Mimpi, asa, rasa, dan dunia yang serba imaji. Serta cinta yang tak kunjung tersampaikan.
Sabtu, 26 Juli 2014
10 Terakhir Bulan Cinta
Setelah sehari berjalan mengelilingi kota Pattani kami memutuskan untuk
I'tikaf di mesjid Pakistan yang terletak di tengah kota Pattani.
Rabu, 23 Juli 2014
Pattani dan Petani
![]() |
| Simbol Perlawanan Rakyat |
Ya Allah terima kasih atas hadiahMu di bulan penuh berkah ini. Perjalanan menakjubkan Malaysia- Hat Yai, lalu Hat Yai- Pattani, Thailand. Sungguh Allah penuh kejutan. Perjalanan menempuh waktu 8 jam untuk sampai ke Hat Yai menggunakan Bus. Tak ada jalanan dengan "lesung pipi" semuanya mulus. Dan Lancar, tak ada macet sedikitpun. Lalu dari Hat Yai naik minibus untuk sampai ke Pattani, daerah mayoritas muslim di Thailand. Allahu Akbar. Negeri hasil tani yang amat kaya. Negeri Petani. Memang itu asal kata Pattani. Simbol Meriam adalah simbol perlawanan atas penjarahan militer thailand yang bersekongkol dengan Inggris pada masa silam. pattani sejatinya merupakan negeri melayu di perbatasan Malaysia. Muslim Tulen. Namun penghianatan Militer Thailand, padahal pattani telah membantunya melawan kamboja(kalau tidak salah ingat). Justeru dibalas dengan penjajahan bersama Inggris. Maka jadilah pattani bagian dari Thailand
Tak seperti di Indonesia, di sini sangat dapat dibedakan muslim dan non muslim. Dari pakaiannya, semua muslimah akan terlihat memakai Jilbab. Sungguh luar biasa. Tak ada keraguan pada muslimah untuk tidak mengenakan hijab. Berbeda jauh dengan muslimah di Indonesia yang masih ada yang enggan berjilbab.
Pertanian merupakan mata pencaharian mayoritas rakyat Pattani. Kelihaian dan ketekunan menghasilkan produk-produk alam yang luar biasa berkualitas. Dari Beras terbaik, langsat termanis, durian montong, dan banyak sekali sayur-mayur segar dan buah-buahan bergizi tinggi. Negeri ini amatlah subur. Subhanallah.
Selasa, 22 Juli 2014
Negeri Ipin Upin
![]() |
| Sehari di Malaysia Sebelum ke Thailand |
![]() |
| KLIA Express |
![]() |
| Bandara Malaysia |
Catatan perjalanan bersama Ust. Luthfi. Perjalanan melelahkan dari Bandara Internasional Sultan Hasanuddin- Bandara Internasional Soekarno Hatta- Bandara Internasional Kuala Lumpur Malaysia. Di bandara, sempat berlarian untuk bisa mendapatkan tiket kloter terakhir perjalanan Bandara-Puduraya naik kreta ekspres. Alhamdulillah dapat. Dijemput di Malaysia oleh seorang Ikhwan, dijamu makan malam (setelah di bandara hanya berbuka roti) dengan menu roti lagi(tapi beda rasa) dan teh tarik. Nginap di hotel dekat tempat makan. Bersih, rapi, resepsionisnya ramah. Tidur dengan nyenyak untuk bangun sahur. Tak ada perbedaan waktu antara Malaysia-Makassar, hanya saja jam 7 Makassar adalah jam 6 nya Malaysia. Pagi buta orang Melayu sudah keluar bertebaran di muka bumi mencari rezki yang halal. Semoga ketemu Upin Ipin hehehe ^^
Kamis, 19 Juni 2014
Belajar dari sang penulis Serial Cinta
![]() | |||
| Bersama Ust. Anis, entah rumah ke berapa, | yang pasti penuh dengan buku |
Perjalanan ke Jakarta bukan untuk liburan. Namun memegang misi untuk pengajuan ke MK atas pelanggaran-pelanggaran pemilu legislatif di Sulawesi Selatan. Allah berkehendak lain, kejutannya adalah saya dapat bertemu dan minta buku (hehehe )di rumah sang penulis Serial Cinta. Sebenarnya ada banyak buku yang sangat ingin kuambil, tapi sungkan. hihihi . .
