Apa jadinya bocah ini saat kau tinggalkan?
Pernah, dulu, di sudut kolong rumah kita yang rapuh
Kududuk menangis sejadi-jadinya hanya karena engkau tinggal pergi
baru kutahu kini arti kepergianmu
untuk menemani mereka beragama dengan baik
mengajari mereka banyak hal
tentang keislaman
Kau tahu kini aku pun di jalan itu.
Tapi apa jadinya Aku tanpa tuntunanmu?
Bahkan saat ini hanya menangis teman terbaik
mengenang kepergianmu Cinta
teramat cepat untuk bocah sepertiku kehilangan induk
Ya Allah sampaikan air mata ini padanya.
Ibu, mama, Ummi,
baru kemarin saat engkau mengajariku berdagang
kuingat tempat es biruku, saat-saat menjual gorengan
kuingat saat engkau menggandeng tanganku ke pasar
mencari jajanan yang bisa diperjualkan
Ya Allah, sampai hari ini pun masih kuingat
saat engkau menentengku ke sana-ke mari
menghadiri majelis-majelis mengbahas Al-Quran
atau keramaian Aksi partai dakwah ini
Sangat cepat engkau pergi Cinta
Allah layak memberimu tempat nyaman di JannahNya
Tak pernah sirna dari ingatan senyum tulusmu Cinta.
Sang pemberi kasih sayang tak terbatas.
Mimpi, asa, rasa, dan dunia yang serba imaji. Serta cinta yang tak kunjung tersampaikan.
Selasa, 02 Agustus 2011
Rabu, 20 Juli 2011
Lelaki dengan satu miliyar mimpi
Sebab mimpi digratiskan maka bermimpilah setinggi dan sebanyak mungkin. Pandanglah jauh-jauh dari tempatmu berdiri Muin.
Lalu dengan kekuatan dariNya buatlah nyata semuanya tanpa terkecuali. Tak ada yang mustahil. Mulailah.
Selasa, 05 Oktober 2010
Tiga Rasa
Di saat orang-orang dengan bangga mempersembahkan cinta tulus kepada ibunya, aku masih tetap tertegun, meragu, apakah ucapan ini akan sampai kepadanya ?
Ah, tidak mungkin . .
Karena sekarang ia telah berbahagia di surga. Tak sempat
lagi menyaksikanku.
Aku pun tak sempat
menyaksikan wajahnya, aku hanya memikirkan kalimat menyakitkan dari kakakku.
“semua itu karenamu, karenamu, karenamu ibu pergi
meninggalkanku”
Mungkin memang benar, semua adalah salahku,ya . . salahku
dapat terlahir kedunia .
Untukku ibu mengabaikan nasehat dokter untuk mengaborsiku.
Ibu ingin aku dapat menyaksikan dunia ini,
ibu ingin aku
mendapat kesempatan bernafas, melihat dunia dan berbahagia di dalamnya.
Ah, bodoh sekali dia.
Tidak tahukah dia bahwa aku sama sekali tidak bahagia atas
tindakannya ?
Makhluk seperti apa dia yang rela mengorbankan nyawanya demi
aku ?
Aku pun makhluk seperti apa yang dapat diperjuangkan seperti
ini ?
Aku masih saja penasaran akan
sosoknya,
seberapa kuatkah dia ?, seberapa
hebatkah dia ?, aku ingin melihat senyumnya, maniskah dia ?, aku ingin
dipeluknya, hangatkah?, aku ingin ditimangnya, dimanjanya, dikecupnya. Ya Allah
. . Engkau tahu aku mencintainya, aku menyayanginya, sampaikan rasa cinta ini
padanya, sampaikan pula kejengkelanku padanya, sampaikan pula maafku padanya .
Aku hanya ragu dapat bertemu lagi dengannya di surga dengan tiga perasaan ini,
cinta, marah, dan menyesal .
Jumat, 16 Juli 2010
Kaishi: Permulaan
Semua bermula dari rindu yang menguap. Cinta yang tak tersampaikan. Serta banyak hal yang aneh yang baru terasa aneh. Mungkin lusa, semua akan jelas dari sini. Dari blog kusam ini.
Langganan:
Postingan (Atom)


