Kamis, 19 Juni 2014

Belajar dari sang penulis Serial Cinta

Bersama Ust. Anis, entah rumah ke berapa,  yang pasti penuh dengan buku
Perjalanan ke Jakarta bukan untuk liburan. Namun memegang misi untuk pengajuan ke MK atas pelanggaran-pelanggaran pemilu legislatif di Sulawesi Selatan. Allah berkehendak lain, kejutannya adalah saya dapat bertemu dan minta buku (hehehe )di rumah sang penulis Serial Cinta. Sebenarnya ada banyak buku yang sangat ingin kuambil, tapi sungkan. hihihi . .

Kuanggap ini bagian dari perjalanan penting atas kesibukan sebulan lebih meng"kutu"i lembar demi lembar C1 dan D1. Yakni tentang menyertakan cinta dalam setiap episode. Sebab dengan cinta, yang semula berat akan terasa ringan, yang semula sulit terasa sangat mudah. Seperti tak ada hambatan. Sertakan cinta yang utuh, yakni cintaNya, sang pemilik Cinta.

Minggu, 05 Januari 2014

Rekam Jejak Basah



                Rindu itu kembali memuncak saat melihat potongan-potongan jejak itu, saat basah memenuhi ruang rindu juga pertemuan kita. Saat itu aku hanya agresif mengajak kalian melepas penat. Begitu rapi hinggap di benak kita oleh sekelumit tugas menyebalkan gambar teknik. Tidak begitu menyebalkan sih, karena kami menyelinginya dengan canda, tawa yang menggelitik, juga persahabatan yang begitu kental. Belum sampai satu semester kita bersua di sini, namun kekentalan persahabatan ini serupa dipupuk belasan tahun lamanya, begitu memesona, sedap dipandang. Bagaimana tidak ?, di setiap sisi ruang pertemuan kita selalu dibumbuhi senyum manis, keceriaan bebalut tawa ringan nan gurih, tak ada air mata setetespun. Jejak ini terus kita rekam, agar kelak keceriaan ini berganti haru yang menyejukkan dan menjadi pelajaran berharga bagi anak cucu kita tentang arti sebuah persahabatan, pertemanan, kesetiaan, dan betapa indahnya kebersamaaan dalam meraih cita-cita.
Kini kuajak kalian merekam jejak basah saat jeda ini. Melupakan sejenak rutinitas begadang disibuki tugas yang enggan usai. Beberapa dari kalian mungkin urung untuk pergi, namun Aku tetap menunggu di kotaku, di balkon rumahku. Rintik sudah usai sejak semalaman suntuk, menyisakan genangan di beberapa permukaan yang serupa mangkok. Sesekali kuintip jalan itu, berharap kalian segera muncul, agar kita bisa mulai membuat jejak, di sini, di kotaku, yang bagiku serupa bilik antar ruang yang keindahannya hanya dirasakan oleh mereka yang memakai hatinya, dan kini akan kuajak kalian menyimak salah satu sisi di rumah dunia nyata kita, di dalam bilik kota Maros. Bantimurung, dengan filosofisnya membanting kemurungan, harapku dapat membanting semua penat kita, menggantinya dengan keceriaan, yang akan kita rekam bersama, jejak-jejak basah kita di setiap sudut wahananya. 










Dan kini, aku hanya akan terus mengajak kalian untuk me-list jadwal trip kita selanjutnya, merekam setiap jejak-jejak hangat kita, hanya di pulau yang menyerupai abjad K berkelok, di rumah kita, di kamar-kamar kita, di setiap bilik-bilik kita, kuharap cinta ini akan terus ada, tak peduli situasi sedang kacau, tak peduli suasana sedang muram, persahabatan ini akan terus mengental, tak akan cair, karena dia ada jauh tersimpan rapi di hati-hati kita. Akan terus kuabstrakkan memori jejak ini, hingga kelak kita hanya dapat tertawa dan menangis sendu bernostalgia menikmati kecemerlangan persahabatan ini.

Selasa, 31 Desember 2013

Sajak Satu Januari



Heyy, bangun !!!!
Semalam kau menunggu kehadiranku
Detik pertamaku
Begitu antusias menemuiku . .
Lalu kini ??

Bangunn kataku !!!
Baru semalam kau sangat mendambaku
Menaruh cintamu
Menaruh segala harapan untukku
Sekarang ??

Buka matamuu !!!
Baru semalam kau menyambutku
Merah biru kuning hijau hiasi hitamnya langit malam
Memecah keheningan, merusak ketenangan mereka
Yang bermunajat dan bermuhasabah
Dan kamu ???

Banguunnn !!!
Sampai kapan engkau akan seperti ini ?
Begitu semangat di detik pertamaku
Dan kini ?? Kau kembali sama . .
Seperti satu januari silam
Seluruh satu januari lampau
Hanya  mencintai detik-detik awalku
Lalu mencampakanku . .
Tak ingin melihatku . .






Sabtu, 21 Desember 2013

Sepucuk Surat untuk MR



   

Aku tak tahu harus memulai dari mana yang pasti engkaulah kontraktor yang membangun kehangatan ini. Sejak pertama kali kami melihatmu, dengan senyuman khasmu engkau memenuhi mata-mata kami, raut wajahmu yang tulus, keikhlasan kakimu dalam melangkah, engkau kemudian masuk ke dalam kehidupan kami, memulai mengisi hari-hari kami dengan pribadimu yang sungguh menawan.
            Sungguh, sejak pada pandangan pertama kami denganmu, sejak pertama kali kita melingkar cinta itu sudah ada akh. Sejak pertemuan pertama kita dalam tarbiyah ini, sejak kita duduk bersama untuk pertama kalinya, aku merasakan getaran cinta itu, aku merasa sesuatu yang hebat dan menakjubkan menghampiri kehidupan kami.
            Akhi, sungguh sepanjang perjalanan dakwah ini, sepanjang kebersamaan kita, bagiku hanya satu hal yang engkau ajarkan pada kami, satu hal yang begitu kuat dan mewakili segalanya. Adalah tentang cinta, yaa . . hakikat tentang cinta yang kau tuturkan setiap saat, tentang kedahsyatan cinta yang mengisi hati-hati labil kami, tentang kekuatan cinta yang melebihi ganasnya ombak, kekuatan cinta yang melebihi guncangan gempa, kekuatan cinta yang melumpuhkan panasnya api, dinginnya air. Kau yang mengenalkan lingkaran cinta kepada kami.