Kuanggap ini bagian dari perjalanan penting atas kesibukan sebulan lebih meng"kutu"i lembar demi lembar C1 dan D1. Yakni tentang menyertakan cinta dalam setiap episode. Sebab dengan cinta, yang semula berat akan terasa ringan, yang semula sulit terasa sangat mudah. Seperti tak ada hambatan. Sertakan cinta yang utuh, yakni cintaNya, sang pemilik Cinta.
Minggu, 05 Januari 2014
Rekam Jejak Basah
Rindu
itu kembali memuncak saat melihat potongan-potongan jejak itu, saat basah
memenuhi ruang rindu juga pertemuan kita. Saat itu aku hanya agresif mengajak
kalian melepas penat. Begitu rapi hinggap di benak kita oleh sekelumit tugas
menyebalkan gambar teknik. Tidak begitu menyebalkan sih, karena kami
menyelinginya dengan canda, tawa yang menggelitik, juga persahabatan yang
begitu kental. Belum sampai satu semester kita bersua di sini, namun kekentalan
persahabatan ini serupa dipupuk belasan tahun lamanya, begitu memesona, sedap
dipandang. Bagaimana tidak ?, di setiap sisi ruang pertemuan kita selalu
dibumbuhi senyum manis, keceriaan bebalut tawa ringan nan gurih, tak ada air
mata setetespun. Jejak ini terus kita rekam, agar kelak keceriaan ini berganti
haru yang menyejukkan dan menjadi pelajaran berharga bagi anak cucu kita
tentang arti sebuah persahabatan, pertemanan, kesetiaan, dan betapa indahnya
kebersamaaan dalam meraih cita-cita.
Kini kuajak
kalian merekam jejak basah saat jeda ini. Melupakan sejenak rutinitas begadang
disibuki tugas yang enggan usai. Beberapa dari kalian mungkin urung untuk
pergi, namun Aku tetap menunggu di kotaku, di balkon rumahku. Rintik sudah usai
sejak semalaman suntuk, menyisakan genangan di beberapa permukaan yang serupa
mangkok. Sesekali kuintip jalan itu, berharap kalian segera muncul, agar kita
bisa mulai membuat jejak, di sini, di kotaku, yang bagiku serupa bilik antar
ruang yang keindahannya hanya dirasakan oleh mereka yang memakai hatinya, dan
kini akan kuajak kalian menyimak salah satu sisi di rumah dunia nyata kita, di
dalam bilik kota Maros. Bantimurung, dengan filosofisnya membanting kemurungan,
harapku dapat membanting semua penat kita, menggantinya dengan keceriaan, yang
akan kita rekam bersama, jejak-jejak basah kita di setiap sudut wahananya.
Dan kini, aku
hanya akan terus mengajak kalian untuk me-list
jadwal trip kita selanjutnya, merekam
setiap jejak-jejak hangat kita, hanya di pulau yang menyerupai abjad K
berkelok, di rumah kita, di kamar-kamar kita, di setiap bilik-bilik kita,
kuharap cinta ini akan terus ada, tak peduli situasi sedang kacau, tak peduli
suasana sedang muram, persahabatan ini akan terus mengental, tak akan cair,
karena dia ada jauh tersimpan rapi di hati-hati kita. Akan terus kuabstrakkan
memori jejak ini, hingga kelak kita hanya dapat tertawa dan menangis sendu
bernostalgia menikmati kecemerlangan persahabatan ini.
Selasa, 31 Desember 2013
Sajak Satu Januari
Heyy, bangun !!!!
Semalam kau menunggu kehadiranku
Detik pertamaku
Begitu antusias menemuiku . .
