Pintu Bisu
![]() |
| Sumber: Baltyra.com |
Tuh kan benar apa kataku. Dia bersedih lagi karena mereka.
“mama maunya apa sih ?” ungkap pria setengah abad berkata cukup keras.
“ha ? justru papa yang maunya apa ?” timpal seorang wanita seperempat abad.
Dia
hanya terus menangis, setelah melabrakku begitu keras. Sambil terus
mendengar kecamuk di telinganya. Kasihan dia. Begitu malang hidupnya.
Orang tuanya tak lagi peduli terhadapnya. Mereka lebih memilih
mempertahankan egonya masing-masing, malamnya diisi dengan perang mulut,
bersisa Ali bersandar padaku, menangis sejadi-jadinya. Masih terlalu
dini untuknya bersedih, mestinya saat ini dia menikmati masa-masa
dimanja orang tuanya, tawa ringan bersamanya, pelukan hangat di
sepanjang masa kecilnya atau sekedar perhatian kecil tentang tahun
pertamanya sekolah. Namun takdir berkata lain untuknya.
“Sampai
kapan mama mau kerja di sana ? Pergi pagi buta, pulang di sepertiga
malam. Aku jadi curiga” dengan nada sinis pria tadi kembali melawan.
Terasa aroma amarahnya, meledak-ledak ia mengurung lawan bicaranya yang
baru saja datang.
Sejak
maret tahun lalu setahuku. Tepat di depanku Ibu Ali membulatkan tekad
bekerja di perusahan swasta. Sebelumnya Dia tumpahkan semua
kebimbangannya di belakangku, tangisannya membuatku tercengang, Ia
sempat ragu menjemput pekerjaan ini. Jam kerjanya normal seperti
perusahan lain, namun lokasi perusahaan yang begitu jauh membuatnya
hanya sekejap mata di rumah. Bus dan kereta api, dua hal yang merebut
waktu manisnya bersama keluarga, ini harus diterimanya demi keluarganya
pula. Untuk sampai di tempat kerjanya, Ia harus duduk manis di halte
sejak pagi buta menunggu bis, agar sampai di terminal kereta tepat
waktu. Apalagi perusahaan tempatnya bekerja menerapkan aturan jam kerja
begitu ketat, telat sedetik saja bisa membuat gajinya terancam. Sempat
dia berpikir untuk berhenti karena terlampau sakit meninggalkan
keluarga, namun apa daya, gaji yang menggiurkan dan sulitnya mencari
pekerjaan bagus di kota, membuatnya urung untuk tunduk pada
pemikirannya. Aku hanya iba pada Ali. Jika Ali tak begadang semalaman
suntuk menunggunya, ia hanya dapat melihatnya selepas subuh, begitu
cepat. Sesaat. Bahkan terkadang hanya melihat punggung Ibunya yang
terburu-buru menuruni tangga depan kamar Ali . Ibu Ali adalah sosok yang
kuat, Aku menyaksikannya saat dia tidur di samping Ali, normalnya ia
tidur kurang dari empat jam, sesekali ia menyeka air matanya saat
memeluk Ali sembari mencoba tidur, entah apa yang ia simpan di dalam
hatinya. Sejak suaminya berubah menjadi penggonggong pekerjaannya, ia
jadi lebih sering tidur bersama Ali.
Sebenarnya
baru belakangan ini mereka saling melempar kata-kata sinis di depanku,
di depan kamar Ali. Karena sebelumnya ayah Ali menyetujui pekerjaan
istrinya, bahkan sangat senang ia dapat diterima kerja. Karena dia
sendiri telah mengaku tak bisa lagi bekerja. Ia frustasi. Puluhan
asetnya hilang diambil alih, perusahaan-perusahaannya mandek, segala
investasinya raib . Segalanya bermula saat ia berada di puncak, ia
terlampau bangga, lalu jatuh hanya dengan sekali tepukan. Sahabatnya
yang membersamai kerjanya menepuknya dengan tusukan dari belakang.
