Sabtu, 21 September 2013

Lirik Lagu Maher Zain - So Soon

Every time I close my eyes I see you in front of me
I still can hear your voice calling out my name 
And I remember all the stories you told me 
I miss the time you were around (x2)
But I'm so grateful for every moment 
I spent with you'Cause 
I know life won't last forever

Chorus: 
You went so soon, so soon 
You left so soon, so soon
I have to move on 'cause 
I know it's been too long
I've got to stop the tears, keep my faith and be strong 
I'll try to take it all, even though it’s so hard
I see you in my dreams but when 
I wake up you are goneGone so soon

Night and day, I still feel you are close to me 
And I remember you in every prayer that I make  
Every single day may you be shaded by His mercy
But life is not the same, and it will never be the same 
But I'm so thankful for every memory I shared with you
'Cause I know this life is not forever

CHORUS
There were days when I had no strength to go on
I felt so weak and I just couldn't help asking: “Why?” 
But I got through all the pain when I truly accepted 
That to God we all belong, and to Him we'll return, ooh

CHORUS
Lyrics: Bara Kherigi, Maher Zain & Mohamed El-KazazMelody & Arrangement: Maher ZainMixing: Ronny Lahti

Berapa Lama?



Berapa lama engkau akan berada di jalan ini,
jika yg kau ikuti adalah tokoh,
jika yg kau cari adalah wanita,
jika yg membuatmu betah adalah sosok,
jika kau bergantung pada makhluk yg fana.
Berapa lama? Lalu kamu akan lari dari jalan para pejuang ini.
Ketika sang tokoh mulai khilaf,
Ketika wanitamu menjauh,
Ketika sosok-sosok itu mulai ingkar
Ketika mereka yang kau ikuti mulai bubar.
Hari ini juga, perbaharui niat.
Hari ini juga, hilangkan semua ketergantungan.
Hari ini juga, gantungkan semuanya hanya pada Allah.
Sebab Dialah yg kekal, yg akan membalas semua jerihmu, juga payahmu.
Dan semoga hanya maut yg memisahkan kita dari jalan ini.
Dan semoga hanya maut yang membatasi kita dari dakwah ini.
Dan semoga hanya maut yg membuat kita berhenti, beristirahat.
Dari semua lelah ini, letih ini, hingga Allah membalas semuanya dengan JannahNya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Jumat, 20 September 2013

Surat Muhammad Beltaji pada Asmaa, Putrinya yang Syahid di Rabaa Al Adawiya

Putriku tercinta dan guruku yang mulia.. Asma al-Beltaji, aku tidak mengucapkan selamat tinggal padamu, tapi kukatakan bahwa besok kita akan bertemu lagi.
Kau telah hidup dengan kepala terangkat tinggi, berjuang melawan tirani dan belenggu serta mencintai kemerdekaan. Kau telah hidup sebagai seseorang yang diam-diam mencari cakrawala baru untuk membangun kembali bangsa ini, memastikan tempatnya di tengah-tengah peradaban.
Kau tidak pernah dijajah oleh perkara sia-sia yang menyibukkan para remaja se usiamu. Meskipun pendidikan tidak mampu memenuhi aspirasi dan ketertarikan mu, kau selalu yang terbaik di kelas
Aku tidak punya cukup waktu untuk membersamaimu dalam hidup singkat ini, terutama karena waktuku tidak memungkinkan untuk menikmati kebersamaan denganmu. Terakhir kali kita duduk bersama di Rabaa Al Adawiya kau berkata padaku, “Bahkan ketika Ayah bersama kami, Ayah tetap sibuk” dan kukatakan “Tampaknya bahwa kehidupan ini tidak akan cukup untuk menikmati setiap kebersamaan kita, jadi aku berdoa kepada Tuhan agar kita menikmatinya kelak di surga.”
Dua malam sebelum kau dibunuh, aku melihatmu dalam mimpiku dengan gaun pengantin putih dan kau terlihat begitu cantik.  Ketika kau berbaring di sampingku aku bertanya, “Apakah ini malam pernikahanmu?” kau menjawab, “Waktunya adalah di sore hari Ayah, bukan malam”. Ketika mereka bilang kau dibunuh pada Rabu sore aku mengerti apa yang kau maksud dan aku tahu Allah telah menerima jiwamu sebagai martir. Kau memperkuat keyakinan ku bahwa kita berada di atas kebenaran dan musuh kita berada pada kebatilan.
Aku merasa sangat terluka karena tidak berada di perpisahan terakhirmu dan tidak melihatmu untuk terakhir kalinya, tidak mencium kening mu, dan memiliki kehormatan untuk memimpin shalat jenazah mu. Aku bersumpah demi Allah sayang, aku tidak takut kehilangan nyawaku atau penjara yang tidak adil, tapi aku ingin membawa pesan yang kau telah berkorban nyawa untuk-Nya, untuk menyelesaikan revolusi, untuk menang dan mencapai tujuannya.
Jiwamu telah dimuliakan dengan kepala terangkat tinggi melawan tiran. Peluru tajam telah membelah dadamu. Yang menurutku luar biasa dan penuh dengan kebersihan jiwa. Aku yakin bahwa kau jujur kepada Allah dan Dia telah memilihmu di antara kami, memberimu kehormatan dengan pengorbanan.

