Mimpi, asa, rasa, dan dunia yang serba imaji. Serta cinta yang tak kunjung tersampaikan.
Sabtu, 21 September 2013
Palestinaku
Tidak harus menjadi seorang muslim untuk ikut merasakan duka palestina. Cukup menjadi seorang manusia. Karena yang terjadi di sana merupakan tragedi kemanusiaan yg terkeji yg pernah ada. Kini, yg tersisa dr perang ada banyak. Duka tak terbendung lagi, merelakan ribuan bahkan ratusan ribu mayat bukan hal yg mudah. Tapi lebih dr itu mereka harus bertahan dlm keterpurukan. Kebutuhan akan pakaian layak, air bersih, makanan, kesehatan dan sekolah untuk generasi harapan palestina. Bantu mereka dengan donasi terbaik kita smile emotikon
Rindu-rindu
Dan diantara rindu-rindu yang menyayat hati,
ada rindu yang tulus selalu membisiki
berharap dapat bersua
menyelami keberkahannya
menyusuri keindahannya
lalu mendapatkan manisnya
buah pertemuan
menepis rindu-rindu
Dialah bulan yang kucinta
Ramadhan . .
Saat riuh orang berkata
"Bulan yang hangat telah datang"
Aku pun kegirangan
hati ini berdebar-debar
bukankah ini yang kurindukan
sebelas bulan lamanya
Dialah Ramadhan Mubarak
Diantara bulan-bulan
yang Allah rekomendasi
agar hambanya mencurahkan segenap cinta
waktu, diri, komitmen dan harta
Gugup di antara gempita
mampukah diri ini
menjamu Ramadhan dengan maksimal
Dialah Ramadhan yang kunanti
walau masih menghitung hari
untuk memeluknya dengan erat
agar nanti Dia tak kecewa
jauh hari bersiap diri
jauhi silap dekat pada Al-Quran
jauhi ghibah dekat pada Dhuha
jauhi maksiat dekat pada Shalat
Semoga Allah mempertemukan kita.
Lirik Lagu Maher Zain - So Soon
Every time I close my eyes I see you in front of me
I still can hear your voice calling out my name
And I remember all the stories you told me
I miss the time you were around (x2)
But I'm so grateful for every moment
I spent with you'Cause
I know life won't last forever
Chorus:
You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on 'cause
I know it's been too long
I've got to stop the tears, keep my faith and be strong
I'll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when
I wake up you are goneGone so soon
Night and day, I still feel you are close to me
And I remember you in every prayer that I make
Every single day may you be shaded by His mercy
But life is not the same, and it will never be the same
But I'm so thankful for every memory I shared with you
'Cause I know this life is not forever
CHORUS
There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn't help asking: “Why?”
But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we'll return, ooh
CHORUS
Lyrics: Bara Kherigi, Maher Zain & Mohamed El-KazazMelody & Arrangement: Maher ZainMixing: Ronny Lahti
I still can hear your voice calling out my name
And I remember all the stories you told me
I miss the time you were around (x2)
But I'm so grateful for every moment
I spent with you'Cause
I know life won't last forever
Chorus:
You went so soon, so soon
You left so soon, so soon
I have to move on 'cause
I know it's been too long
I've got to stop the tears, keep my faith and be strong
I'll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when
I wake up you are goneGone so soon
Night and day, I still feel you are close to me
And I remember you in every prayer that I make
Every single day may you be shaded by His mercy
But life is not the same, and it will never be the same
But I'm so thankful for every memory I shared with you
'Cause I know this life is not forever
CHORUS
There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn't help asking: “Why?”
But I got through all the pain when I truly accepted
That to God we all belong, and to Him we'll return, ooh
CHORUS
Lyrics: Bara Kherigi, Maher Zain & Mohamed El-KazazMelody & Arrangement: Maher ZainMixing: Ronny Lahti
Berapa Lama?
Berapa lama engkau akan berada di jalan ini,
jika yg kau ikuti adalah tokoh,
jika yg kau cari adalah wanita,
jika yg membuatmu betah adalah sosok,
jika kau bergantung pada makhluk yg fana.
Berapa lama? Lalu kamu akan lari dari jalan para pejuang ini.
Ketika sang tokoh mulai khilaf,
Ketika wanitamu menjauh,
Ketika sosok-sosok itu mulai ingkar
Ketika mereka yang kau ikuti mulai bubar.