Segala yang dimilikinya lenyap. Habis bersisa rumah warisan orang
tuanya, kegilaan dan trauma mendalam di jiwanya. Aku tahu hal ini karena
kesombongannya yang meledak-ledak di depanku, juga amukannya
menghamburkan seisi ruang tamu, dan sekali meninjuku hingga membuat
kepalannya meneteskan darah. Dan Ali pada saat itu berada di belakangku,
hanya menangis sejadi-jadinya. Jangan kira Aku ini hanya pintu mati
yang tak berperasaan. Bahkan Aku lebih mengerti Ali dibanding mereka ! .
“Sampai papa bekerja kembali ! “ di tatapnya dengan sangar pria itu.
“Aku
juga capek kerja ini! terserah kamu mau curiga apa padaku. Tapi mau
bagaimana lagi ? kita mau makan apa tanpa kerjaan ini ?” lanjutnya mulai
meneteskan air mata.
“brakk
. .” Ali menutupku sekeras-kerasnya, kekuatan ini tak lazim untuk anak
seusianya, mungkin karena emosinya memuncak. Hendak kemana kau Ali ?
tetaplah di sini, jangan hiraukan mereka. Ali jangaaann . .
Aku
lupa bahwa sekuat apapun aku menahannya, tetap saja ia akan pergi. Aku
hanya pintu, diam di tempat, mematung, aku tak dapat menjangkaunya,
meneriakkan kata-kata untuknya, meski begitu jeli membaca hatinya. Aku
bisu. Aku tak dapat menahannya.
“Papa
dan mama jahat! Aku benci kalian” Kudengar dengan jelas kata-kata Ali
membisukan kedua orang tuanya. Sunyi, begitu hening, tersisa isak tangis
Ali yang sebenarnya dari tadi ia coba tahan. Tangan mungilnya terus
berusaha menghapus air matanya. Tak lama berselang kusaksikan Ali lari
sekencang-kencangnya menuju tangga . Ditinggal keduanya mematung di
sana, kaku, membisu . tak ada tanggapan sedikitpun dari mereka. Hanya
disaksikan anaknya berlari menuju tangga.
Aliiii
jaaangaaaannn . . . Aku melihat selang AC yang bocor mengeluarkan air
tepat di ubin pertama sebelum tangga. Heyy kaliaann lihat genangan itu,
Ali akan jatuh karenanya. Cepat bertindak. Kumohon . .
“blaaakkk . .”
“Aaaaaaa
. . . .” Ali menjerit sangat keras sebelum membisu, tak berdaya, entah
tak bernyawa lagi mungkin. Tangis Ibunya mengisyaratkan itu, di ujung
tangga, jauh dari diriku yang sendiri berlinang kesedihan. Aku memang
hanya pintu, benda mati, tapi Aku lebih mengerti perasaannya. Aku selalu
ada untuk dia banting, lalu bersandar di belakangku. Tempat dia
menangis. Karena kalian yang tak memberinya kesempatan untuk bahagia.
Sekarang dia tak lagi bernyawa, sama sepertiku. Tak ada lagi dia yang
menemaniku di sini.
**
Kini,
di penghujung maret hanya ada kamu yang sesekali menangis, bersandar di
belakangku. Sembari menikmati kenangan Ali dalam sebuah frame foto.
Sama sepertimu Aku pun terkena pilu itu. Ali sejak dulu bersandar padaku
dari semua kesedihan yang kalian buat. Andai kalian sesaat melepas ego
masing-masing, demi Ali. Untuk membuatnya sedikit berbahagia sebelum dia
pergi . Ah, bodoh ! semua sudah terlambat . Aku pun terlambat memberitahumu. Aku lupa lagi. Aku hanya benda mati. Walau berbicara tetap saja bisu olehmu. Sungguh, bisu ini begitu membelenggu

Tidak ada komentar:
Posting Komentar