Akhirnya, putriku tercinta dan guru ku yang mulia… aku tidak mengucapkan selamat tinggal, tapi aku mengucapkan sampai jumpa kita akan segera bertemu dengan Nabi kita tercinta dan sahabat-sahabatnya di surga, dimana keinginan kita untuk menikmati kebersamaan kita akan  menjadi kenyataan. (piyungan)
__
NB: Asmaa Mohamed El Beltaji berusia 17 tahun dan adalah antara yang dibunuh pada tragedi berdarah di Medan Rab’ah (14/8/2013). Beliau adalah putri satu-satunya Mohammed El Beltaji, seorang pimpinan Ikhwanul Muslimin

Pintu Bisu

Pintu Bisu
Sumber: Baltyra.com


“Brakkkk . .” Aku kembali disentak, begitu keras. Pasti dia kembali bersedih. 
Tuh kan benar apa kataku. Dia bersedih lagi karena mereka.

“mama maunya apa sih ?” ungkap pria setengah abad berkata cukup keras.
“ha ? justru papa yang maunya apa ?” timpal seorang wanita seperempat abad. 
            Dia hanya terus menangis, setelah melabrakku begitu keras. Sambil terus mendengar kecamuk di telinganya. Kasihan dia. Begitu malang hidupnya. Orang tuanya tak lagi peduli terhadapnya. Mereka lebih memilih mempertahankan egonya masing-masing, malamnya diisi dengan perang mulut, bersisa Ali bersandar padaku, menangis sejadi-jadinya. Masih terlalu dini untuknya bersedih, mestinya saat ini dia menikmati masa-masa dimanja orang tuanya, tawa ringan bersamanya, pelukan hangat di sepanjang masa kecilnya atau sekedar perhatian kecil tentang tahun pertamanya sekolah. Namun takdir berkata lain untuknya.  
“Sampai kapan mama mau kerja di sana ? Pergi pagi buta, pulang di sepertiga malam. Aku jadi curiga” dengan nada sinis pria tadi kembali melawan. Terasa aroma amarahnya, meledak-ledak ia mengurung lawan bicaranya yang baru saja datang.
 Sejak maret tahun lalu setahuku. Tepat di depanku Ibu Ali membulatkan tekad bekerja di perusahan swasta. Sebelumnya Dia tumpahkan semua kebimbangannya di belakangku, tangisannya membuatku tercengang, Ia sempat ragu menjemput pekerjaan ini. Jam kerjanya normal seperti perusahan lain, namun lokasi perusahaan yang begitu jauh membuatnya hanya sekejap mata di rumah. Bus dan kereta api, dua hal yang merebut waktu manisnya bersama keluarga, ini harus diterimanya demi keluarganya pula. Untuk sampai di tempat kerjanya, Ia harus duduk manis di halte sejak