Selasa, 29 Juli 2014

Kece' Melayu Pattani


Di pintu gerbang Fatoni University


Bahasa Melayu Pattani dikenal dengan sebutan Yawi atau bahasa Jawi. Kalau saya sih bilangnya agak mirip logat betawi, ada bugisnya, beda tipis dengan bahasa melayu Malaysia. Hehehe . .
Kece' itu berarti bercakap atau berbicara.
Orang Pattani memegang teguh bahasa leluhur mereka dan tetap mempelajari dan menguasai bahasa Thailand.

Makan = Make
Minum = Minum juga ji
Tidur = Tidu
Pergi = Pigi
Sikat = Sike
Banyak = Banyo
Cantik = Mole'
Puasa = Puaso
Buka = Buko
Motor = Mutu
Mobil = Keto (Berasal dari kereta *melayu)

Senin, 28 Juli 2014

Lebaran yang tak biasa

Save Palestine-setelah shalat ID

Bersama Keluarga Ust. Luthfi
Ramadhan penuh kejutan, ditutup Lebaran yang tak biasa. Ada sedih, juga gembira. Lebaran di negeri orang menjadi catatan perjalanan tersendiri. Malamnya sempat menangis karena kerinduan (home sick) serasa ingin membuka pintu ajaib doraemon menuju rumah kesayangan. Namun itu episode yang tak mungkin ada. Aku sekarang di sini, di Pattani. Entah apapun kebiasaan orang berlebaran di sini akan kuhadapi. Juga tentang kesedihan berlebaran di Palestina. Teramat menyedihkan. Semoga mereka yang mati bergelar syuhada, lalu yang hidup dapat bertahan dan berlebaran dengan senyum yang merekah. Aamiin .

Oh iya, bentuk ketupat di sini berbeda dan berukuran kecil dan lucu. Tak ada opor ayam :(. Adanya gulai kambing dicocol roti. Harus kuat hadapi makanan di sini :D bisa-bisa berat badan naik coyyy

Sabtu, 26 Juli 2014

10 Terakhir Bulan Cinta

 Setelah sehari berjalan mengelilingi kota Pattani kami memutuskan untuk I'tikaf di mesjid Pakistan yang terletak di tengah kota Pattani.















Rabu, 23 Juli 2014

Pattani dan Petani

Simbol Perlawanan Rakyat

       Ya Allah terima kasih atas hadiahMu di bulan penuh berkah ini. Perjalanan menakjubkan Malaysia- Hat Yai, lalu Hat Yai- Pattani, Thailand. Sungguh Allah penuh kejutan. Perjalanan menempuh waktu 8 jam untuk sampai ke Hat Yai menggunakan Bus. Tak ada jalanan dengan "lesung pipi" semuanya mulus. Dan Lancar, tak ada macet sedikitpun. Lalu dari Hat Yai naik minibus untuk sampai ke Pattani, daerah mayoritas muslim di Thailand. Allahu Akbar. Negeri hasil tani yang amat kaya. Negeri Petani. Memang itu asal kata Pattani. Simbol Meriam adalah simbol perlawanan atas penjarahan militer thailand yang bersekongkol dengan Inggris pada masa silam. pattani sejatinya merupakan negeri melayu di perbatasan Malaysia. Muslim Tulen. Namun penghianatan Militer Thailand, padahal pattani telah membantunya melawan kamboja(kalau tidak salah ingat). Justeru dibalas dengan penjajahan bersama Inggris. Maka jadilah pattani bagian dari Thailand

         Tak seperti di Indonesia, di sini sangat dapat dibedakan muslim dan non muslim. Dari pakaiannya, semua muslimah akan terlihat memakai Jilbab. Sungguh luar biasa. Tak ada keraguan pada muslimah untuk tidak mengenakan hijab. Berbeda jauh dengan muslimah di Indonesia yang masih ada yang enggan berjilbab.

          Pertanian merupakan mata pencaharian mayoritas rakyat Pattani. Kelihaian dan ketekunan menghasilkan produk-produk alam yang luar biasa berkualitas. Dari Beras terbaik, langsat termanis, durian montong, dan banyak sekali sayur-mayur segar dan buah-buahan bergizi tinggi. Negeri ini amatlah subur. Subhanallah.