Hari ini juga, perbaharui niat.
Hari ini juga, hilangkan semua ketergantungan.
Hari ini juga, gantungkan semuanya hanya pada Allah.
Sebab Dialah yg kekal, yg akan membalas semua jerihmu, juga payahmu.
Dan semoga hanya maut yg memisahkan kita dari jalan ini.
Dan semoga hanya maut yang membatasi kita dari dakwah ini.
Dan semoga hanya maut yg membuat kita berhenti, beristirahat.
Dari semua lelah ini, letih ini, hingga Allah membalas semuanya dengan JannahNya.
Jumat, 20 September 2013
Surat Muhammad Beltaji pada Asmaa, Putrinya yang Syahid di Rabaa Al Adawiya
Putriku tercinta dan
guruku yang mulia.. Asma al-Beltaji, aku tidak mengucapkan selamat tinggal
padamu, tapi kukatakan bahwa besok kita akan bertemu lagi.
Kau telah hidup
dengan kepala terangkat tinggi, berjuang melawan tirani dan belenggu serta
mencintai kemerdekaan. Kau telah hidup sebagai seseorang yang diam-diam mencari
cakrawala baru untuk membangun kembali bangsa ini, memastikan tempatnya di
tengah-tengah peradaban.
Kau tidak pernah
dijajah oleh perkara sia-sia yang menyibukkan para remaja se usiamu. Meskipun
pendidikan tidak mampu memenuhi aspirasi dan ketertarikan mu, kau selalu yang
terbaik di kelas
Aku tidak punya cukup
waktu untuk membersamaimu dalam hidup singkat ini, terutama karena waktuku
tidak memungkinkan untuk menikmati kebersamaan denganmu. Terakhir kali kita
duduk bersama di Rabaa Al Adawiya kau berkata padaku, “Bahkan ketika Ayah
bersama kami, Ayah tetap sibuk” dan kukatakan “Tampaknya bahwa kehidupan ini
tidak akan cukup untuk menikmati setiap kebersamaan kita, jadi aku berdoa
kepada Tuhan agar kita menikmatinya kelak di surga.”
Dua malam sebelum kau
dibunuh, aku melihatmu dalam mimpiku dengan gaun pengantin putih dan kau
terlihat begitu cantik. Ketika kau berbaring di sampingku aku bertanya,
“Apakah ini malam pernikahanmu?” kau menjawab, “Waktunya adalah di sore hari
Ayah, bukan malam”. Ketika mereka bilang kau dibunuh pada Rabu sore aku mengerti
apa yang kau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai martir.
Kau memperkuat keyakinan ku bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita
berada pada kebatilan.
Aku merasa sangat
terluka karena tidak berada di perpisahan terakhirmu dan tidak melihatmu untuk
terakhir kalinya, tidak mencium kening mu, dan memiliki kehormatan untuk
memimpin shalat jenazah mu. Aku bersumpah demi Allah sayang, aku tidak takut
kehilangan nyawaku atau penjara yang tidak adil, tapi aku ingin membawa pesan yang
kau telah berkorban nyawa untuk-Nya, untuk menyelesaikan revolusi, untuk menang
dan mencapai tujuannya.
Jiwamu telah
dimuliakan dengan kepala terangkat tinggi melawan tiran. Peluru tajam telah
membelah dadamu. Yang menurutku luar biasa dan penuh dengan kebersihan jiwa.
Aku yakin bahwa kau jujur kepada Allah dan Dia telah memilihmu di antara kami,
memberimu kehormatan dengan pengorbanan.
Akhirnya, putriku
tercinta dan guru ku yang mulia… aku tidak mengucapkan selamat tinggal, tapi
aku mengucapkan sampai jumpa kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta
dan sahabat-sahabatnya di surga, dimana keinginan kita untuk menikmati
kebersamaan kita akan menjadi kenyataan. (piyungan)
__
NB: Asmaa Mohamed El Beltaji berusia 17 tahun dan adalah antara yang dibunuh pada tragedi berdarah di Medan Rab’ah (14/8/2013). Beliau adalah putri satu-satunya Mohammed El Beltaji, seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin
__
NB: Asmaa Mohamed El Beltaji berusia 17 tahun dan adalah antara yang dibunuh pada tragedi berdarah di Medan Rab’ah (14/8/2013). Beliau adalah putri satu-satunya Mohammed El Beltaji, seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin
Pintu Bisu
Pintu Bisu
![]() |
| Sumber: Baltyra.com |
Tuh kan benar apa kataku. Dia bersedih lagi karena mereka.