pagi buta menunggu bis, agar sampai di terminal kereta tepat waktu. Apalagi perusahaan tempatnya bekerja menerapkan aturan jam kerja begitu ketat, telat sedetik saja bisa membuat gajinya terancam. Sempat dia berpikir untuk berhenti karena terlampau sakit meninggalkan keluarga, namun apa daya, gaji yang menggiurkan dan sulitnya mencari pekerjaan bagus di kota, membuatnya urung untuk tunduk pada pemikirannya. Aku hanya iba pada Ali. Jika Ali tak begadang semalaman suntuk menunggunya, ia hanya dapat melihatnya selepas subuh, begitu cepat. Sesaat. Bahkan terkadang hanya melihat punggung Ibunya yang terburu-buru menuruni tangga depan kamar Ali . Ibu Ali adalah sosok yang kuat, Aku menyaksikannya saat dia tidur di samping Ali, normalnya ia tidur kurang dari empat jam, sesekali ia menyeka air matanya saat memeluk Ali sembari mencoba tidur, entah apa yang ia simpan di dalam hatinya. Sejak suaminya berubah menjadi penggonggong pekerjaannya, ia jadi lebih sering tidur bersama Ali.
Sebenarnya baru belakangan ini mereka saling melempar kata-kata sinis di depanku, di depan kamar Ali. Karena sebelumnya ayah Ali menyetujui pekerjaan istrinya, bahkan sangat senang ia dapat diterima kerja. Karena dia sendiri telah mengaku tak bisa lagi bekerja. Ia frustasi. Puluhan asetnya hilang diambil alih, perusahaan-perusahaannya mandek, segala investasinya raib . Segalanya bermula saat ia berada di puncak, ia terlampau bangga, lalu jatuh hanya dengan sekali tepukan. Sahabatnya yang membersamai kerjanya menepuknya dengan tusukan dari belakang. Segala yang dimilikinya lenyap. Habis bersisa rumah warisan orang tuanya, kegilaan dan trauma mendalam di jiwanya. Aku tahu hal ini karena kesombongannya yang meledak-ledak di depanku, juga amukannya menghamburkan seisi ruang tamu, dan sekali meninjuku hingga membuat kepalannya meneteskan darah. Dan Ali pada saat itu berada di belakangku, hanya menangis sejadi-jadinya. Jangan kira Aku ini hanya pintu mati yang tak berperasaan. Bahkan Aku lebih mengerti Ali dibanding mereka ! .
“Sampai papa bekerja kembali ! “ di tatapnya dengan sangar pria itu.
“Aku juga capek kerja ini! terserah kamu mau curiga apa padaku. Tapi mau bagaimana lagi ? kita mau makan apa tanpa kerjaan ini ?” lanjutnya mulai meneteskan air mata.