            Bahunya gemetaran cukup hebat, sesekali iya menyeka air matanya, namun lebih banyak bulir-bulir yang berjatuhan, ia melanjutkan tulisannya . .
            Akhi engkau mengajarkan seluruhnya tentang sucinya cinta. Tentang bagaimana mencintai Allah dengan sepenuh hati. Tentang mencintai Rasulullah dengan menghidupkan sunnah-sunnahnya. Tentang bagaimana mencintai orang tua kami dengan semangat birrulwalidain. Akh, aku sungguh tersentuh saat engkau mengajarkan kami untuk mencintai amal-amal yaumiah. Untuk mencintai shalat berjamaah, mencintai Al- Qur'an, mencintai puasa senin-kamis, mencintai dengan sebenar-benarnya cinta terhadap dakwah. Engkau pula yang menyadarkan kami untuk cinta kepada tarbiyah dan mengabdikan diri di dalamnya.
            Akh, memang di setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Tapi yang kurasa engkau begitu cepat pergi walau tak begitu jauh, namun kesibukanlah yang membuat kita sulit bersua. Mungkin surat ini mewakili peasaan cinta dan bangganya kami kepadamu. Terima kasih banyak atas tarbiyah cinta yang kau ajarkan, teruslah menjadi penghubung lingkaran-lingkaran, teruslah menjadi penerang di dalamnya.
Untukmu murobbi nomor satu, dari mutarabbimu yang labil.

Rabu, 23 Oktober 2013

Negeri Hijau

Potret Perjalanan- Sarapan di Alam

Merenungi NikmatNya
            Tak ada yang bisa ditaklukkan atas kuasaNya. Bahkan jika gunung berhasil kita taklukkan, Allah sendiri yang menaklukkan kita karena selalu ada yang lebih tinggi. Dari sini kita menyadari banyak hal terkait penciptaan. Betul saja jika beban Rasul sangat berat, jika ditimpakan kepada gunung maka hancur lebur gunung karena tak sanggup menerima amanah dakwah Islam ini.
           Dari perjalanan yang saya anggap "spritual" ini saya takjub atas beberapa hal, terutama atas negeri di atas awan ini. Allah telah menciptakannya sedemikian rupa sehingga tampak luar biasa megah. Masya Allah. Sungguh tak ada yang Maha kecuali Engkau.

Rabu, 02 Oktober 2013

Mimpi yang terlupa




Negeri ini tak seperti mimpi-mimpi mereka yang bergerak saat yg lain terdiam, yang diam berpikir saat yg lain terlelap, yg baru terlelap disisa-sisa kantuk yg menguap dan yang sudah terbiasa menyelinap diantara nederlaner2 serakah. Dzikirnya tak terputus, ikhtiarnya seikhlas langkah senyapnya, ibadahnya tak ujub, tak terhitung, doanya menggema di relung-relung jiwanya, lalu setiap kata yang terucap menyeru kepada jihad atas kemerdekaan bangsa ini.
Maafkanlah kami yang tak mampu menjaga mimpi kalian. 
Maafkan pemimpin kami yang mungkin lupa akan mimpi kalian.

Maafkan kekhilafan dan kealpaan kami.

Selasa, 01 Oktober 2013

Senja Esok


Senja, selalu begitu kah?
kamu pun begitu kah?
menyakiti hati sesiapa yang mencintaimu
Terlalu pedih, perih . .
Saat semburat orange-kuningmu merekah
Spekterum warna yang megah
Saat garis laut memotong suryamu
Paduan warna samudera, unik
Kamu melenakan setiap jiwa
Melemahkan setiap hati yang sudah telanjur sakit
Pun Aku, pengagum yang mengharapmu !!

Lamat-lamat kutelan ludah pahit
sudah biasa katamu . .
Ini tak seperti duniamu
Berselang beberapa menit lalu menghilang
datang besok pun begitu
datang lusa pun begitu
datang membilang hari, minggu, bulan
Bahkan tahun-tahun berganti
tetap seperti itu,
Lalu Aku yang setia menatapmu
Menunggu seuntai kata.
walau berbisik
Mohon temani Aku
dalam kegamangan yang tak berkesudah
Walau hanya isyarat hangat ronamu

Senja, engkau tetap sama kan?
Di posisi tatapanku dan tatapannya?
Kami memandangmu berjauhan, kan?
Mohon pantulkan pilu ini padanya
lewat bola mata yang telanjur basah
Sampaikan bersama hangatnya cintamu
Sampaikan kepadanya
bahwa tak ada sakit yang tak biasa
Sebiasa senja-malammu .

Senja, sepertimu yang hanya sekejap
memamerkan persona lalu tenggelam
pun Dia. Angkuhnya menebar cinta
Lalu pergi menghilang
Sampaikan kekecewaan hati ini
dalam hangat-menyengatnya pancaranmu.
Sengat dia pelan
Bisiki rindu ini sendu
Dari tempat berpijak ini Aku menunggunya
Entah sampai senja keberapa
Mungkin senja esok
Tak berbilang waktu.