“mama maunya apa sih ?” ungkap pria setengah abad berkata cukup keras.
“ha ? justru papa yang maunya apa ?” timpal seorang wanita seperempat abad.
Dia
hanya terus menangis, setelah melabrakku begitu keras. Sambil terus
mendengar kecamuk di telinganya. Kasihan dia. Begitu malang hidupnya.
Orang tuanya tak lagi peduli terhadapnya. Mereka lebih memilih
mempertahankan egonya masing-masing, malamnya diisi dengan perang mulut,
bersisa Ali bersandar padaku, menangis sejadi-jadinya. Masih terlalu
dini untuknya bersedih, mestinya saat ini dia menikmati masa-masa
dimanja orang tuanya, tawa ringan bersamanya, pelukan hangat di
sepanjang masa kecilnya atau sekedar perhatian kecil tentang tahun
pertamanya sekolah. Namun takdir berkata lain untuknya.
“Sampai
kapan mama mau kerja di sana ? Pergi pagi buta, pulang di sepertiga
malam. Aku jadi curiga” dengan nada sinis pria tadi kembali melawan.
Terasa aroma amarahnya, meledak-ledak ia mengurung lawan bicaranya yang
baru saja datang.
Sejak
maret tahun lalu setahuku. Tepat di depanku Ibu Ali membulatkan tekad
bekerja di perusahan swasta. Sebelumnya Dia tumpahkan semua
kebimbangannya di belakangku, tangisannya membuatku tercengang, Ia
sempat ragu menjemput pekerjaan ini. Jam kerjanya normal seperti
perusahan lain, namun lokasi perusahaan yang begitu jauh membuatnya
hanya sekejap mata di rumah. Bus dan kereta api, dua hal yang merebut
waktu manisnya bersama keluarga, ini harus diterimanya demi keluarganya
pula. Untuk sampai di tempat kerjanya, Ia harus duduk manis di halte
sejak pagi buta menunggu bis, agar sampai di terminal kereta tepat
waktu. Apalagi perusahaan tempatnya bekerja menerapkan aturan jam kerja
begitu ketat, telat sedetik saja bisa membuat gajinya terancam. Sempat
dia berpikir untuk berhenti karena terlampau sakit meninggalkan
keluarga, namun apa daya, gaji yang menggiurkan dan sulitnya mencari
pekerjaan bagus di kota, membuatnya urung untuk tunduk pada
pemikirannya. Aku hanya iba pada Ali. Jika Ali tak begadang semalaman
suntuk menunggunya, ia hanya dapat melihatnya selepas subuh, begitu
cepat. Sesaat. Bahkan terkadang hanya melihat punggung Ibunya yang
terburu-buru menuruni tangga depan kamar Ali . Ibu Ali adalah sosok yang
kuat, Aku menyaksikannya saat dia tidur di samping Ali, normalnya ia
tidur kurang dari empat jam, sesekali ia menyeka air matanya saat
memeluk Ali sembari mencoba tidur, entah apa yang ia simpan di dalam
hatinya. Sejak suaminya berubah menjadi penggonggong pekerjaannya, ia
jadi lebih sering tidur bersama Ali.
Sebenarnya
baru belakangan ini mereka saling melempar kata-kata sinis di depanku,
di depan kamar Ali. Karena sebelumnya ayah Ali menyetujui pekerjaan
istrinya, bahkan sangat senang ia dapat diterima kerja. Karena dia
sendiri telah mengaku tak bisa lagi bekerja. Ia frustasi. Puluhan
asetnya hilang diambil alih, perusahaan-perusahaannya mandek, segala
investasinya raib . Segalanya bermula saat ia berada di puncak, ia
terlampau bangga, lalu jatuh hanya dengan sekali tepukan. Sahabatnya
yang membersamai kerjanya menepuknya dengan tusukan dari belakang.
Segala yang dimilikinya lenyap. Habis bersisa rumah warisan orang
tuanya, kegilaan dan trauma mendalam di jiwanya. Aku tahu hal ini karena
kesombongannya yang meledak-ledak di depanku, juga amukannya
menghamburkan seisi ruang tamu, dan sekali meninjuku hingga membuat
kepalannya meneteskan darah. Dan Ali pada saat itu berada di belakangku,
hanya menangis sejadi-jadinya. Jangan kira Aku ini hanya pintu mati
yang tak berperasaan. Bahkan Aku lebih mengerti Ali dibanding mereka ! .
