Kasih Kami
Betapa inginnya kami agar umat ini
mengetahui bahwa mereka lebih
kami cintai dari pada diri kami sendiri.
Kami berbangga ketika jiwa-jiwa kami gugur
sebagai penebus bagi kehormatan mereka,
jika memang tebusan itu yang diperlukan.
Atau menjadi harga diri bagi tegaknya kejayaan,
kemuliaan, dan terwujudnya cita-cita mereka,
jika memang itu harga yang harus dibayar.
Tiada sesuatu yang membuat kami bersikap
seperti ini selain rasa cinta yang
telah mengharubirukan hati kami,
menguasai perasaan kami, memeras habis air mata kami,
dan mencabut rasa ingin tidur dari pelupuk mata kami.
Betapa berat rasa di hati ketika kami menyaksikan
bencana yang mencabik-cabik umat ini,
sementara kita hanya sanggup menyerah
pada kehinaan dan pasrah oleh keputusasaan.
Sungguh, kami berbuat di jalan Allah
untuk kemaslahatan seluruh manusia;
lebih banyak dari apa yang kami lakukan
untuk kepentingan diri kami.
Kami adalah milik kalian, wahai saudara-saudara tercinta.
Meskipun sesaat, kami tidak akan pernah menjadi musuh kalian.
- Hasan Al-Banna
Mimpi, asa, rasa, dan dunia yang serba imaji. Serta cinta yang tak kunjung tersampaikan.
Rabu, 27 April 2016
Rabu, 06 April 2016
Selasa, 02 Februari 2016
Nilai Perjuangan
Nilai Perjuangan
Arti sebuah perjuangan tidak bisa didapatkan dari buku-buku ataupun
perkataan para ulama. Namun dari pahit getirnya pengorbanan. -Sayyid
Qutb
Hey kawan, apa menurutmu arti sebuah perjuangan?
Saat kau misalnya, di tengah kesibukanmu sebagai seorang akademisi, harus meluangkan waktu-waktu istirahatmu untuk turut andil dalam perjuangan membebaskan bangsa ini.
Saat kau misalnya harus merasakan getir dan gundah saat orang-orang yang kau ajak beramal ma'ruf tak kunjung tergerak.
Saat kau misalnya harus diguyur hujan atau dibakar matahari saat menunaikan amanah perjuanganmu.
Saat kau misalnya harus tidur larut malam dan bangun di pagi buta untuk memastikan acara perjuanganmu berjalan dengan maksimal.
Saat kau bahkan harus berpanas-panasan di jalanan hanya untuk sekedar menggertak rezim yang semena-mena.
Saat kau harus membuang malumu berjualan apa saja untuk menutupi dana kegiatanmu yang kurang
Saat kau harus ke sana- ke mari mengisi lingkaran-lingkaran kecil, bercuap-cuap, atau berkhutbah tanpa gaji sepeserpun.
Apa arti semuanya bagimu kawan?
Hey kawan, mengapa kita harus berjuang?
Saat orang-orang sebaya kita memilih berleha-leha dengan dunianya. Saat kita bisa saja memilih ikut dalam arus hedonisme. Lalu mengapa kita turut berbaris dalam perjuangan ini. Padahal, boleh jadi semua yang kita senangi direnggut olehnya. Dari waktu tidur kita, waktu belajar kita, waktu-waktu bermain kita bersama teman-teman, ataukah waktu berkumpul kita bersama keluarga. Mengapa kawan?
Saat yang kau dapat dari perjuangan itu tak ada yang berwujud atau bermateri. Bahkan kau harus merelakan kulitmu yang cerah itu dipanggang matahari, dompetmu yang dulu tebal berisi pecahan uang berkopiah kini raib oleh acara-acara perjuanganmu, pun segala kesenangan dunia dewasamu habis ditelan perjuangan. Jalan yang kau pilih.
Mengapa kawan?
Hey kawan, pernahkah kau bersedih dalam perjuangan ini?
Saat engkau bahkan harus mendorong motormu pulang ke rumah karena uang bensin yang kau punya telah kau wakafkan untuk dakwah perjuanganmu.
