Rabu, 01 April 2015

Membangun Indonesia

   

Lembah Ramma

      Kita selalu menunggu sembari menyalahkan tentang siapa aktor-aktor dan apa faktor yang membuat negara ini terpuruk. Dari satu kalimat hingga menjadi beberapa paragraf kita begitu lancar menyebutkannya. Gara-gara Si dia, mereka, karena factor sistemlah, perekonomianlah, dan lain sebagainya kita sudah sangat fasih menyebutkannya. Lantas apa yang berubah dari itu semua?. Negara ini akan maju dengan saling menyalahkan?. Kita akan sepakat mengatakan tidak!.
Rasulullah sudah jauh hari mengatakan bahwa kelak ada seseorang yang tangguh yang akan mendobrak konstantinopel, dia adalah seorang  pemimpin terbaik, prajuritnya adalah yang terbaik pula. Tersirat dari hal ini adalah bahwasanya pemimpin, negara, sistem dan rakyat adalah hal yang saling terkait, semua elemen harus sama baiknya.  Ini bukan tentang saling tuding-menuding siapa dalang masalah. Sepihak mengatakan pemerintah tidak becus bertugas, sistem yang sudah tidak layak, dan pernyataan-pernyataan lain yang menyulut pertengkaran. Pertanyaan besar yang kemudian muncul adalah maukah kita keluar dari masalah kenegaraan ini? Maukah kita ikut berperan membangun kembali Indonesia kita?
Kita semua harus sepakat akan satu hal. Bahwa kita semua bertanggung jawab memajukan negara ini, menjadikan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai pedoman kita dalam bertindak,  dan menyadari bahwa perubahan itu, kemajuan itu, dimulai dari diri masing-masing. Seperti kata Anis Matta kita harus menjadi otaknya Indonesia, tulang punggung dan juga hatinya. Maka kita harus bertekad menjadi bagian dari perubahan besar ini, kemajuan pesat ini, dengan memulai mengambil peran.
1.   Berperan sebagai panutan keluarga
Bahwa kita menjadi seorang kakak yang baik bagi adik-adik kita merupakan satu peran penting. Mengajarinya sahalat, mengaji, menghafal Al-Quran, berbakti pada orangtua, Mengabdi pada agama, masyarakat, dan Negara. Kelak adik-adik kita tahu berperan sebagai kakak yang baik adalah demikian. Ini akan terus tertular, maka sepuluh, dua puluh tahun yang akan datang seluruh anak lahir sebagai kakak yang baik. Menikah, lalu membentuk keluarga dan jadilah keluarga yang baik. Kebaikan adalah bagian dari keislaman.
 
2.   Berperan sebagai “solusi” di masyarakat
Kita terlalu sering menunggu. Sedikit-sedikit menunggu, selalu demikian. Ada masalah menuggu seorang pahlawan datang lalu membereskannya. Terkadang dalam masa penantian pahlawan itu, kita terhanyut dan tidak sadar akan masalah yang kian menumpuk. Masyarakat sudah bosan. Mereka butuh solusi. Maka jadilah pahlawan itu. Jadilah “solusi” itu. Solusi atas masalah-masalah yang dililit rakyat. Bahkan menyingkirkan duri di jalan adalah tingkatan iman ‘kan? Pahala bukan?. Maka berperanlah di masyarakt dengan baik. Jadilah sebuah solusi yang nyata bagi mereka. Kelak semua orang akan meniru kebaikan itu, berekembang dan menjadilah masyarakat yang peka, peduli terhadap masalah. Setiap orang akan menjadi pahlawan bagi sesamanya. Lahirlah masyarakat yang baik. Kebaikan adalah bagian dari keislaman.
3.   Mengabdi pada bangsa
Sekelumit permasalahan negeri ini teratasi dengan hal sederhana. Mengabdi sesuai dengan keahlian dan kesanggupan kita masing-masing. Seorang Mahasiswa mengisi tarbiyah, liqo, ta’lim atau menagajar ngaji, itu sebuah peran penting. Kelak akan hadir sosok-sosok muslim yang semangat membangun negeri ini, agama ini. Seorang yang mendedikasikan waktu kuliahnya untuk membina satu desa, mengajar di sana, membantu warga di sana, itu sebuah peran penting bagi bangsa. Membantu mengatasi masalah klasik masyarakat “mengisi perut”. Atau membantu membangun jalan, membangun fasilitas umum, membersihkan lingkungan, membuat inovasi, mengajar, dan semua hal yang akan mengisis perlahan permasalahan bangsa ini. Hingga akhirnya kita semua merasakan kesejahteraan dan ketentraman hidup di negara ini dengan keluar dari masalah-masalah tersebut. Intinya adalah mengambil peran. Lahirlah bangsa yang baik. Dan kebaikan adalah bagian dari keislaman.

Selasa, 31 Maret 2015

Homushikku



Raga pun menua, layaknya buah di ujung petang, pasti akan masak. 

