Jumat, 10 April 2015

Al- Qur'an Memuat Segalanya




أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ
Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat.
(QS. Fathir: 27)

Ya Allah kembali kami takjub atas kuasaMu. Tak sedikitpun lagi kami ragu atas apa-apa yang Engkau firmankan dalam kitab yang dibawa Rasul kami. Sungguh, Al-Qur'an menjadi dustur kami yang utama. Tak pernah lekang oleh waktu, berlaku sepanjang masa. Bahkan telah memberitakan apa-apa yang baru kami ketahui kemarin sore. Sungguh, segala ilmu pengetahuan ada padanya. Dan Rainbow Mountains di China ini menjadi bukti dari sekian banyak bukti. Kami tahu Rasul bahkan tak pernah ke China dan melihat gunung ini, namun segalanya termuat dalam Kitab yang dibawanya. Semua tidak lain karena Engkaulah sang penulis, yang Maha mengetahui segalanya.

Rabu, 08 April 2015

Tiga Telaga




Bukan telaga Al Kautsar yg luasnya sejauh mata memandang, di tepinya tampak wajah sumringah menyambut sesiapa yg hendak meneguk murninya air telaga, melepas dahaga. Muhammad. Dialah pemilik wajah sumringah, senyum mempesona.
Bukan pula telaga di hutan yunani. Seorang lelaki yg kita tahu namanya, Narsius asyik memandang genangan air di telaga, bukan takjub atasnya. Namun justeru asyik narsis atas ketampanan dan kesempurnaan dirinya yg nampak dari pantulan air telaga. Telaga pun narsis atas keindahannya dr bola mata narsius.
Ini hanya telaga di lembah Ramma, sulawesi selatan. Telaga Cinta. Tak seluas dua telaga di atas. Pemuda yg tiba mencoba menjamah air di telaga, sejuknya meyakinkan bahwa tak ada telaga seindah Al Kautsar, berkunjung ke sana haruslah melewati maut. Berjumpa Rasul yg dicinta. 
Dan telaga kedua dan narsius menjadi pelajaran bahwa mencinta dgn berlebihan bisa menjadi candu. Cukup mencinta sekadarnya setelah Cinta yg dalam pd sang Maha Cinta.

Alam inilah kami

Edisi menggugat di atas awan


Alam inilah kami. Kita sama-sama diciptakan oleh Dia. Namun engkau menjadi pelajaran berharga bagi kami. Darimu kami sadar akan kekerdilan kami, kehinaan kami, kelemahan kami. Sungguh, tak ada yang lebih elok dari parasmu. Awanmu yang putih teguh, gunungmu yang megah dan kokoh, bahkan saat kami melaklukkannya, ia berbalik menaklukkan kami atas rendahnya kami di hadapan TuhanMu. Lalu pepohonanmu yang rindang, hijau meneduhkan. Telaga dan sungaimu yang menampung airmu yang takkan habis. Engkau dan perangaimu yang bersahabat, seakan selalu bertunduk takzim memuji AsmaNya. Ya Allah indahnya.



   Maka inilah kami, yang selalu luput dari menjagamu, merawatmu, dan hanya bisa mencemarimu.
   Inilah kami yang tak tahu membalas budi baikmu.
   Inilah kami yang selalu mengagumi keindahanmu, namun alpa dari mewujudkan cinta atasmu.
   Alam inilah kami, yang diam-diam bermimpi menjadi sosokmu.
   Alam inilah kami, yang nanti akan menyatu denganmu.
   Dengan tanahmu yang subur.
   Tunggulah kami.