“Sampai papa bekerja kembali ! “ di tatapnya dengan sangar pria itu.
“Aku
juga capek kerja ini! terserah kamu mau curiga apa padaku. Tapi mau
bagaimana lagi ? kita mau makan apa tanpa kerjaan ini ?” lanjutnya mulai
meneteskan air mata.
“brakk
. .” Ali menutupku sekeras-kerasnya, kekuatan ini tak lazim untuk anak
seusianya, mungkin karena emosinya memuncak. Hendak kemana kau Ali ?
tetaplah di sini, jangan hiraukan mereka. Ali jangaaann . .
Aku
lupa bahwa sekuat apapun aku menahannya, tetap saja ia akan pergi. Aku
hanya pintu, diam di tempat, mematung, aku tak dapat menjangkaunya,
meneriakkan kata-kata untuknya, meski begitu jeli membaca hatinya. Aku
bisu. Aku tak dapat menahannya.
“Papa
dan mama jahat! Aku benci kalian” Kudengar dengan jelas kata-kata Ali
membisukan kedua orang tuanya. Sunyi, begitu hening, tersisa isak tangis
Ali yang sebenarnya dari tadi ia coba tahan. Tangan mungilnya terus
berusaha menghapus air matanya. Tak lama berselang kusaksikan Ali lari
sekencang-kencangnya menuju tangga . Ditinggal keduanya mematung di
sana, kaku, membisu . tak ada tanggapan sedikitpun dari mereka. Hanya
disaksikan anaknya berlari menuju tangga.
Aliiii
jaaangaaaannn . . . Aku melihat selang AC yang bocor mengeluarkan air
tepat di ubin pertama sebelum tangga. Heyy kaliaann lihat genangan itu,
Ali akan jatuh karenanya. Cepat bertindak. Kumohon . .
“blaaakkk . .”
“Aaaaaaa
. . . .” Ali menjerit sangat keras sebelum membisu, tak berdaya, entah
tak bernyawa lagi mungkin. Tangis Ibunya mengisyaratkan itu, di ujung
tangga, jauh dari diriku yang sendiri berlinang kesedihan. Aku memang
hanya pintu, benda mati, tapi Aku lebih mengerti perasaannya. Aku selalu
ada untuk dia banting, lalu bersandar di belakangku. Tempat dia
menangis. Karena kalian yang tak memberinya kesempatan untuk bahagia.
Sekarang dia tak lagi bernyawa, sama sepertiku. Tak ada lagi dia yang
menemaniku di sini.
**
Kini,
di penghujung maret hanya ada kamu yang sesekali menangis, bersandar di
belakangku. Sembari menikmati kenangan Ali dalam sebuah frame foto.
Sama sepertimu Aku pun terkena pilu itu. Ali sejak dulu bersandar padaku
dari semua kesedihan yang kalian buat. Andai kalian sesaat melepas ego
masing-masing, demi Ali. Untuk membuatnya sedikit berbahagia sebelum dia
pergi . Ah, bodoh ! semua sudah terlambat . Aku pun terlambat memberitahumu. Aku lupa lagi. Aku hanya benda mati. Walau berbicara tetap saja bisu olehmu. Sungguh, bisu ini begitu membelenggu
Kamis, 14 Maret 2013
Belajar Membenci
Aku membencimu !!!
Dan Dia. Juga Mereka
.
Kalian semua . .
Aku muak dengan
Kalian semua !!!
Kamu pertama, ,
Seperti burung yang
berkicau sekenanya
Lalu lupa akan
dirinya. Itu kamu !! Munafik !!
Dia,,
Kalian saudara kembar
. Persis. Serupa.
Lain di mulut. Lain
di hati. Lain di sikap.
PENGECUUTTT . .!!!!
Apalagi Mereka,,
Berkumpul bak
gerombolan kuda nil.
Saling berbisik.
Menghujat. Main belakang.
Ahh, , benci dengan
semua itu !!
Dan Aku, ,
Lebih hina dari
kalian semua.
Aku masih belia. Masih
belajar membenci.
Bukan, ,
Bukan membenci Kalian.
Tapi, ,
Keburukan itu . .
Langganan:
Postingan (Atom)





Tidak ada komentar:
Poskan Komentar