Saat engkau bahkan harus mengikhlaskan hanya makan sehari untuk memastikan peserta acara perjuanganmu tetap bisa makan dengan lahap.
Saat engkau tertunduk sedih, kulihat jalur air mata di kedua pipimu, saat daurah yang kau harap bisa berjalan maksimal hanya dihadiri oleh dua-tiga pasang mata.
Saat teman yang kau harap dapat membantumu tak kunjung hadir di depan mata.
Saat kelelahan dan kesedihanmu hanya dibayar dengan ejekan dan cemohan.
Lalu mengapa engkau tetap berjuang?
Hey kawan, seberapa besar kadar perjuangan harus kita tanam di jiwa?
Saat orang-orang bahkan muak melihat tingkah kita.
Menganggap turun ke jalan sebagai aksi sia-sia.
Mengkerdilkan langkah-langkah kita yang murni.
Atau menghardik kita dengan kata-kata kasar.
Atau bahkan menciutkan nyali kita dengan mengancam DO atau tak dapat lagi melanjutkan perkuliahan di manapun.
Maka sebesar apa kadar perjuangan yang kau punya?
Yang tak membuatmu bergeming sedetikpun, tak ciut barang setitikpun, tak gentar walau sesenci pun.
Kawan, ajari aku cara berjuang.
Sebab jiwaku rapuh,
kadang kumemilih untuk mundur
kadang kubahkan tak tidur untuk perjuangan ini
Kawan, temani aku dalam langkah perjuangan ini
Sebab tanpamu,
kadang kumati kutu
kadang kumeradang dalam kefuturan.
Semoga Allah menguatkan langkah-langkah kaki kita dalam perjuangan.
Senin, 01 Februari 2016
Teruntuk Saudaraku, Hasbi.

Selamat berjuang akhi.
Allah memilih antum bukan tanpa sebab
Yakini itu dalam-dalam
Hayati.
Bahwa Allah menaruh dakwah kammi poltek di pundak antum
Maka sandarkan semua hanya padaNya
Dari peluhmu nanti, lelahmu, sakitmu, perihmu, hanya mengadu padaNya
Dakwah ini tak pernah merujuk pada jumlah
Maka jangan menakar kekuatan kalian dari jumlah kalian yang berbilang jari
Jangan pernah akhi . . .
Katakan pada diri kalian.
Jika ada 1000 mujahid, engkaulah satu diantaranya
Jika ada 100 mujahid, engkau adalah satu diantaranya
Kalaupun hanya ada 10 mujahid, engkau tetap satu di dalamnya
Jikapun hanya ada 1 mujahid, engkaulah orangnya
Memang dakwah ini akan merenggut semuanya darimu.
Jangan bersedih.
Serahkan semuanya
Dari waktu tidurmu, dari waktu bermainmu atau bersantaimu
Saya selalu percaya bahwa antum lebih kuat dari yang orang lain lihat
Saya selalu percaya antum dapat memimpin teman-teman seperjuangan antum
Jangan pernah melihat dari jumlah pasukanmu
Ali bin abi thalib dgn kaki pincang dpt merobohkan benteng yg lazim dirobohkan oleh 20 org lebih
Umar pernah mengirim 3 org pejuang yang setara 3000 orang
Nabi Ibrahim sebanding dgn seluruh ummat
Dalam perang, dgn jumlah yg sdikit pasukan kaum muslimin dapat menang
Allah lah yg menakar kadar kekuatan kaum muslimin dari kualitas mereka
Maka upgrade diri antum dan pasukan antum
Sebagaimana Sang Penakluk Konstantinopel menjaga dan meningkatkan kualitas ruhiyahnya
Saya percaya pada antum.
Selamat berlayar Kapten.
Bawalah bahtera antum kpd kemenangan Islam dan dakwah di PNUP.