Edisi Jelajah Lembah Ramma
Tafakur Alam

Jumat, 03 April 2015

Cinta di atas Cinta

  
#KeepTarbiyah
          

Sepotong Episode
Mencintai adalah keyakinan dakwah ini. Lalu tak ada kurasa yang lebih mantap ikatannya dari ikatan Tarbiyah. Seluruh jiwa berkumpul dalam rumah kecil yang hangat. Siapapun yang sudah telanjur melebur dalam cinta akan sulit saat menjauh, gundah saat berpisah, sedih saat semua berubah. Namun tak ada kekal dalam cinta di dunia. Juga dakwah ini memberi ujian atas segala Cinta. Bahwa semua akan rapuh tanpa Cinta yang tertaut padaNya. Maka perpisahan atas cinta adalah ujian keimanan dan kesabaran sekaligus pelajaran.
      Ujian yang menguji kadar keimanan kita, tetap bertahan atau lari dari dakwah ini. Berpegang teguh atau bercerai dari ikatan yang kuat ini. Lalu bersabar atas derai atau luput dan futur hingga menjauh perlahan dari rumah ini. Sebab Tarbiyah ini semua hidup, hingga ajal menjadi pemutus tali duniawi, untuk kelak berkumpul kembali dalam JannahNya, disediakan olehNya untuk para pejuang dakwah Tarbiyah. 
      Lalu bersama ujian ada pelajaran berharga atas perpisahan. Untuk kembali memuhasabah diri atas orientasi pribadi. Allah ghoyatuna. Allah tujuan kita. Gantungkan semua padaNya. Hingga apapun yang terjadi pada sekeliling kita tak ada masalah. Sebab Allah ada di hati kita. Semoga Allah membersamai langkah-langkah teguh kita Akhi. Ana uhibbukum fillah. Cinta di atas Cinta.
      

Rabu, 01 April 2015

Membangun Indonesia

   

Lembah Ramma

      Kita selalu menunggu sembari menyalahkan tentang siapa aktor-aktor dan apa faktor yang membuat negara ini terpuruk. Dari satu kalimat hingga menjadi beberapa paragraf kita begitu lancar menyebutkannya. Gara-gara Si dia, mereka, karena factor sistemlah, perekonomianlah, dan lain sebagainya kita sudah sangat fasih menyebutkannya. Lantas apa yang berubah dari itu semua?. Negara ini akan maju dengan saling menyalahkan?. Kita akan sepakat mengatakan tidak!.
Rasulullah sudah jauh hari mengatakan bahwa kelak ada seseorang yang tangguh yang akan mendobrak konstantinopel, dia adalah seorang  pemimpin terbaik, prajuritnya adalah yang terbaik pula. Tersirat dari hal ini adalah bahwasanya pemimpin, negara, sistem dan rakyat adalah hal yang saling terkait, semua elemen harus sama baiknya.  Ini bukan tentang saling tuding-menuding siapa dalang masalah. Sepihak mengatakan pemerintah tidak becus bertugas, sistem yang sudah tidak layak, dan pernyataan-pernyataan lain yang menyulut pertengkaran. Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah maukah kita keluar dari masalah kenegaraan ini? Maukah kita ikut berperan membangun kembali Indonesia kita?
Kita semua harus sepakat akan satu hal. Bahwa kita semua bertanggung jawab memajukan negara ini, menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman kita dalam bertindak,  dan menyadari bahwa perubahan itu, kemajuan itu, dimulai dari diri masing-masing. Seperti kata Anis Matta kita harus menjadi otaknya Indonesia, tulang punggung dan juga hatinya. Maka kita harus bertekad menjadi bagian dari perubahan besar ini, kemajuan pesat ini, dengan memulai mengambil peran.
1.   Berperan sebagai panutan keluarga
Bahwa kita menjadi seorang kakak yang baik bagi adik-adik kita merupakan satu peran penting. Mengajarinya sahalat, mengaji, menghafal Al-Quran, berbakti pada orangtua, Mengabdi pada agama, masyarakat, dan Negara. Kelak adik-adik kita tahu berperan sebagai kakak yang baik adalah demikian. Ini akan terus tertular, maka sepuluh, dua puluh tahun yang akan datang seluruh anak lahir sebagai kakak yang baik. Menikah, lalu membentuk keluarga dan jadilah keluarga yang baik. Kebaikan adalah bagian dari keislaman.
 
