apakah yang tersambar di kulitku pernah menyambar orang lain beberapa menit sebelumnya?
Siapa-siapa saja dia? 
Atau rintik2 hujan yang turun,
telah berapa lama terombang-ambing oleh angin sejak pertama kali diteteskan awan?,
lalu ke mana awan-awan yang sedari siang mengikutiku?
Ke mana perginya matahari tadi siang?
Lalu akan ke mana bintang-bintang yg kutatap malam ini?
 Bulan ke mana saat siang?
Apakah ritmenya akan terus seperti itu?
Aduh, mengapa orang2 selalu mengumpamai perasaan mereka dengan benda2 langit?
Lalu jika akupun harus turut memilih, benda langit apa yang mewakili perasaanku?

(RS. Unhas- 17 Januari 2016)

Rabu, 13 Januari 2016

T A K D I R


Sehebat itu takdir Allah.
Tak ada yang serba kebetulan. Saya selalu percaya.
Jika Allah telah jauh hari menuliskan dengan lautan penanya takdir pertemuan.
Maka tak pernah ada yang bergeser, seperti daun yang jatuh berguguran di satu titik tepat lalu dihempaskan angin. Semuanya sempurna di tanganNya.
Seperti saat Allah menakdirkan seorang Muin bertatap muka denganmu, wahai lelaki yang penuh ghiroh. 
Tak ada yang meleset, termasuk perpisahan kita hari ini. Allah telah menyelipkan banyak hikmah dan pelajaran dari rentang waktu yang singkat ini. Tak pernah kudapat pelajaran tentang semangat perjuangan dari buku2 pelajaranku, semuanya kulihat langsung darimu kawan. Tak pernah kudapat pelajaran ttg pengorbanan, lalu kulihat perihmu dan kukatakan seperti itulah pengorbanan. Tak pernah kudapat pelajaran ttg kesabaran dari buku2 tebal, lalu kusaksikan kau menahan amarahmu dalam sabar lalu dengan itu aku belajar. Tak pernah kudapati pelajaran ttg kecintaan pada dakwah, kecintaan utk jadi lebih baik sebelum engkau menunjukkan cinta itu. Singkat betul pertemuan ini ya Allah.
Seperti pertemuan lebah dan putik bunga mungkin. Atau seperti pertemuan api dan lilin. Singkat namun berkesan. Semoga Allah mengekalkan ikatan kita dalam ukhuwah meski jarak berbilang ratusan bahkan ribuan kilometer.
Muin 2016, selamat jalan kawanku, Muhammad Tri Aditya. Allah membersamai langkahmu,😭😭😭 yang mencintaimu lillahi ta'ala.

Rabu, 09 Desember 2015

Lomba Cipta Cerpen dan Puisi- Bumi Palestina







Komite Nasional untuk Rakyat Palestina Provinsi Sulawesi Selatan menyelenggarakan Lomba Cipta Cerpen dan Puisi sebagai salah satu rangkaian kegiatan Al-Quds Parenting 2015. Daftarkan diri Anda dan jadilah bagian dari para pejuang pena Al-Quds.
Syarat:
1.   Peserta adalah warga negara Indonesia dan memiliki kartu identitas (KTP/KTM/SIM/Kartu Pelajar atau Pasport Indonesia).
2.   Bersedia bergabung dalam Forum Pejuang Pena Al-Quds
3.   Peserta hanya boleh mengirimkan satu karya cerpen dan/atau puisi dengan ketentuan:
a. Tema: Bumi Palestina
b. Peserta mengirim naskah melalui email dengan subyek LOMBA CERPEN/ PUISI AL-QP dengan dilampiri dua file. Satu file berisi cerpen dan/atau puisi yang dilombakan  dan satu file lagi berisi Formulir Peserta yang dapat didownload di (https://goo.gl/eClNnr)  yang telah dilengkapi sesuai identitas penulis. Dikirim melalui email knrpsulsel@gmail.com. Serta hasil scan kartu identitas yang jelas.
c. Cerpen dan/atau puisi yang dilombakan belum pernah dipublikasikan dalam bentuk apa pun,
baik sebagian maupun seluruhnya, baik di media cetak maupun portal dan blog pribadi.
d. Cerpen atau puisi tidak sedang diikutkan dalam perlombaan yang sama.
e. Cerpen atau puisi adalah karya asli penulis.
f. Cerpen atau puisi diketik dengan menggunakan huruf Times New Roman, font 12, pada kertas A4 dengan spasi 1,5 margin 4-3-3-3. Dengan jumlah minimal 5 halaman dan maksimal 10 halaman untuk cerpen, maksimal 2 halaman (puisi) .
3. Batas akhir pengiriman naskah adalah tanggal 25 Desember 2015 pukul 23.59 WITA.
4. 10 Cerpen dan 10 Puisi Terbaik akan dibukukan dan seluruh hasil penjualan akan didonasikan untuk Palestina.

Hadiah:
Jutaan rupiah + Sertifikat tiap peserta lomba.
Pengumuman:
Pemenang lomba penulisan cerpen akan diumumkan pada 27 Desember 2015 atau pada saat Acara Al-Quds Parenting

Narahubung:
SMS/WA/Line: 0821 9316 2592 (Fadhlur)

Sabtu, 09 Mei 2015

Doa yang Menembus Langit

           

       Sumber Foto
       Dulu, Aku tak pernah bosan memandang punggungnya. Di depannya kutahu tangannya sibuk menyiapkan makanan. Sambil sesekali punggungnya berguncang karena efek tawa, tentulah aku selalu bisa bercerita tentang hal-hal lucu, walau sebenarnya sederhana. Tetap saja dia tertawa. Katanya aku bisa saja mengarang cerita aneh. Walau dari belakang, aku tahu persis raut wajahnya saat tertawa, berapa gigi yang kelihatan, selebar apa senyumnya merekah, sampai detail keriput di bawah matanya aku pun tahu. Bahkan hari ini pun, saat menulis catatan ini wajahnya masih tergambar jelas di benakku. Oh iya, aku ingat, saat ia memasak sesuatu yan membuatku bersin, aku tahu betul kalau itu tumis kangkung atau cobek-cobek kesukaanku. Aku tidak tahu pasti membedakannya, dua masakan itu serta-merta membuatku bersin. Dialah yang menuntunku mengucapkan hamdalah, sambil terus memainkan sendok penggorengan. 
            Namun aku tak hendak berkeluh tentang kehilangannya, berarti kehilangan masakan lezatnya. Itu sudah pasti, tapi bukan itu titik tekannya. Atau kehilangannya berarti kehilangan pemandangan punggungnya dari belakang yang amat kusuka. Aku menyayangkan itu, tapi ada lagi yang lebih membuatku sakit. Kehilangannya juga turut menghilangkan Doa mustajabnya, yang dahsyatnya menembus langit. Tak ada hijab antara doanya dan Rabbnya. Aku kehilangan itu. Maka tak ada lagi doa yang kudapat disetiap makanan yang masuk ke perutku sejak hari itu. Kubayangkan kalimatnya sembari menyuapku, “Makan yang banyak, biar cepat besar”. Atau kalimatnya sewaktu kusalami hendak ke sekolah “Belajar yang rajin, jangan kebanyakan main”. Ataukah waktu ingin tidur “ Kencing dulu, baru ambil wudhu, jangan lupa doa sebelum tidur”. Aku tahu bahwa semua perkataannya bagiku adalah doa. Sungguh doa yang menembus langit hingga ke arsy-Nya. Tak ada hijab yang membatasinya dengan Rabbnya. Aku kehilangan itu.