Pun Cinta, sejauh apapun mengembara dia akan berlabuh, matang, dewasa.
Juga hati, berapa kali tersayat?
 berapa kali merana?
 berapa kali terluka?
di ujung rasa pasti akan bertaut.
Maka semoga Cintamu berlabuh di sandaran yang Allah Berkahi.
Maka semoga Hatimu bertaut pada Hati yang Allah karuniai CintaNya.
Maka semoga Allah membimbing mata, hati, jiwa kalian dalam bingkai sakinahNya.
Maka semoga Allah membimbing hati kalian melewati cobaanNya.
Lalu Allah bukakan jalanNya menuju pelaminan yg Abadi, Surga Firdaus.
Dimana tak ada lagu sendu, lalu tak perlu ada hati yg terluka atau cinta yg tak tersampaikan.

Minggu, 29 Maret 2015

17 Tahun: Sebuah Penegasan

Meleburkan diri
17 tahun: Sebuah Penegasan. Bahwa KAMMI akan terus mengabdi untuk negeri. Bahwa KAMMI tidak akan melewatkan satu kebijakan pun. Bahwa KAMMI akan tetap pasang mata, keraskan suara, menggoreskan pena, turun ke masyarakat, pasang telinga, bahkan pasang badan demi Indonesia. Rangkaian jejak ‪#‎KAMMIUntukIndonesia‬.
‪#‎KAMMI‬'sDay ‪#‎ReuniAkbar‬ #KAMMI ‪#‎SeSulsel‬

Sabtu, 21 Maret 2015

Edisi Berbagi

Penyuluhan Sikat Gigi

Rangkaian Milad KAMMI
               Berbagi. Satu kata dengan imbuhan Ber- . Singkat namun penuh makna. Dengan berbagi justeru akan memperkaya diri. Mantap betul agama ini mengatur semuanya. Ada paragraf bijaksana mengatakan bahwa jika ingin bahagia sejenak maka bermainlah sepuasnya. Jika ingin bahagia seharian maka memancinglah seharian. Namun jika ingin bahagia selamanya dan membuat orang ikut berbahagia maka berbagilah.
                Maka berbahagialah saat Allah memberi kesempatan berbagi. Karena saat senyum-senyum merekah dari wajah-wajah mereka, ada kebahagian tersendiri, yang sulit dijelaskan. Semacam vitamin untuk terus menebar senyum.
*Catatan perjalanan

Kamis, 12 Februari 2015

Penjaga Al- Aqsho







Jundi-jundi Al-Quds


Jarak tak akan pernah menghalangi Cinta bertemu, hati berlabuh.

Maka ketika mereka mencintai Aqsho dengan menjaganya menggunakan jasad mereka, jiwa mereka, bahkan nyawa mereka. Maka kita menjaganya dari sini, Indonesia. Tak ada masalah pada jarak. Cinta ini tetap sampai kepada Al-Aqsho tercinta beserta pelindungnya di sana. Walau tetaplah Allah menjadi pelindung terkuat, Dialah yang Maha.


Selasa, 03 Februari 2015

Menyelami Kebersamaan

Bira Beach



Setelah semua tugas tertunaikan, dapatlah kita melepas penat setelah sekian lama terkekang oleh setumpuk tugas yang membosankan, membuat kepala pening, dan galau karena libur tak kunjung terlihat batang hidungnya. Perjalanan seharian ditempuh demi menikmati panorama pantai Bira, Bulukumba. Perjalanan yang cukup melelahkan, namun dihibur dengan indahnya kota Bantaeng, tegar berdirinya Gunung Lompo Battang, takzim. Sebuah kesyukuran yang teramat dalam. Dan . .
        Welcome to Bira and Bara Beach. Luar biasa menakjubkan. Allah memang Maha Kreatif.

Kamis, 22 Januari 2015

Catatan Perenungan 2



Mencintai Jalan ini.
             

                Kesempurnaan sebuah cinta terletak pada orientasinya dan sebaik-baik cinta adalah yang bertaut karena Allah. Cinta dari Allah kita tebar ke bumi hingga menjelma amal. Bisa menjadi kepedulian terhadap kaum terpinggirkan, menjadi sedekah bagi ia yang membutuhkan, menjadi nasehat bagi ia yang lemah, menjadi obat bagi sesiapa yang kesakitan. Begitulah kuasa Cinta dariNya. Luar biasa memang. 
             Saat yang lain menganggap cinta dalam artian sempit, bahwa cinta adalah wujud dari pemuasan nafsu duniawi, maka hadirlah ke muka bumi aktivitas pacaran, sayang-sayang palsu. Namun kita memilih jalan berbeda, terjal dan berliku, sangat jauh dari kata nyaman. Ialah jalan dakwah ini. Memang sulit untuk dimengerti mengapa memilih jalan ini, jalan para pejuang, jalan di mana Rasulullah mencurahkan segenap hatinya, jiwanya, raganya, waktunya, serta bersedia menanggung beban yang begitu berat. Tak ada alasan yang lebih kuat melebihi Cinta. Cinta Rasul kepada sang Pencipta.
           Maka menjadi perenungan atas Cinta yang masih tanggung atas jalan ini. Atas cinta yang masih setengah matang ini. Jadikan jalan ini menjadi takdir kita yang terindah, bagaimanapun beratnya amanah yang harus ditanggung di dalamnya. Bagaimanapun sakit yang harus diderita. Sebab Cinta pada dakwah ini akan dijaga oleh Allah, disaksikan para malaikatNya, juga RasulNya yang tersenyum bahagia menyaksikan kita menjaga keberlangsungan dakwah ini.
 

            Tetaplah pada jalan ini. Jalan para pejuang-pejuang Al-Haq