2.   Berperan sebagai “solusi” di masyarakat
Kita terlalu sering menunggu. Sedikit-sedikit menunggu, selalu demikian. Ada masalah menuggu seorang pahlawan datang lalu membereskannya. Terkadang dalam masa penantian pahlawan itu, kita terhanyut dan tidak sadar akan masalah yang kian menumpuk. Masyarakat sudah bosan. Mereka butuh solusi. Maka jadilah pahlawan itu. Jadilah “solusi” itu. Solusi atas masalah-masalah yang dililit rakyat. Bahkan menyingkirkan duri di jalan adalah tingkatan iman ‘kan? Pahala bukan?. Maka berperanlah di masyarakt dengan baik. Jadilah sebuah solusi yang nyata bagi mereka. Kelak semua orang akan meniru kebaikan itu, berekembang dan menjadilah masyarakat yang peka, peduli terhadap masalah. Setiap orang akan menjadi pahlawan bagi sesamanya. Lahirlah masyarakat yang baik. Kebaikan adalah bagian dari keislaman.
3.   Mengabdi pada bangsa
Sekelumit permasalahan negeri ini teratasi dengan hal sederhana. Mengabdi sesuai dengan keahlian dan kesanggupan kita masing-masing. Seorang Mahasiswa mengisi tarbiyah, liqo, ta’lim atau menagajar ngaji, itu sebuah peran penting. Kelak akan hadir sosok-sosok muslim yang semangat membangun negeri ini, agama ini. Seorang yang mendedikasikan waktu kuliahnya untuk membina satu desa, mengajar di sana, membantu warga di sana, itu sebuah peran penting bagi bangsa. Membantu mengatasi masalah klasik masyarakat “mengisi perut”. Atau membantu membangun jalan, membangun fasilitas umum, membersihkan lingkungan, membuat inovasi, mengajar, dan semua hal yang akan mengisis perlahan permasalahan bangsa ini. Hingga akhirnya kita semua merasakan kesejahteraan dan ketentraman hidup di negara ini dengan keluar dari masalah-masalah tersebut. Intinya adalah mengambil peran. Lahirlah bangsa yang baik. Dan kebaikan adalah bagian dari keislaman.

Selasa, 31 Maret 2015

Homushikku



Raga pun menua, layaknya buah di ujung petang, pasti akan masak. 

Pun Cinta, sejauh apapun mengembara dia akan berlabuh, matang, dewasa.
Juga hati, berapa kali tersayat?
 berapa kali merana?
 berapa kali terluka?
di ujung rasa pasti akan bertaut.
Maka semoga Cintamu berlabuh di sandaran yang Allah Berkahi.
Maka semoga Hatimu bertaut pada Hati yang Allah karuniai CintaNya.
Maka semoga Allah membimbing mata, hati, jiwa kalian dalam bingkai sakinahNya.
Maka semoga Allah membimbing hati kalian melewati cobaanNya.
Lalu Allah bukakan jalanNya menuju pelaminan yg Abadi, Surga Firdaus.
Dimana tak ada lagu sendu, lalu tak perlu ada hati yg terluka atau cinta yg tak tersampaikan.

Minggu, 29 Maret 2015

17 Tahun: Sebuah Penegasan

Meleburkan diri
17 tahun: Sebuah Penegasan. Bahwa KAMMI akan terus mengabdi untuk negeri. Bahwa KAMMI tidak akan melewatkan satu kebijakan pun. Bahwa KAMMI akan tetap pasang mata, keraskan suara, menggoreskan pena, turun ke masyarakat, pasang telinga, bahkan pasang badan demi Indonesia. Rangkaian jejak ‪#‎KAMMIUntukIndonesia‬.
‪#‎KAMMI‬'sDay ‪#‎ReuniAkbar‬ #KAMMI ‪#‎SeSulsel‬