Dua Mata Bawa Pilu
Dua Mata Bawa Pilu
Dua mata bawa pilu
Satu sesak,
Satu terpaku, terpasung, sedu
Lemah, nanar, rapuh
Dua tangan rada rengsa, lesu
Kasar, kerimut, gosong disiksa matahari
Tulang gemalai, ditempel daging sisa
Ruai, lumpuh ataukah sudah mati
Dua kaki renta, merangkak ke sana-sini
Getir, bukan mudah memaku bumi
Membuat langkah satu-dua
Sedang sendi sudah habis termakan hari
Badan lidi, persis sisa tulang
Larut dalam bungkuk, rukuk, tunduk
Menatap kosong di balik jendela
Lesu, ataukah lelah menunggu
Oh Ibu, dua matamu selalu sendu
Lalu dunia tanya padamu
Apa sakit-tersakit dari yang paling sakit?
Tapi kau hanya buang muka tanpa senyum sedetikpun
Oh Ibu, apa gerangan yang membuatmu gundah
Sekali lagi dunia tanya padamu
Apa sakit-tersakit dari yang paling sakit?
Kali ini kau malah terseok-seok bangkit tanpa satu katapun
Oh Ibu, teramat sakitkah bagimu sebuah perpisahan?
Selelah itukah menunggu sebuah pertemuan?
Itukah sakitmu Ibu?
Sakit yang paling kronis kau rasakan?
Sampai-sampai melumat habis dagingmu,
Menghabiskan sampai rintik terakhir air matamu,
Sampai-sampai kering betul tulang-belulangmu,
Oh Ibu, maka durhaka betul perantauan anakmu ini
Oh Ibu, durhaka betul perpisahan tempo hari
Sampai tega memilukanmu hingga hampir mati
Sampai lupa berkabar surat padamu
Sampai-sampai melenyapkan senyummu
Sampai kedua matamu penuh oleh pilu.
*Maafkan kami Ibu, anak-anakmu yang tak tahu diri.
Makassar, hujan deras kemarin, 19 Desember 2015
Kamis, 28 Januari 2016
Hati yang Bersih
Hati yang Bersih
Siramlah hati Anda dengan air cinta dan kasih sayang sebanyak tujuh kali dan siraman ke delapan.
Anda campur dengan debu memaafkan orang yang telah menganiaya dan mencaci Anda,
agar Anda bisa hidup dengan tenang dan bahagia.
Anda harus membunuh kalajengking-kalajengking yang bersemayam di hati Anda dengan pisau kesabaran, kelembutan dan kemurahan hati.
Anda harus menyembelih serigala nafsu Anda yang selalu mengajak kepada kejelekan dengan pedang keimanan.
Anda harus membersihkan halaman ruh Anda dari sampah-sampah pikiran yang jelek dan hina.
Anda juga harus menanami kebun Anda dengan pohon-pohon hikmah, bunga-bunga pengetahuan, dan mawar-mawar ilmu.
-Dikutip dari buku Cahaya Zaman- Dr. Aidh Al-Qarni
Minggu, 17 Januari 2016
Malam-Malam Pasang
Malam-malam pasang.
Dengan bapak tua yang duduk termangu di balkon rumah sakit,
bekas selang infus begitu mencolok dari sini.
Jam penantian dengan riuh orkestra kodok-kodok kota.
Saat-saat seperti ini, selalu muncul pertanyaan-pertanyaan aneh di kepalaku.
Tentang angin misalnya,
apakah yang tersambar di kulitku pernah menyambar orang lain beberapa menit sebelumnya?
Siapa-siapa saja dia?
Atau rintik2 hujan yang turun,
telah berapa lama terombang-ambing oleh angin sejak pertama kali diteteskan awan?,
lalu ke mana awan-awan yang sedari siang mengikutiku?
Ke mana perginya matahari tadi siang?
Lalu akan ke mana bintang-bintang yg kutatap malam ini?
Bulan ke mana saat siang?
Apakah ritmenya akan terus seperti itu?
Aduh, mengapa orang2 selalu mengumpamai perasaan mereka dengan benda2 langit?
Lalu jika akupun harus turut memilih, benda langit apa yang mewakili perasaanku?
(RS. Unhas- 17 Januari 2016)
Langganan:
Postingan (Atom)