Selasa, 22 Juli 2014

Negeri Ipin Upin

Sehari di Malaysia Sebelum ke Thailand
  
KLIA Express


Bandara Malaysia

           Catatan perjalanan bersama Ust. Luthfi. Perjalanan melelahkan dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin- Bandara Internasional Soekarno Hatta- Bandara Internasional Kuala Lumpur Malaysia. Di bandara, sempat berlarian untuk bisa mendapatkan tiket kloter terakhir perjalanan Bandara-Puduraya naik kreta ekspres. Alhamdulillah dapat. Dijemput di Malaysia oleh seorang Ikhwan, dijamu makan malam (setelah di bandara hanya berbuka roti) dengan menu roti lagi(tapi beda rasa) dan teh tarik. Nginap di hotel dekat tempat makan. Bersih, rapi, resepsionisnya ramah. Tidur dengan nyenyak untuk bangun sahur. Tak ada perbedaan waktu antara Malaysia-Makassar, hanya saja jam 7 Makassar adalah jam 6 nya Malaysia. Pagi buta orang Melayu sudah keluar bertebaran di muka bumi mencari rezki yang halal. Semoga ketemu Upin Ipin hehehe ^^

Kamis, 19 Juni 2014

Belajar dari sang penulis Serial Cinta

Bersama Ust. Anis, entah rumah ke berapa,  yang pasti penuh dengan buku
Perjalanan ke Jakarta bukan untuk liburan. Namun memegang misi untuk pengajuan ke MK atas pelanggaran-pelanggaran pemilu legislatif di Sulawesi Selatan. Allah berkehendak lain, kejutannya adalah saya dapat bertemu dan minta buku (hehehe )di rumah sang penulis Serial Cinta. Sebenarnya ada banyak buku yang sangat ingin kuambil, tapi sungkan. hihihi . .

Kuanggap ini bagian dari perjalanan penting atas kesibukan sebulan lebih meng"kutu"i lembar demi lembar C1 dan D1. Yakni tentang menyertakan cinta dalam setiap episode. Sebab dengan cinta, yang semula berat akan terasa ringan, yang semula sulit terasa sangat mudah. Seperti tak ada hambatan. Sertakan cinta yang utuh, yakni cintaNya, sang pemilik Cinta.

Minggu, 05 Januari 2014

Rekam Jejak Basah



                Rindu itu kembali memuncak saat melihat potongan-potongan jejak itu, saat basah memenuhi ruang rindu juga pertemuan kita. Saat itu aku hanya agresif mengajak kalian melepas penat. Begitu rapi hinggap di benak kita oleh sekelumit tugas menyebalkan gambar teknik. Tidak begitu menyebalkan sih, karena kami menyelinginya dengan canda, tawa yang menggelitik, juga persahabatan yang begitu kental. Belum sampai satu semester kita bersua di sini, namun kekentalan persahabatan ini serupa dipupuk belasan tahun lamanya, begitu memesona, sedap dipandang. Bagaimana tidak ?, di setiap sisi ruang pertemuan kita selalu dibumbuhi senyum manis, keceriaan bebalut tawa ringan nan gurih, tak ada air mata setetespun. Jejak ini terus kita rekam, agar kelak keceriaan ini berganti haru yang menyejukkan dan menjadi pelajaran berharga bagi anak cucu kita tentang arti sebuah persahabatan, pertemanan, kesetiaan, dan betapa indahnya kebersamaaan dalam meraih cita-cita.
Kini kuajak kalian merekam jejak basah saat jeda ini. Melupakan sejenak rutinitas begadang disibuki tugas yang enggan usai. Beberapa dari kalian mungkin urung untuk pergi, namun Aku tetap menunggu di kotaku, di balkon rumahku. Rintik sudah usai sejak semalaman suntuk, menyisakan genangan di beberapa permukaan yang serupa mangkok. Sesekali kuintip jalan itu, berharap kalian segera muncul, agar kita bisa mulai membuat jejak, di sini, di kotaku, yang bagiku serupa bilik antar ruang yang keindahannya hanya dirasakan oleh mereka yang memakai hatinya, dan kini akan kuajak kalian menyimak salah satu sisi di rumah dunia nyata kita, di dalam bilik kota Maros. Bantimurung, dengan filosofisnya membanting kemurungan, harapku dapat membanting semua penat kita, menggantinya dengan keceriaan, yang akan kita rekam bersama, jejak-jejak basah kita di setiap sudut wahananya. 










Dan kini, aku hanya akan terus mengajak kalian untuk me-list jadwal trip kita selanjutnya, merekam setiap jejak-jejak hangat kita, hanya di pulau yang menyerupai abjad K berkelok, di rumah kita, di kamar-kamar kita, di setiap bilik-bilik kita, kuharap cinta ini akan terus ada, tak peduli situasi sedang kacau, tak peduli suasana sedang muram, persahabatan ini akan terus mengental, tak akan cair, karena dia ada jauh tersimpan rapi di hati-hati kita. Akan terus kuabstrakkan memori jejak ini, hingga kelak kita hanya dapat tertawa dan menangis sendu bernostalgia menikmati kecemerlangan persahabatan ini.