“brakk . .” Ali menutupku sekeras-kerasnya, kekuatan ini tak lazim untuk anak seusianya, mungkin karena emosinya memuncak. Hendak kemana kau Ali ? tetaplah di sini, jangan hiraukan mereka. Ali jangaaann . .
Aku lupa bahwa sekuat apapun aku menahannya, tetap saja ia akan pergi. Aku hanya pintu, diam di tempat, mematung, aku tak dapat menjangkaunya, meneriakkan kata-kata untuknya, meski begitu jeli membaca hatinya. Aku bisu. Aku tak dapat menahannya.
“Papa dan mama jahat! Aku benci kalian” Kudengar dengan jelas kata-kata Ali membisukan kedua orang tuanya. Sunyi, begitu hening, tersisa isak tangis Ali yang sebenarnya dari tadi ia coba tahan. Tangan mungilnya terus berusaha menghapus air matanya. Tak lama berselang kusaksikan Ali lari sekencang-kencangnya menuju tangga . Ditinggal keduanya mematung di sana, kaku, membisu . tak ada tanggapan sedikitpun dari mereka. Hanya disaksikan anaknya berlari menuju tangga.
Aliiii jaaangaaaannn  . . . Aku melihat selang AC yang bocor mengeluarkan air tepat di ubin pertama sebelum tangga. Heyy kaliaann lihat genangan itu, Ali akan jatuh karenanya. Cepat bertindak. Kumohon . .
“blaaakkk . .”
“Aaaaaaa . . . .”  Ali menjerit sangat keras sebelum membisu, tak berdaya, entah tak bernyawa lagi mungkin. Tangis Ibunya mengisyaratkan itu, di ujung tangga, jauh dari diriku yang sendiri berlinang kesedihan. Aku memang hanya pintu, benda mati, tapi Aku lebih mengerti perasaannya. Aku selalu ada untuk dia banting, lalu bersandar di belakangku. Tempat dia menangis. Karena kalian yang tak memberinya kesempatan untuk bahagia. Sekarang dia tak lagi bernyawa, sama sepertiku. Tak ada lagi dia yang menemaniku di sini.
**
            Kini, di penghujung maret hanya ada kamu yang sesekali menangis, bersandar di belakangku. Sembari menikmati kenangan Ali dalam sebuah frame foto. Sama sepertimu Aku pun terkena pilu itu. Ali sejak dulu bersandar padaku dari semua kesedihan yang kalian buat. Andai kalian sesaat melepas ego masing-masing, demi Ali. Untuk membuatnya sedikit berbahagia sebelum dia pergi . 
Ah, bodoh ! semua sudah terlambat . Aku pun terlambat memberitahumu. Aku lupa lagi. Aku hanya benda mati. Walau berbicara tetap saja bisu olehmu. Sungguh, bisu ini begitu membelenggu

Kamis, 14 Maret 2013

Belajar Membenci



Aku membencimu !!!
Dan Dia. Juga Mereka .
Kalian semua . .
Aku muak dengan Kalian semua !!!
Kamu pertama, ,
Seperti burung yang berkicau sekenanya
Lalu lupa akan dirinya. Itu kamu !! Munafik !!
Dia,,
Kalian saudara kembar . Persis. Serupa.
Lain di mulut. Lain di hati. Lain di sikap.
PENGECUUTTT . .!!!!
Apalagi Mereka,,
Berkumpul bak gerombolan kuda nil.
Saling berbisik. Menghujat. Main belakang.
Ahh, , benci dengan semua itu !!
Dan Aku, ,
Lebih hina dari kalian semua.
Aku masih belia. Masih belajar membenci.
Bukan, ,
Bukan membenci Kalian. Tapi, ,

 Keburukan itu . . 

Rabu, 14 Maret 2012

Menghimpun Cinta

Pantai di Gowa
     
       Setiap pribadi memiliki kisahnya masing-masing, dan inilah kisahku. Tak pernah genap kami berkumpul. Maka hari ini berjudul hari yang sempurna. Seluruh personil Liqo kami lengkap hadir.
Maka tak ada yang lebih berkesan dari hari ini. Kak Puji selalu bisa menyenangkan hati ini, setelah beberapa pekan lalu sempat khawatir akan berpisah dari kelompok yang dirombak. Semoga tetap bisa bersama hingga usia menua.

Rabu, 25 Januari 2012

Di balik papan

Depan Markaz pengolahan Minyak dan gas
Ada apa di balik papan? Semut yang jalan? rayap yang menggerogoti papan hingga rapuh?
No, bukan itu. Sekarang sedang di balikpapan, Kalimatan Timur.
Ramadhan yang beda. Bapak mengajak ke Balikpapan untuk menemaninya mengisi ceramah selama beberapa hari. Lumayan bisa bolos sekolah :D .Memang aneh sekolah saat puasa. Balikpapan memang lebih maju dibanding Makasaar, apalagi Maros. JAuhhh..
Jalanan Mulus, kota bersih dan tertata. Serta orang-orang di sini dermawan semua menn . .

Oh iya, di sini lumayan bisa berguna juga. sesekali disuruh adzan :D