Lalu kini ??
Bangunn kataku !!!
Baru semalam kau sangat mendambaku
Menaruh cintamu
Menaruh segala harapan untukku
Sekarang ??
Buka matamuu !!!
Baru semalam kau menyambutku
Merah biru kuning hijau hiasi hitamnya langit malam
Memecah keheningan, merusak ketenangan mereka
Yang bermunajat dan bermuhasabah
Dan kamu ???
Banguunnn !!!
Sampai kapan engkau akan seperti ini ?
Begitu semangat di detik pertamaku
Dan kini ?? Kau kembali sama . .
Seperti satu januari silam
Seluruh satu januari lampau
Hanya mencintai
detik-detik awalku
Lalu mencampakanku . .
Tak ingin melihatku . .
Sabtu, 21 Desember 2013
Sepucuk Surat untuk MR
Aku tak tahu harus memulai dari mana yang pasti engkaulah
kontraktor yang membangun kehangatan ini. Sejak pertama kali kami melihatmu,
dengan senyuman khasmu engkau memenuhi mata-mata kami, raut wajahmu yang tulus,
keikhlasan kakimu dalam melangkah, engkau kemudian masuk ke dalam kehidupan
kami, memulai mengisi hari-hari kami dengan pribadimu yang sungguh menawan.
Sungguh, sejak pada pandangan
pertama kami denganmu, sejak pertama kali kita melingkar cinta itu sudah ada
akh. Sejak pertemuan pertama kita dalam tarbiyah ini, sejak kita duduk bersama
untuk pertama kalinya, aku merasakan getaran cinta itu, aku merasa sesuatu yang
hebat dan menakjubkan menghampiri kehidupan kami.
Akhi, sungguh sepanjang perjalanan
dakwah ini, sepanjang kebersamaan kita, bagiku hanya satu hal yang engkau
ajarkan pada kami, satu hal yang begitu kuat dan mewakili segalanya. Adalah
tentang cinta, yaa . . hakikat tentang cinta yang kau tuturkan setiap saat,
tentang kedahsyatan cinta yang mengisi hati-hati labil kami, tentang kekuatan
cinta yang melebihi ganasnya ombak, kekuatan cinta yang melebihi guncangan
gempa, kekuatan cinta yang melumpuhkan panasnya api, dinginnya air. Kau yang
mengenalkan lingkaran cinta kepada kami.
Bahunya gemetaran cukup hebat,
sesekali iya menyeka air matanya, namun lebih banyak bulir-bulir yang
berjatuhan, ia melanjutkan tulisannya . .
Akhi engkau mengajarkan seluruhnya tentang
sucinya cinta. Tentang bagaimana mencintai Allah dengan sepenuh hati. Tentang
mencintai Rasulullah dengan menghidupkan sunnah-sunnahnya. Tentang bagaimana
mencintai orang tua kami dengan semangat birrulwalidain. Akh, aku sungguh
tersentuh saat engkau mengajarkan kami untuk mencintai amal-amal yaumiah. Untuk
mencintai shalat berjamaah, mencintai Al- Qur'an, mencintai puasa senin-kamis,
mencintai dengan sebenar-benarnya cinta terhadap dakwah. Engkau pula yang
menyadarkan kami untuk cinta kepada tarbiyah dan mengabdikan diri di dalamnya.
Akh, memang di setiap pertemuan
pasti ada perpisahan. Tapi yang kurasa engkau begitu cepat pergi walau tak
begitu jauh, namun kesibukanlah yang membuat kita sulit bersua. Mungkin surat
ini mewakili peasaan cinta dan bangganya kami kepadamu. Terima kasih banyak
atas tarbiyah cinta yang kau ajarkan, teruslah menjadi penghubung
lingkaran-lingkaran, teruslah menjadi penerang di dalamnya.
Untukmu murobbi nomor satu, dari mutarabbimu yang labil.
Langganan:
Postingan (Atom)

















